
POV Julie.
Aku membawa banyak makanan siang itu. Kemarin mereka membawakanku makanan padahal aku yang menjenguknya setidaknya aku bisa membalas kebaikan hari Paman dan Bibi.
Aku tiba dengan dua kantong besar makanan sebelum jam makan siang. Bibi Joan tersenyum melihatku datang.
"Bibi aku membawakan kalian makanan."
"Astaga, banyak sekali. Kenapa kau membeli sebanyak ini. Louis juga belum bisa makan selain makanan rumah sakit."
"Aku tahu ini untuk kalian. Hai Louis..." Aku menyapanya dia sedikit terlihat lebih cerah wajahnya hari ini. Dia bisa tersenyum padaku, hatiku sudah mengembang bahagia ketika dia tersenyum padaku. Rasanya pipiku memanas dengan bahagia. Perasaan ini membuatku gila.
"Kau datang ke sini, Bibi dan Paman, perlu istirahat sebentar, semalam Bibi takut meninggalkannya. Bisakah kau tinggal sampai sore. Mungkin jam 6 Bibi datang lagi, hotel Bibi dekat sini. Ada perawat kau bisa meninggalkannya jika kau ingin pergi."
"Mama aku tak apa, istirahatlah malam ini jangan menungguiku lagi."
"Kami akan datang nanti jam 6, nanti pulang malam. Kemudian kembali pagi." Papanya juga jauh-jauh ke sini untuk melihat anaknya. Orang tua mereka tetap menganggap anaknya selamanya perlu dijaga. Ibu dan Ayahku juga melakukan hal yang sama.
"Aku punya Henry bertugas malam, kalian tak usah menungguiku terlalu malam dia bisa tidur di sofa." Louis tidak ingin mereka lelah karena menjaganya.
"Baiklah, kami akan datang jam 5 jika begitu. Kami pulang dulu. Julie, maaf jika dia merepotkanmu."
"Tidak Bibi, tak akan merepotkan."
"Baiklah, kami pergi. Terima kasih untuk makanannya, kau jangan lupa makan."
"Iya Bibi."
Aku mengantar mereka keluar dan kembali dengan jantung berdebar ke dalam. Bodoh, hal sederhana saja bisa membuatku jantungku berdebar seperti ini rasanya aku ingin melarikan diri, tapi aku juga ingin melihatnya lagi.
"Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit? Apa aku harus mengambilkan sesuatu yang kau butuhkan?" Aku duduk dan datang ke sampingnya.
"Aku baik. Tak usah merepotkanmu."
__ADS_1
"Aku tak merasa repot."
"Makanlah, kau belum makan bukan."
"Nanti saja." Aku melihatnya, dia melihatku. Pikiran kami mungkin berbeda, entah apa yang ada dipikiramnya, kami punya banyak waktu membicarakannya kurasa.
"Kenapa kau disini?" Pertanyaan itu membuatku mundur selangkah, kenapa aku disini. Apa dia tak tahu apa alasannya, itu sangat jelas.
"Aku khawatir padamu."
"Julie, kau harusnya tahu kenapa aku bersikap begini padamu, kadang aku melihatmu sebagai cermin masa lalu, semua tak adil buatmu."
"Aku tahu, aku tak keberatan soal apapun alasan awalmu, yang kutahu aku menyukaimu apa adanya. Itu sudah masa lalu, sekarang adalah masa sekarang, kau tidak bisa menganggapku orang lain. Mari saling mengenal saja. Soal kenapa aku harus menyukaimu, aku sendiri tak tahu, jika aku bisa memilih aku mungkin tak akan memilihmu. Tapi nyatanya aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri."
Aku menatap matanya tanpa takut, itu yang sebenarnya, jika aku bisa memilih dengan siapa aku ingin jatuh cinta. Mungkin aku lebih memilih Colin tapi aku tak bisa mengatur arah hatiku. Walau sebelumnya aku menganggapnya menyebalkan, aku membencinya tapi aku tetap berlari ke sini.
Dia diam menatap keluar jendela. Mungkin sebagian hatinya masih memikirkan istrinya yang sudah tiada. Tapi dia sudah tidak ada.
"Kau memang keras kepala. Kau bisa memilih melupakanku setelah aku memperlakukanmu begitu kejam. Kenapa kau bodoh sekali. Aku berusaha membuatmu aman, tapi kau malah berlari dengan bersemangat ke bahaya. Bodoh." Sekarang dia mendorong keningku dengan jarinya.
Dia melihatku yang tersenyum padanya. Mungkin dia kehabisan cara menyuruhku pergi.
"Aku minta maaf berteriak padamu di telepon terakhir kita." Aku memegang tangannya. Dia membiarkanku, mungkin melawan saja tak bisa karena dia sedang sakit, sementara aku bisa mengambil alih keadaan. Sementara aku bahagia hanya dengan bisa mengenggam tangannya seperti ini.
"Kapan kau bekerja?"
"Minggu depan, aku bisa menemanimu."
"Tak usah menghabiskan waktumu."
"Aku memang punya waktu untuk dihabiskan. Kau mau berdebat denganku, nanti tunggu kalau kau sudah sembuh, kau bisa mencobanya, sekarang kau tidak berdaya, menurutlah padaku." Dia memelototiku dan aku tersenyum menang.
Wajahnya mengerenyit tanda dia kesakitan ketika dia mencoba sedikit bergeser.
__ADS_1
"Apa sakit, kau perlu minum obat? Atau perlu kupanggilkan dokter?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Ini tertembak, kau tak bisa mengharapkan tidak sakit. Jika kau mengikutiku suatu saat mungkin ada resiko ini." Dia mengatakan jika aku mengikutinya. Mungkinkah dia tidak menolak akhirnya tapi masih mencoba mengetesku supaya aku pergi?
"Tak apa aku tak keberatan." Aku tersenyum sekarang. "Kau lapar? Aku membeli sup krim ayam? Kau boleh makan ini bukan? Ada roti, telur, puding, kata temanku yang dokter, harusnya kau sudah boleh mendapat menu ini." Wangi sup ayamnya membuatnya menoleh, aku tahu dia lapar.
"Kusuapi?"
"Aku bisa makan sendiri." Dia menolak disuapi jadi aku mengambil meja makanan untuknya dan menaruh supnya di depannya. Tapi kurasa dia tidak bisa bergerak membungkuk terlalu jauh. Wajah kesakitannya terlihat kesulitan ketika dia harua membungkuk.
"Kusuapi saja, kau tak bisa membungkuk bukan. Sakit bukan?" Kali ini dia memang tak berdaya, bagaimanapun dia butuh bantuanku.
"Enak?"
"Iya, terima kasih." Kali ini dia tahu diri juga. Aku bisa membuatnya berterima kasih. Aku tahu dia tak ingin merasa tak berdaya, tapi aku menyukai bagaimana dia harus bergantung padaku.
"Rotinya kutambahkan oke, atau kau ingin telurnya."
"Iya, boleh telur saja." Aku menyuapinya tanpa banyak bicara. Dia terlihat lapar, mungkin tadi pagi menu sarapannya masih dibatasi.
"Kau tak sarapan tadi pagi?"
"Aku hanya diberi satu cup kecil sup dan sepotong roti, puding. Dari kemarin makananku di jatah seperti tahanan. Dokter bilang aku harus menunggu fungsi pencernaanku kembali." Sudah kuduga makanannya masih dijatah. "Kau tak makan?"
"Nanti setelah ini."
"Kau makan apa?"
"Aku membeli steak tadi. Tapi kau belum boleh nampaknya, nanti aku tanya dokter dulu apa boleh. Jika boleh aku belikan untuk makan malam. Oke. Temanku bilang jika kau sudah kelaparan biasanya itu sudah bisa makan lebih berat." Dia mengumamkan persetujuannya.
"Aku boleh minta kentangnya. Makananku lembek semua." Aku tertawa kecil. Aku mengorek tas makanan dan memberikan kentang yang dia inginkan.
"Jika aku dimarahi dokter karena memberimu ini kau harus mengakui salahmu sendiri."
__ADS_1
"Tak akan, aku kelaparan, bagaimana orang kelaparan bisa sembuh." Dia sudah bisa membantah perkataan orang setidaknya otaknya sudah berfungsi penuh sekarang.