TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 47. Jangan Marah 1


__ADS_3

Aku jadi pindah, Papa menyetujui pembelian rumahnya setelah aku mengirimkan fotonya beberapa hari  kemudian. Ini benar-benar dekat dengan rumah Ko Derrick. Aku jadi sibuk, beberapa bagian rumah ditata ulang. Papa sudah mengeluarkan uang, aku harus membereskannya agar jika mereka ke Jakarta mereka bisa tinggal disini, prosesnya cepat, karena ternyata pemiliknya perlu uang, mau jual cepat, tidak perlu perbaikan banyak karena rumahnya seperti kata Ko Derrick masih baru, hanya perlu penambahan cat ulang, wallpaper dan furniture yang diselesaikan dengan cepat oleh tim interior design. Dalam hanya tiga minggu sejak kembali ke Jakarta aku sudah bisa menempatinya ...


Akhir pekan ini dari pagi  aku sibuk memindahkan barang-barang yang masih kuperlukan ke rumah baru.Carry box yang kusewa sudah ada di depan sana, sementara sudah ada dua orang staff rumah yang membantuku sekarang.



“Ta? Udah selesai?” Ternyata Ko Derrick, aku hanya bisa makan malam dengannya di akhir pekan, pekerjaanku juga menggunung setelah liburan. Plus aku harus ngurus rumah ini, dia pun nampaknya sibuk, dia menyempatkan makan malam bersama aku sudah senang.


“Ini udah Ko, udah beres.” Dia terlihat  tampan dengan celana jeans dan kaos oblong putihnya.


“Ada  yang mau dibantu?”

__ADS_1


“Engga yang gede-gede udah di turunin  ama mas-masnya tadi. Ini cuma tinggal box pecah belah, ntar diberesin ama mba saja sama baju dikit, udah selesai. Aku gak mindahin perabotan banyak, mau disewakan apartementnya. Temenku mau ambil.” Yenni mau mindahin tempat tinggalnya dari rumah yang disewanya di pinggir  kota, kupikir bantu temen, dia bisa pulang lebih cepat ke rumah ketemu anak semata wayangnya dan Ibunya.


“Mas udah ya?”


“Makasih ya Mas.” Kuberikan tip untuk sopir dan kenek yang membantuku.


“Makanan nih, kamu udah makan belum?” Koko yang baik hati ini selalu memastikan adeknya ada makanan.


“Ayo makan Ko.” Dia melihat sekeliling rumah yang memang sudah rapi dan bersih. Mengkilat, ada staff rumah yang  menjaganya tetap mengkilat untukku.


“Rumahnya bagus, designnya modern, warm, kamu yang minta begini?” Dia pernah liat waktu pertama dibuka, masih suram dan lusuh. Sekarang kebanyakan warna dindingnya sudah diganti menjadi gading muda, beberapa dilapisi walpaper warna coklat muda, sofa-sofa warna abu-abu gelap, warna coklat yang lebih gelap, desain kontemporer yang modern dan terang.

__ADS_1


“Iya, bagus kan?”


“Bagus.” Aku menyibukkan diri  dengan memindahkan makanan ke piring saji sementara dia sibuk dengan ponselnya. Seseorang meneleponnya dia melihat nomornya dan langsung menghela napas.


“Hallo.” Dia mendengar seorang wanita yang bicara  dan membalasnya dengan Canton. Aku tak tahu apa yang dia bicarakan tapi mukanya gusar, tampak dia berusaha tetap tenang menanggapinya.  Aku mendengar sisipan kata Cherrie diantara  kalimatnya, Cherrie, anak Papa yang ternyata bukan anaknya itu. Apa yang itu. Dia menutup telepon kemudian.Menelepon yang lain lagi.


“Daniel, sudah berhasil ngumpulin berapa perusahaan.”


“Udah delapan? Mulai saja kukira. Mereka juga bakal menghadapi tuntutan ganti rugi pemilik proyek, kamu sudah ngomong ke Chin Lai Yee juga kan. Apa katanya.”


“Nah, iya, bilang ke Erwin buat assist semua kasusnya, mengambil kesempatan kalian bisa hajar sekarang karena pemilik proyekpun minta pembayaran ganti rugi.”  Levelnya Ko Derrick sepertinya menyeramkan, aku yang hanya terbiasa di bidang project kreatif tidak berani membayangkan gontok-gontokan antar perusahaan ini.

__ADS_1


__ADS_2