TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 37. Hongkong 4


__ADS_3

Tante Yun membawaku menjelajahi HK dalam tiga hari berikutnya. Dia membuatku menjelajahi sudut dan pemandangan terbaik Hongkong dengan begitu banyak gedung pencakar langitnya. Aku sangat ingin melihat Simphony of Light di area pelabuhan Hongkong, naik ferry, jalan-jalan di Tsim Sha Shui, Lan Kwai Fong, naik ke Victoria peak yang tidak jauh, mengunjungi restoran yang termasuk daftar populer menurut orang lokal.


Dia bahkan membuat innetiary lengkap, kadang Papa dan adik-adikku bergabung di  makan siang atau malam karena mereka bekerja. Sayang Ko Derrick juga bekerja, aku tak bisa jalan-jalan bersamanya.



“Ko Derrick katanya mau gabung makan malam kita, sama Papa juga. Ko Derrick bawa anaknya katanya. Ahhh...Liam juga mau gabung.” Akhirnya Ko  Derrick bergabung dan satu lagi adik tiriku. Baru kusadari sekarang aku adalah satu-satunya putri Ayah, putri tertua malah, yang lainnya adalah putra.


Tante Yun memesan makan malam kami di sebuah restaurant café di sebuah gedung dengan pemandangan ke arah pelabuhan karena posisinya dekat pelabuhan Victoria, aku terpesona dengan lanscape spektakuler pemandangannya begitu saja begitu sampai.


“Wow,...”


“Bagus bukan tempatnya.”


“Kita tidak makan begitu berat disini, ini tempat mengobrol.” Restoran bernama Zeng yang aku tidak tahu artinya itu memang punya pemandangan mengagumkan. Aku akan betah disini duduk dan mengaguminya semalaman kurasa.


__ADS_1


“Ah Liam, kemarilah.” Bibi melambai kepada seseorang. Liam adik pertamaku tersenyum ke Tante Yun. Aku melihatnya ada garis-garis wajah Papa dalam wajahnya. Dia  memang anak kandung  Papa, jelas itu tersirat dalam wajahnya.


“Halo Liam.” Kali ini aku yang memanggilnya duluan, apa yang dialaminya pastinya sama beratnya denganku.


“Ce-ce(kakak perempuan), seneng ketemu ce-ce.” Dia membalasku dengan senyum, perjumpaan pertama kami cukup baik.


“Ayo duduk.”


“Maaf  kemarin saya sudah ada janji dengan orang, tidak kerumah pas malam cece datang.”


“Cece akan tinggal di HK?”


“Oh, tidak. Cece tetap di Jakarta, mungkin disini buat liburan saja, Papa juga sering ke Jakarta.”


“Wah sayang sekali, Papa berharap Cece  bisa disini.”


“Itu belum diputuskan.” Tante Yun memotong.

__ADS_1


“Tante, kan Papa sering ke Jakarta, setahun bisa 2-3kali.”


“Tante yang seneng cece dirumah, dia ada teman, tinggal Roland dirumah.” Ternyata sampai Liam pun tahu aku akan ditahan di Hongkong.


Menyusul Ko Derrick yang datang kemudian. Seorang gadis muda yang adalah anaknya menemaninya, gadis yang nampaknya cukup ceriwis itu memberi salam ke Tante Yun dengan heboh, tante Yun menimpalinya sama hebohnya.


“Ini Cecilia, kamu panggil Tante Tata.” Ko Derrick memperkenalkannya.


“Tante Tata cantik sekali,...”


“Ahh terima kasih. Kamu juga cantik Cecil.” Dia sedikit membungkuk dan tersenyum saat menyalamiku, “Tante, katanya Papa mau ajak tante ikut kita trail ama hiking di Dragon Back Trail besok. Tante mau ikut bukan?”


“Ohhh hiking? Boleh? Apa itu jauh.”


“Tidak, itu easy trail, cuma 4  jam perjalanan 9km.” Ko Derrick menjawabnya.


“Tante, ikut, Papa kalau hiking selalu cepat-cepat, bagi dia itu perlombaan kardio, dia selalu bilang kura-kura pun jalan lebih cepat dariku, padahal aku bawa kamera mau foto, dia sudah jalan cepat sekali.” Cecilia ini cerewet, sangat berbeda dengan Papanya.

__ADS_1


__ADS_2