TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 47. Set A Trap 2


__ADS_3

Aku harus menunggu apa yang Koko bicarakan dengan Ibuku, tapi seseorang sudah meneleponku duluan.


"Nona Sandra, saya menelepon Anda karena pengamanan secepatnya untuk Anda tapi saya tidak boleh terlihat, nama saya Anthony Sai, saya yang akan incharge hari ini, teman saya baru bisa masuk besok, tapi boss bilang Anda adalah juga VVIP Private Guard sebelumnya?"


"Iya, tapi saya tidak masuk ke Grade A, masih B. Kali ini kemungkinan musuh yang akan dihadapi mungkin dengan latar belakang militer." Baiklah, Mama meminta pengawalan ini aku juga akan bekerja sama dengan pengawalku.


"Ini saya sedang melaju ke tempat Anda, jadi saya akan menyusun detail-detail pengamanan tersembunyi Anda, ceritakan schedule Anda yang Anda akan jalankan, perimeter keamanan tempat tinggal, transport ke tempat kerja Anda. Kita harus bekerja sama ..." Kusebutkan apa yang dia inginkan secara detail. Karena kami di bidang yang sama, aku dengan mudah bisa memberikan informasi yang detail dan mengena, mengatur bagaimana aku selalu bisa terlihat, lokasi yang mungkin resikonya tinggi, apa yang harus aku hindari, pengawal grade A ini memang berbeda, mereka juga punya basic pelatihan militer, dan hanya ada beberapa di Hongkong. Fee mereka tidak main-main.


"Saya sudah sampai depan restoran Anda, saya memakai jaket gelap dan jeans biru. Saya makan tempat Anda saja, tapi Anda tidak boleh terlihat mengenal saya, saya bayar sendiri, mobil saya Freed hitam saya punya tempelan Uber untuk menyamarkan."


"Ohh baiklah."


Kami mengatur beberapa hal lagi kemudian. Dia menggangap perimeter tempat tinggalku memang sulit ditembus. Tapi karena aku sendiri aku harus dikawal sekarang, aku harus memberikannya akses dan tidur di kamar tamu sesuai SOP pengawalan.


"Oke Miss, kurasa itu saja..." Jika ada yang ingin kau tanyakan kau bisa chat. Ingat kesepakatan prosedur keamanan kita.


"Baiklah, terima kasih."


Aku sekarang menelepon Ibu, ingin tahu apa yang dibicarakannya dengan Ko Derrick.


"Ma, kau sampai mengatur pengawalan level A untukku, mereka sudah sampai. Kau tahu kan berapa fee mereka? Apa yang Ko Derrick bicarakan denganmu."


"Ayah Cheng Xin bukan orang yang melakukan sesuatu sia-sia Sandra, aku 34 tahun mengenalnya bukan sesuatu yang sebentar. Kokomu memberiku banyak saran, aku akui logika dia berpikir bagus, cara yang dia katakan memang punya resiko tapi terukur, tak salah dia memang salah satu tangan kanan Philip Leung."


"Jadi apa yang kalian rencanakan."


"Kita akan memasang umpan dan memencet bisul. Dan kali ini kau sementara akan jadi umpan."


Mama bicara panjang lebar denganku, ternyata mereka merencanakan menangkap tangan. Mama akan memainkan perannya memarahi habis-habisan Cheng Xin, dan tidak memberikannya sepeserpun, bahkan mengancamnya akan mencoretnya dari ahli waris jika Cheng Xin tetap meminta uang, sementara Mama akan mengubah wasiat secepatnya, tentu saja suami Mama tak tahu Mama bisa mengakses bantuan sebesar ini di Hongkong, dia hanya tahu Mama pedagang sukses yang menanamkan uangnya di Ping An dan mendapatkan lotere dengan meledaknya Ping An beberapa tahun kemudian.


"Kokomu akan mengirimkan tambahan bantuan besok dari Singapore, sementara Mama memencet bisul supaya segera meletus ... Jika Mama menangkap tangan orang Papanya Cheng Xin maka dia bisa Mama urus selamanya. Dan selanjutnya biar Mama yang urus."


"Mama kau akan kembali ke apartment?"


"Tidak, Mama akan langsung ke Shanghai besok pagi sekali, mengurus perubahan dalam surat wasiat dalam sehari lalu kembali lagi ke Shenzhen dan baru kembali lagi ke Hongkong. Mama akan memakai alasan sedang bekerja di sana dan mengambil hotel terdekat, jadi mereka tak bisa masuk ke komplek apartment tapi besok kau akan punya pengawal penuh. Jadi Mama agak tenang."


"Baiklah, aku menurut ke pengaturan Mama dan Ko Derrick."


"Aku akan bercerai dengannya setelah ini, tak akan lagi ada celah maaf dalam hidupku jika dia mengusikmu, aku tak akan tinggal diam lagi."

__ADS_1


"Aku mendukungmu Ma."


"Kau mendukungku dengan menjaga dirimu baik-baik. Jangan terjadi apapun padamu. Berjanjilah pada Mama."


"Aku berjanji Mama, tak akan kubiarkan mereka melukaimu melalui aku. Aku berjanji."


"Baiklah, kau baik-baik oke. Nanti kita bicara lagi. Banyak yang harus Mama telepon dulu."


"Iya Mama."


Ko Derrick masuk lagi dalam line teleponku sekarang.


"Kau sudah mendengar dari Mamamu bukan."


"Iya."


"Kau harus sangat berhati-hati sekarang. Aku akan mengirimkan tiga orang yang akan membantu dari Singapore. Kita kemungkinan besar menghadapi orang militer, yang bisa menangani level itu terbatas dari sipil, jadi menangkap tangan ini pekerjaan yang mungkin bisa dibilang sulit."


"Kenapa kau yakin sekali Ko?"


"Ibumu yang yakin, dia akan bertindak, bukan Koko, masalahnya adalah rentang waktunya. Makanya kita perlu mendorongnya sampai terpojok, supaya dia tahan lagi dan melakukan apapun yang dia mau lakukan sekarang. Kita bisa menghemat banyak sumber daya keuangan dan resiko yang kau ambil juga bisa di minimalisir. Yang kau harus lakukan adalah bekerja sama dengan pengawalmu mereka akan mencari dimana orang yang dikirimkan Ayahmu itu dan begitu kita mendapatkannya mungkin mereka akan memasang strategi menjadikanmu umpan... Aku akan bicara dengan kepala tim pengawalanmu." Jadi itu yang mereka katakan mengambil resiko terukur.


Aku ingin menelepon Oliver tapi kuurungkan, dia sedang dalam tahap penting pekerjaannya, memberitahunya akan membuat dia khawatir dan tak bisa fokus, harus kuhadapi sendiri ini.


Tak lama kemudian pengawal yang mengawalku datang. Aku melihatnya duduk dan makan, matanya diam-diam mengamat orang-orang di restoran. Akupun harus membuat diriku menjadi lebih awas ke lingkungan sekelilingku sekarang.


'Aku akan mengantar Nona ke apartment nanti. Pura-puralah kau memesan uber nanti Nona.' Dia mengirim pesan untukku.


'Baik.' Mereka baru datang hari ini, harusnya menurut logika siapapun yang ditugaskan mencelakanku memanfaatkan waktunya untuk survey terlebih dahulu, mencari di bagian mana dia bisa menyergapku bukan. Aku perlu membicarakan ini ke ko Derrick dan pimpinan tim pengawal, mereka harus memakan unpannya, karana belum apa apa aku sudah muak menjadi umpan sekarang.


Baru aku bisa hidup tenang, punya bisnisku sendiri yang berjalan dengan baik, bangsat Cheng Xin dan Ayahnya mengusikku.


Aku pulang dengan selamat dengan pengawal menjagaku malam ini di sofa ruang tengah. Tapi tak urung juga aku sulit tidur, perasaan terancam ini memang tidak menyenangkan.


Tak ada yang suka merasa di awasi sepanjang waktu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan paginya, pengawalku memberikan garis besar rencana pengawalan, karena mereka tak bisa terlihat mencolok di depanku, ada pengawal wanita yang akan datang menjadi temanku hari ini, dia akan berpura-pura menjadi temanku yang datang dari kota lain.

__ADS_1


Sementara tambahan orang dari Derrick dan kepala tim akan mencari jarum di tumpukan jerami, mengawasi dengan seksama orang-orang di sekelilingku, mencari dimana orang yang mungkin dikirim untuk mencelakaiku.


"Jangan tampak khawatir Nona Sandra, jika dia menyadari kau terpengaruh oleh sesuatu maka rencana kita akan gagal. Dan kau harus bersikap layaknya teman dengan pengawal yang satu lagi, dia akan datang ke restoranmu nanti siang sambil membawa koper."


"Iya aku mengerti, aku akan bersikap biasa saja."


Sementara Cheng Xin untuk ke sekian kalinya datang ke restoran.


"Dimana Mama, kenapa dia tak menerima teleponku?"


"Cheng Xin, kau tak bisa berhenti menandatangiku? Sudah kubilang Mama tak akan memberimu uang lagi. Mau kau menangis darahpun dia tak akan memberimu uang lagi."


"Ponselnya tak bisa dihubungi sama sekali."


"Karena dia sudah memblok nomormu."


"Aku memakai nomor Papaku." Mungkin Mama sedang dalam penerbangan ke Hongkong sekarang kurasa.


"Cheng Xin aku tak tahu dan tak mau tahu urusanmu. Jangan datang ke sini lagi, Mama ke Shenzhen bersama Bibi Su. Kau kesini percuma."


"Kau sengaja kan tak mau memberitahuku dimana dia. Mungkin dia sudah di Hongkong. Sampai Papapun tak bisa mencapainya." Aku cuma tersenyum sekarang.


"Kau benar, jika aku tahupun aku tak memberitahumu."


"Kuperingatkan kau jaga sikapmu, jangan sampai kau menyesal. Aku sudah tak suka kau muncul."


"Anak lemah tukang minta uang, apa yang bisa kau lakukan hah, kerjamu cuma bisa minta uang saja. Jangan berlagak kau bisa melakukan sesuatu padaku. Hidup sendiri tanpa Mama juga kau tak bisa, dasar manja. Mulutmu saja yang besar. Padahal yang kau kerjakan hanya bernaung di bawah ketiak Mama. Anak laki-laki yang memalukan." Aku mengatainya habis-habisan karena ini adalah bagian dari treatment memencet bisul.


"Kau akan membayar perkataaanmu."


"Dasar tukang omong besar saja, menyentuh seujung rambutku pun kau tak bisa, bisanya hanya meminta uang ke orang tua. Kau memang memalukan."


Sekarang dia sudah ke sampai titik dimana dia tak bisa membalasku lagi. Aku akan mendorong ini lebih jauh.


"Kasihan kau, tak rela bukan 50% harta Mama jatuh padaku. Bahkan mungkin Mama akan menyerahkan lebih padaku melihat jika dia menyerahkannya padamu kau hanya akan menghabiskannya."


"Kau lihat saja nanti bagaimana aku mengurusmu."


Aku sekarang dengan sadar memasang diriku sendiri jadi umpan.

__ADS_1


__ADS_2