
Aku ingin kembali ke Shing Wang Corp, aku tak bisa membiarkan Mama sendirian di Hongkong, pikiran itu menguat beberapa hari ini.
"Mama, aku akan kembali ke perusahaan. Tapi aku perlu membereskan pekerjaan di Shanghai dulu. Kami akan membuka cabang baru di Beijing. Aku perlu menemukan orang yang tepat karena Lu Qin akan fokus ke Beijing."
"Kau yakin Cherrie? Mama dan Pamanmu bisa..."
"Aku anak pertama Mama, tak akan kubiarkan Mama menghadapi wanita ular dan keluarga Chow itu sendirian." Kugenggam tangannya.
"Baiklah, tanggal 25 bulan depan, ada pertemuan para pemegang 100 pemegang saham teratas, Mama dan Pamanmu akan berusaha mengamankan posisi disini."
"Iya baiklah." Mama mau mengganti CEO perusahaan dalam enam bulan kedepan setelah
Aku kembali ke Hongkong dalam waktu sebulan ini aku harus melepaskan operasional Shanghai ke seseorang yang bisa kupercaya dulu. Sementara aku kembali ke jabatan fungsional di Shing Wang Corp.
Dan satu lagi, aku harus mendapatkan dukungan. Mama bilang keluarga Chow bersedia membantu kami. Ini artinya mungkin aku bisa meminta bantuan Kak Cheng. Siapapun yang mendampingiku harus disetujui oleh keluarga dan bisa mendukung keluargaku. Aku mengambil pilihanku sekarang aku akan meminta bantuannya secara pribadi, dengan kemauanku sendiri, tapi aku harus memastikan apa dia bersedia untuk ini. Karena jika tidak aku akan mundur.
Aku memilih Flair di Ritz Carlton, menunggunya di antara kelip lampu kota Shanghai, baru kali ini rasanya aku takut seperti ini. Takut menyerahkan hidupku, takut aku melakukan sesuatu yang mempermalukan diriku sendiri.
Aku hanya tahu dia duda, entah dia sudah punya wanita lain atau belum, aku tak tahu. Tapi ini bentuk tanggung jawabku sebagai anak pertama, tidak aku tak akan membiarkan Nathan Chow dan gadis 19 tahun itu mengambil sorotan. Tidak semudah itu membiarkan Mama kalah.
Jadi disinilah aku malam ini dengan gaun putihku menagih janji makan malam dengannya. Aku tak minta dia menjemputku, aku hanya mengajaknya makan malam disini dan dia setuju dengan mudah.
'Aku sudah sampai, sebentar aku naik ke atas."
Aku melihat pesannya sampai ke ponselku. Udara cukup dingin Shanghai di sore Oktober ini membuatku bersyukur aku memakai casual gown berlengan panjang ini, sementara jantungku berpacu nervous dengan apa yang terjadi di jam-jam di depanku.
Apa aku terlihat berlebihan dengan dandananku, apa aku cukup elegan. Aku tak pernah mengkhawatirkan semua ini, tapi sekarang aku bertanya-tanya dengan jantung berdebar karena gugup.
Aku melihatnya, melambaikan tanganku dan dia melihatku disini.
"Hallo, ..." Dia melihat gaunku dan mungkin aku memakai accesories yang sedikit glamor, dia hanya memakai kemeja dan jaket formal. Kelihatan dia baru dari kantor tidak menyiapkan dirinya secara khusus, sementara aku terlihat seperti mempersiapkan ini. "Kau terlihat cantik, kurasa aku salah kostum disini... Apa kita merayakan sesuatu?" Harusnya aku tak memakai aksesories anting ini sedikit berlebihan seperti untuk makan malam formal.
"Tidak, aku terbiasa memakai ini...Tadi ada pertemuan dengan kolega di kantor, Shanghai di pandanganku suka yang agak sedikit ramai. Duduklah di sebelahku Kak Cheng." Aku mencari alasan. Meja yang agak lebar dan rendah itu membuatku sulit mengatakan sesuatu secara pribadi, jadi aku memilih memintanya duduk di sebelahku.
"Oke baiklah, kenapa aku melihatmu agak aneh hari ini. Kau baik-baik saja..." Dia masih memperhatikanku aku mencoba tersenyum
"Aku baik..." Aku tak yakin baik-baik saja dengan jantungku yang memompa darah terlalu kencang ini. "Kita pesan makanan dulu?" Tapi aku mencoba tersenyum.
"Oke." Kami memesan yang kami inginkan, aku hampir merasa tak lapar karena nervous. Untunglah otakku masih berjalan untuk sekedar membuat percakapan ringan diantara kami.
"Kau kembali ke Shanghai setelah ini?" Mungkin dia berpikir ini semacam makan malam perpisahan, aku menunaikan janjiku untuk membalas makan malam dengannya. Dia tetap berlaku manis dan sopan. Sementara aku kebat kebit dengan apa yang dilakukannya dengan perkataanku selanjutnya.
"Ah iya, aku perlu mengatur beberapa hal sebelum melepaskan Shanghai ke Direktur Operasional yang baru, sementara kolegaku pindah ke kantor baru di Beijing."
"Kau punya orangnya?"
"Iya, aku punya calon yang akan dipromosikan. Jadi mungkin tak terlalu sulit peralihannya.
"Baguslah jika begitu. Jadi bulan depan kau akan kembali ke Hongkong."
"Iya, aku akan kembali ke jabatan fungsional lagi. Dulu aku dari awal di keuangan dan kurasa akan tetap begitu."
"Bagus untukmu, jadi Nathan Chow sekarang pacaran dengan adikmu, kau akan menghadapinya sendiri di sana. Kau pasti bisa..." Dia membesarkan hatiku. Aku diam dan tersenyum, menatap matanya.
"Kak Cheng, ..."
"Ya?"
"Sebenarnya aku ingin minta tolong."
"Oke, katakan." Dia mengangkat alisnya, heran. Aku hampir tak berani menatap langsung matanya. Padahal dia santai saja duduk bersandar dan menatapku seperti biasa.
Aku harus mengumpulkan keberanianku bicara. Aku memikirkan banyak cara mengatakan ini, tapi tetap sampai detik ini aku tak bisa memutuskan apa yang harus kukatakan.
Aku menghela napas panjang.
__ADS_1
"Apa ini hal yang sangat sulit dikatakan? Kau terlibat masalah besar?" Sekarang dia menatapku lekat.
"Tanggal 25...." Aku salah memulai, harusnya aku tak memulai dari tanggalnya. "Sorry ini salah,... " Dia tertawa melihatku menggulang kalimatku.
"Cherrie, ada apa denganmu, biasanya kau bicara lugas dan terus terang tanpa takut apapun, jika aku bisa membantu akan kubantu, kenapa kau begini takut." Aku melihatnya tersenyum rasa takutku berkurang. "Oke tanggal 25, ada apa tanggal 25 itu dua minggu lagi..."
"Tanggal 25..." Aku ingin mengucapkannya tapi tertahan. Apa aku harus mengatakannya dari cerita Ibunya yang menawarkan bantuan tersirat, tapi ini menyangkut hidupku, aku ingin ini jadi permintaan pribadi, jika dia menyetujuinya secara pribadi, ... tapi sialnya bahkan kami baru 4 kali bertemu.
"Iya, katakan kenapa dengan tanggal 25?"
"Tanggal 25 ada pertemuan tahunan Shing Wang Corporation, bisakah kau menjadi partnerku." Aku mengatakannya dalam satu tarikan nafas dengan menatap matanya. Dia nampaknya sama sekali tak menyangka apa yang aku ucapkan. Tapi boom sudah dijatuhkan dan aku tak bisa menarik lagi kata-kataku.
"Menjadi partnermu?" Dia masih mencerna kata-kataku.
"Ini permintaan pribadi, jika Kak Cheng tidak bersedia maka hal ini tetap akan disini saja. Tidak ada seseorang pun tahu soal ini selain kita."
Dia masih tak bicara.
"Aku mendengar Ibu Kak Cheng, pernah mengatakan dia akan membantu dengan tersirat dari Mama, aku perlu partner untuk berdiri, Shing Wang terbagi dua, ini mungkin bisnis tapi juga bisa jadi personal, aku tak tahu posisi Kakak sekarang..., aku tahu resiko permintaan ini, tapi jika Kak Cheng tidak mau terlibat, aku tak akan meminta lagi. Tak akan ada yang tahu soal permintaan ini."
Aku menatapnya yang masih diam. Kumohon katakan sesuatu padaku.
"Cherrie,... partner, kau memintaku keluarga terlibat di pertarungan dengan Ayahmu dan keluarga Chow, dan maksudmu personal...?"
"Aku bersedia menjadi ... jaminan ...keluarga kita tak merugikan satu sama lain. Aku sadar Kak Cheng tak bisa memutuskan ini sendiri, tapi ini baru permintaan personal, jadi jika Kak Cheng tak mau permintaan ini tak ada."
Dia diam lagi. Kali ini tak menatapku tapi menatap kelap-kelip gedung di depan sana. Aku tak berani bicara dan menunggunya saja, debaran jantungku membuatku gila. Permintaan ini terlalu tiba-tiba aku tahu itu.
"Kau menyukaiku? Karena kau bilang ini personal?" Aku kaget ketika dia tiba-tiba bertanya. "Maaf, ... aku tak menyangka kau mengatakan hal seperti ini."
"Aku merasa Kak Cheng baik... Aku tak tahu soal suka, entahlah ... Mungkin. Gosh, ini memalukan." Aku tertawa canggung dan membuang pandanganku ke tempat lain.
"Kau belum tahu lebih banyak tentangku, bagaimana kau memutuskan ini, bagaimana jika aku tidak sebaik yang kau bayangkan."
"Apa sesuatu terjadi saat kau di Paris, Nathan mengatakan sesuatu yang membuatmu marah? Apa dia mengasarimu? Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah dari tidak ingin mencampuri perselisihan keluarga sampai kau berani memintaku menjadi partnermu?"
Aku tak menjawab, apa haris kukatakan ini. Motivasi bukan aku menyukai dia di pilihan pertama. Kemungkinan besar dia akan menolakku bukan?
"Permintaan ini terlalu besar, aku salah Kak Cheng, mungkin Kak Cheng sudah punya pacar. Aku minta maaf, sebaiknya aku pergi saja, akan kuselesaikan tagihannya." Aku beranjak dengan putus asa dan malu. Dia memegang tanganku menahan aku tak beranjak.
"Tunggu dulu, bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi. Duduklah..." Aku duduk kembali. "Jadi apa Nathan melalukan sesuatu?"
"Tidak ada, hanya saat kemarin aku di Hongkong, Ibuku di hina oleh perempuan itu dan anaknya, mereka bilang, CEO selanjutnya adalah Nathan dan yang menjadi istrinya adalah anaknya." Aku menghela napas. "Aku tahu ini sangat berlebihan, mungkin Kak Cheng sudah punya kekasih, langsung katakan tidak saja disini tak apa. Aku tak akan sakit hati atau apapun..."
"Tidak, aku belum punya pacar." Dia malah tersenyum.
"Ohh." Aku menatapnya. "Itu bagus." Dia meringis, tiba-tiba aku ingin tertawa, ini memalukan sekaligus lucu.
"Kau tak punya pacar?" Sekarang dia yang bertanya diantara udara yang sudah mulai mendingin di luar sini.
"Tidak." Aku menyilangkan lenganku. Walaupun ini baju lengan panjang aku tetap kedinginan. Dia melihat gerak-gerikku.
"Kau kedinginan?" Dia membuka jaketnya dan menyampirkannya padaku. Kehangatan tubuhnya masih tertinggal di sana, wangi parfumnya tercium olehku.
"Ini, ..." Jadi dia yang tak memakai jaket, aku harusnya memilih restoran tertutup saja, tapi aku suka pemandangan langit Shanghai ini.
"Tak apa kemejaku tebal." Aku tersenyum, dia orang yang perhatian bukan. Kami berbeda mungkin sekitar 6-7 tahun, sedangkan dengan Nathan kukira hanya 1-2 tahun.
"Terima kasih."
Kami duduk bersisian di sana.
"Kenapa kau belum punya pacar?"
"Hmm... entahlah kurasa dulu aku gangster terkenal, tak ada pria yang berani padaku kecuali dia gangster juga dan aku tak punya kemampuan membullynya." Sekarang dia tertawa.
"Aku pernah mendengar kau menghancurkan karier seorang bintang remaja dulu kurasa, putri Wong Lee Man setara dengan reputasi Ayahnya. Sangat mengagumkan... Tapi kenapa saat bertemu denganmu sekarang kurasa kau tak seburuk itu. Apa yang terjadi, aku penasaran kemana gadis gangster itu..." Aku tersenyum, ternyata dia tahu reputasiku.
__ADS_1
"Aku bertemu keluarga baik hati yang menerimaku, pandanganku berubah, aku jadi tahu sesuatu yang baik, yang dulunya kupikir menjadi baik itu buruk dan sia-sia, ternyata aku salah, aku memaafkan masa laluku yang begitu kacau, menerima apa yang terjadi dan mengerti dunia tidak selalu sempurna. Aku berusaha mempunyai empati dan simpati yang lebih baik..."
"Ada yang berubah nampaknya. Keluarga baru?"
"Iya keluarga baru, mungkin nanti akan kukenalkan padamu."
"Itu kelihatannya bagus, ..."
"Iya, memang bagus, memaafkan dan merasa lebih baik setelahnya. Perjalanan yang panjang untuk sampai kesana."
"Ya setiap orang bisa berubah, dengan kemauan dan kesadarannya sendiri."
Pembicaraan menjadi tenang, aku duduk di sampingnya dengan tenang, tampaknya orang di sebelahku juga mengerti lebih banyak tentang kebijaksanaan hidup, aku merasa tak bisa membullynya dari awal. Tapi dengan Nathan, rasanya aku dan dia sama-sama di level dengan tegangan tinggi.
"Apa Kak Cheng akan mengatakan tidak, katakan saja secepatnya agar aku bisa melakukan sesuatu yang lain. Aku harus membantu Mama, aku tahu motivasiku salah, tapi aku juga akan berusaha membuat ini berjalan dengan baik, entahlah aku tak tahu, aku tak bisa merayu pria, aku hanya bisa membuat kesepakatan dan memaksa, aku memang gadis yang buruk..." Dia malah tertawa sekarang. Apa yang lucu dari itu.
"Kakak, ..." Aku mendorong bahunya karena dia masih tertawa.
"Ya baiklah,..."
"Apa yang baiklah?" Dia masih tersenyum melihatku, sebenarnya apa yang ada dipikirannya.
"Aku mengerti apa yang kau pikirkan. Tapi aku perlu waktu untuk memutuskan ini, karena jika aku setuju aku harus menanggung sesuatu. Jadi beri aku waktu..."
"7 hari, jika tidak langsung katakan saja... Aku tak akan protes apapun."
"Jika aku tak setuju, kau punya plan B?"
"Aku tak akan memberitahumu, aku harus mengusahakan apapun memastikan aku menang, sampai tiba rapat umum pemegang saham tahun depan."
"Gadis licik, kau memang anak Wong Lee Man, hanya tahu membuat kesepakatan dan memaksa." Dia meringis lebar.
"Itu pujian atau sindiran Kak Cheng yang terhormat."
"Dua-duanya Putri Wong Lee Man. Jangan terlalu tinggi menilai dirimu sendiri." Sekarang aku tertawa.
"Ya baiklah, kuterima itu sebagai pujian."
"Sudah kuduga kau akan mengatakannya. Tak pernah mau kalah." Kami tertawa sekarang.
Nampaknya aku punya kesempatan 60% dia akan menyetujuinya, dia masih di sini mengobrol denganku, memberiku jaketnya, setidaknya aku masih punya harapan. Tapi aku tak akan memaksanya.
Kami duduk berdua bersisian memandang kerlap kerlip Shanghai.
"Aku menyukaimu setidaknya untuk memulai ini, aku tak tahu apa ini akan berhasil, tapi setidaknya aku memilihmu tanpa keraguan daripada Nathan Chow." Dia melihatku dan tersenyum. "Aku hanya berusaha memperbesar peluangku, kukira." Aku menutup wajahku dan tertawa.
"Kau melakukannya dengan baik."
"Benarkah."
"Benar." Aku tersenyum padanya. "Tapi disini cukup dingin, kita pulang saja kukira. Kau membawa mobil sendiri?"
"Aku membawa mobil sendiri."
"Baiklah, ayo..." Sekarang dia memberikan tangannya. Sekarang 70٪ kurasa aku akan berhasil.
"Tetap aku yang membayar..." Aku melangkah ke kasir di bagian dalam.
"Baiklah terserah padamu."
Kami sama-sama diam sibuk dengan pikiran kami masing-masing di lift. Tak terasa sudah di lobby utama.
"Aku pulang, nanti teleponlah aku."
"Iya. Berhati-hatilah."
"Terima kasih untuk semuanya. Aku pergi."
Aku berbalik dan menuju mobilku di parkiran. Yang harus terjadi sudah terjadi, entah apa hasilnya, aku tak punya penyesalan memintanya.
__ADS_1