TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 45. Family 3


__ADS_3

"Ohh Kakakmu?" Aku memberitahu Louis permintaan Kakak.


"Iya dia bilang dia mau bertemu denganmu. Sampai pertengahan minggu depan dia ada di NY. Bisakah kau meluangkan waktu untuk bicara dengannya." Aku bergelayut di lengannya saat dia sudah duduk di sampingku.


"Iya tentu. Aku akan meneleponnya. Akhir pekan oke, aku akan mengajaknya makan siang atau makan malam nanti." Louis langsung menyetujuinya tanpa ada keberatan. "Kau bicara tentang kita, apa tanggapannya." Nampaknya Louis sedikit khawatir juga dengan tanggapan Kakak.


"Kakakku baik, kau jangan khawatir. Dia hanya ingin mengenalmu. Aku sudah cerita tentang latar belakangmu, dia tak keberatan, dia jelas lebih menghargaimu daripada mantan tercelaku itu." Kuceritakan apa yang dilakukan Kakakku dengan menaruh perusahaan mantanku dalam tanganku.


"Kakakmu sangat menyayangimu ternyata. Kau pantas mendapatkan pembalasanmu."


"Iya aku beruntung memiliki mereka dan memilikimu." Dia yang tersenyum dengan kata-kataku.


"Kurasa aku yang beruntung memilikimu." Dia merangkulku dan mencium keningku. Rasa bahagia dan terlindung ini tak bisa digantikan oleh apapun.


"Kau mau ke London menemaniku nanti? Mungkin kita bisa bertemu Ayah dan Ibu. Kau mau bertemu Ayah dan Ibuku?" Dia sekarang tersenyum.


"Julie, kau harus tahu Kakakmu saja aku belum melewatinya. Setidaknya.aku harus punya orang yang mempercayaiku Julie. Ujian pertama saja aku belum lulus, setelah ini kita akan putuskan oke, sebaiknya aku lewati dulu pagar pertama." Aku tertawa. "Gary itu tak akan bisa menggangumu lagi bukan? Jika dia berani macam-macam akan kukirimkan tukang pukul untukmu. Tenang saja kita lakukan diam-diam tanpa bekas. Kau tinggal pesan mau separah apa kau menghajarnya. Aku punya banyak orang ahli melakukan hal seperti itu." Louis melanjutkan.

__ADS_1


"Uhh gan*gster, kau menakutkan." Aku senang dia bisa mengatakan itu, walaupun aku sebenarnya hanya ingin membuang ingatan tentang Gary ke Palung Marianna dan tak pernah mengingatnya lagi.


"Siapa suruh kau mau jadi pacarku." Sekarang dia menciumku.


"Aku suka gangster baik hati, tapi dia hanya baik padaku. Dan hanya milikku." Dan aku membalas ciumannya dengan segera dan dengan cepat semuanya memanas.


"Kau suka mempercepat apapun dan mengendalikan situasi bukan." Jariku menari diatas kulit panasnya.


"Kau keberatan jika aku yang bekerja." Dan sekarang tanganku mengurut bagian dari tubuhnya dibawah sana yang sangat kusukai, dengan cepat menunjukkan reaksinya. Aku suka erangannya dan pelukannya yang mengerat.


"Aku tak keberatan." Tapi dia membalikku di bawah sekarang dan menyerbu lekuk leherku.


"Apa kau takut aku sama seperti Gary." Dia bertanya di tengah ciuman kami. "Kau ingin aku ke London untuk membalasnya?"


"Tak ada yang suka patah hati, jika kau mematahkan hatiku aku tak tahu apa aku bisa percaya lagi pada cinta. Yang aku inginkan hanya berjalan bersama dan punya seseorang untuk pulang. Aku tak ingin membicarakan Gary lagi. Hanya ingin punya rumah itu saja, aku juga bermimpi punya keluarga sebelum aku kemudian lama menguburnya."


"Punya keluarga? Apa itu termasuk seorang anak?"

__ADS_1


"Kukira iya..." Anak dulu bersama Gary tentu saja aku menginginkannya sampai sekarang juga iya karena keluarga yang kumiliki, rasanya keluarga yang bahagia dengan anak-anak, keponakan. Ditambah kakakku yang baik hati. "Apa kau tak ingin seorang anak. Aku sering melihat keponakanku. Kurasa hal yang menyenangkan mempunyai bayi."


"Jika kau menginginkan itu, kau harus berhenti dari pekerjaan khususmu."


"Iya aku tahu. Mungkin di saat kita berdua sudah siap."


"Aku siap sekarang." Bukan menjawab pertanyaanku tapi untuk hal lain di bawah sana dan memicu eranganku sekarang.


"Kau selalu siap untuk hal itu." Aku mendorongnya berpura-pura menolaknya dan berakhir dia mengunci tanganku ke belakang.


"Lihat dirimu, siapa yang selalu mulai duluan. Kau harusnya mengoreksi perkataanmu itu agar lebih adil. Kau suka bermain jadi korban?" Sekarang dia menguasai tubuhku, memaksakan bagian dari dirinya menembus inti tubuhku, aku mengerang menyebut namanya. "Kau suka dipaksa sayang?" Dia membuat sentakan yang terasa menyenangkan untukku.


"Aku suka." Rasanya memang luar biasa, saat kau bersama candumu yang kau cintai.


"Aku menyerah kalah saja, apa lagi yang bisa kulakukan." Dia menciumku sebagai balasan perkataanku dan mulai serius dengan apa yang dilakukannya.


"Louis... jangan berhenti." Sebuah perasaan yang kukenal, membuatku melambung ke awan tinggi sekarang.

__ADS_1


"Love you sweetheart." Sebuah kecupan menyentuhku dengan manis. Membuat penutup malam itu menjadi mimpi indah.


__ADS_2