TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 11. Meiji Jingu 2


__ADS_3

"Dengan seseorang wanita istimewa tampaknya." Aku menebak sendiri dan mengira-ngira siapa yang dia bicarakan.


Dia tidak menjawab. Baiklah, anggap saja iya. Aku jadi berpikir, jika dia semacam agen yang dilindungi pemerintah, aku tak tahu jenis agen macam apa, bahkan Thomas saja bilang dia tak tahu karena kenyataannya dia berkerja di bidang swasta-sepertiku, seperti apa kekasihnya.


"Kau punya kekasih sekarang Louis?"


"Tidak."


"Kenapa?" Dia melihatku lalu kembali ke jalan.


"Lebih suka sendiri." Jawabannya hanya singkat. Membuatku lebih penasaran lagi.


"Di mana wanita yang berjalan-jalan denganmu di sini." Dia tertawa kecil.


"Kenapa kau menyangka itu wanita."


"Karena tak mungkin pria bisa menimbulkan kenangan begitu jauh."


"Hmm..." Dia hanya menggumam dan tersenyum. Nampaknya lebih suka memutar nostagia di kepalanya.


"Bagaimana kalian bertemu."


"Pekerjaan."


"Ohh dia satu kantor denganmu?"


"Tidak juga, mungkin pernah satu divisi. Tapi tidak di kantor yang sama."


"Lalu kenapa kau tidak bersamanya sekarang. Kau begitu mengingatnya."


"Karena kami memang tak bisa bersama."


"Sepertinya kisah yang menyedihkan." Dia menghela napas, tapi kemudian dia melihatku.


"Kau punya keamanan disini? Atau hanya bersama asistenmu?"


"Hanya bersama assisten, dia tidak bisa menjadi keamanan tentu saja."


"Kau masih dua hari di Tokyo bukan?"


"Iya."


"Kau harus berhati-hati, orang seperti Mark bisa melakukan apapun. Jika kau punya back-up keamanan lebih baik kau hubungi mereka." Sebentar lagi juga Mark Ivanir akan menghadapi masalahnya sendiri. Lebih baik dia mengkhawatirkan dirinya sendiri daripada mengurusiku. Dia tak punya waktu lagi setelah sampai di London.


Aku mencoba mencari pembicaraan lain sambil berjalan-jalan kemudian, tapi pikiranku masih mencari sebab kenapa dia bersikap baik, apa yang dia inginkan.


"Kau baik sekali padaku. Terima kasih. Aku akan berhati-hati. Kenapa kau baik sekali padaku Louis?" Aku berjalan kedepannya dan tersenyum manis padanya. Kali ini dia membalas senyumanku.


__ADS_1


"Aku memang baik hati." Lagi-lagi dia hanya menjawabku dengan nada yang biasa seakan tak ada apapun, mencoba merayu pun tidak. Kenapa? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Aku menatapnya dan sengaja berhenti di depannya sehingga dia pun harus berhenti.


"Apa kau menyukaiku?" Sekarang dia tertawa, apa yang dia tertawakan.


"Tidak."


"Jadi kau mengusahakan segala macam, mengajakku jalan dan mengingatkanku seperti ini, kau sama sekali tidak menyukaiku?" Aku maju satu langkah di depannya dan menatap matanya.


"Tidak."


"Kau tidak menyukaiku."


"Menyukai bagaimana maksudmu, semua laki-laki menyukai wanita cantik, tapi jika kau bertanya apa aku sekarang mengajakmu kencan, jawabanku tidak."


"Lalu. Apa yang kau inginkan?"


"Tidak ada."


"Apa kita akan bertemu lagi setelah ini."


"Kemungkinan besar tidak. Tapi di masa depan berhati-hatilah. Jangan terlibat masalah, apa yang kurang dari hidupmu sehingga kau senang mencari masalah. Kapan kau akan berhenti mencari masalah." Kali ini dia merapikan rambutku yang tertiup angin, menyisipkannya kembali seakan dia melihat seseorang yang akrab dengannya dan sesaat waktu terasa berhenti untukku. Kenapa dia bersikap begitu. Dia tidak ingin apapun?


"Mencari masalah itu keren." Aku mengatakan keterlibatanku di MI6, itu mengubah segalanya. Membuat banyak hal berbeda, membawaku ke level yang tidak bisa dijangkau dan kadang aman, disaat aku terpuruk, perasaan itu memboost e. Aku seperti punya dua kehidupan.


Dia menghela napas mendengar jawabanku. Apa dia tahu aku juga agen sepertinya? Lalu kenapa dia tidak menyulitkanku. Atau bertanya apa yang aku lakukan ketika tahun lalu aku mendekatinya.


"Akan ada saatnya itu tidak keren lagi."


"Kenapa kau muncul di depanku kalau kau tidak ingin sesuatu."


"Hanya penasaran." Dia tetap pada sikap misteriusnya. Lalu tersenyum padaku, "Sudahlah, ayo kita jalan-jalan lagi." Dia memutar bahuku dan membuatku berjalan ke depan.


"Kau memang sulit."


"Terima kasih atas pujianmu. Kau sudah lapar. Kita bisa berjalan keluar dan mencari makanan."


Dan kami berakhir di sebuah restoran ramen di dekat sana kemudian.


"Bangsat ini memang perlu dihajar." Aku langsung melihatnya dengan heran. Dia baru saja menerima pesan di ponselnya.


"Siapa yang perlu dihajar?"


"Mark pengemarmu itu , dia menyuruh orang mengikuti kita."


"Mau apa dia? Bagaimana kau tahu? Kau punya keamanan di sekitar sini?"


"Iya. Akan kutanya dia mau apa dia." Sekarang dia mengangkat teleponnya.


"Berapa orang Tom yang mengikuti kami?"

__ADS_1


"Satu orang saja? Tangkap dia dan tanya bossnya menginap di kamar berapa? Orang Jepang atau orang UK?"


"Yang mengikuti Anda orang Kaukasian."


"Bagus tangkap saja dia. Lalu ancam bossnya sampai dia minta ampun." Louis memberi perintah ke orangnya sementara aku mengetik pesan ke Thomas menceritakan apa yang kualami sekarang.


'Jika dia mau menghajarnya itu bagus, setelah dia di London aku akan langsung bergerak menangkapnya dengan file dakwaan sudah lengkap. Biarkan saja Louis melakukannya. Sesampainya di London dia tidak akan bisa menggangumu lagi.'


"Apa tak apa bagimu. Ini gara-gara aku."


"Ini bukan masalah besar, orangku bisa menyelesaikannya. Dia tak akan berani menggangumu lagi."


"Terima kasih Louis."


"Kembali." Dia hanya menjawab singkat bahkan tanpa melihatku. Aku binggung kenapa dia bersikap begitu baik sekarang.


"Jika aku ke NY, apa boleh kita bertemu lagi." Dia tersenyum padaku.


"Kurasa lebih baik tidak. Aku orang yang sulit. Apa yang kau bisa dapat lagipula?" Aku bertopang dagu melihatnya. Apa dia bermain tarik ulur denganku, kenapa rasanya aku tertarik dengan apa yang ada di pikirannya.


"Aku juga orang yang sulit." Aku balas tersenyum dan membuatnya melipat tangan di depan dada. Dia mengalihkan pandangannya, tak mau menentang mataku.


"Kuantar kau pulang."


"Kau mengusirku pulang, jahat sekali."


"Jadi kau mau apa, tinggal bersamaku." Dia malah menaikkan alis padaku.


"Iya." Jawabanku membuatnya tertawa. Louis yang kejam. Dia bahkan tak punya masalah langsung menolakku.


"Ayolah kuantar kau pulang. Ini sudah sore, bukankah kau punya acara. Aku akan mengurus Mark itu. Kau tak usah khawatir. Dia tak akan berani menggangumu lagi."


Dia beranjak dari restoran, seperti kami tak punya masalah apapun di hari ini kemudian. Sekali lagi pandangannya menyapu pepohonan menguning di ujung sana.


"Andai waktu itu bisa diulang, mungkin kita bisa memperbaiki kesalahan kita." Tiba-tiba dia berkata padaku saat lama hanya diam.


"Kesalahan apa?" Aku melihat tatapan sedihnya. Tapi lagi-lagi dia tak berbagi apapun padaku.


"Jika kau butuh bantuan di Tokyo beritahu saja. Aku punya teman yang bisa diandalkan disini..."


"Iya. Terima kasih."


"Tak usah pindah kamar atau pindah hotel, Mark itu tak akan berani menggangumu lagi."


"Kau lama disini?"


"Tidak pertengahan minggu depan aku akan kembali. Aku tak mengantar ke dalam, sampai di depan lobby saja oke, terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan. Bye. Jaga dirimu."


"Jaga dirimu juga." Aku tersenyum dan berlalu dari depannya.

__ADS_1


Minggu depan aku ke NY, aku akan bertemu lagi dengannya. Entah kenapa kali ini aku yang ganti penasaran.


__ADS_2