TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 39. Don't Go Home 1


__ADS_3

Aku pulang sudah jam 8, Shiori dan Sayuri ternyata sedang mengobrol di sofa ruang duduk, dua orang perempuan ini sangat cocok satu sama lain.


"Papa, kau sudah pulang. Apa yang dikatakan polisi."


"Mereka akan mencari pelakunya. Tak ada hal yang bisa dipercepat prosesnya, kita harus menunggu. Tapi sementara itu kau akan memakai backup pengawal tambahan jika pergi. Termasuk kau juga Shiori."


"Aku?"


"Iya, aku tak mau kau dipukul seperti kemarin. Pergi dan pulang kau harus diantar."


"Ayah percaya ini pekerjaan mantan Ayah itu?" Sayuri yang bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan dia. Sudahlah nanti Ayah akan selesaikan untuk sementara kau mengikuti pengaturan keamanan."


"Kau sudah makan? Kami membeli makanan."


"Sudah, tadi aku bertemu teman. Aku mandi dulu, aku berbau rokok."


Pikiranku sibuk menemukan bagaimana cara meminta bantuan ke Yamada, siapa yang bisa kujadikan penghubung. Dan aku kehabisan ide. Aku harus menelepon kolega-kolega, tak mungkin meminta bantuannya tanpa seorang penghubung, dia akan menolakku dengan sejarah pertemuan kami.


"Mana Sayuri?" Sementara aku kembali ke ruang tengah mendapatkan Shiori duduk sendiri.


"Dia kembali ke atas, temannya tadi menelepon. Sedang bergosip seru nampaknya." Aku duduk di samping Shiori. Tapi pikiranku masih terbagi. Aku diam saja di sampingnya. "Kau tadi hanya dari kantor polisi nampaknya kau banyak pikiran. Belum menemukan cara mengatasi ini, tak ada teman yang bisa membantu."

__ADS_1


"Yuna itu Onee-san sekarang, ..." Kuceritakan apa yang kudengar dan apa saran mereka terhadap masalah ini.


"Hisao Yamada, itu nama besar. Memang keluarga Yamada itu nama besar, kau tak punya hubungan dengannya? Sama sekali tak mengenalnya?"


"Dia tak akan suka bertemu denganku." Aku meringis.


"Kenapa?" Aku ragu menceritakan yang ini. Tapi baiklah itu masa lalu.


"Aku pernah merebut pacarnya yang sekarang jadi istrinya, sebenarnya mereka bukan pacar sebenarnya, ya tapi... dia tidak menyukaiku."


"Ohh, siapa semacam artis juga?"


"Setsuko Takahashi." Dia mendengar nama itu, berpikir, mengambil ponselnya dan mengetikkan namanya.


"Itu masa lalu. Tak usah dibahas lagi? Saat itu Hisao Yamada menjadi dannanya, aku sama sekali tak tahu "


"Seleramu sangat tinggi Ryohei-san. " Dia memandangku dan aku tak yakin apa yang ada dalam pikirannya.


"Aku bersamamu sekarang, bukan yang lain. Itu hanya cerita masa lalu..." Dia mengalihkan pandangannya, pasti ada sesuatu yang terjadi di pikirannya setelah dia tahu.


"Hisao Yamada, gangster. Bossku juga kata Tuan Akada dasarnya adalah gangster besar di Hongkong. Kau kenal bossku Philip Leung dengan baik bukan. Kenapa kau tak minta saran dengannya, Derrick-san itu kemarin punya semacam kenalan yang bisa mencari berandalan itu, yang jelas level kenalan mereka bukan level hanya tukang pukul, walaupun sampai sekarang mereka belum menemukannya itu layak dicoba. Mungkin dia bisa membantumu mengatasi mantanmu yang gila itu."


Sekarang nada suaranya berubah datar, dia tak mau melihatku, walau aku merasa sarannya benar, tapi kurasa dia cemburu ke mantan-mantan pacarku. Harusnya tadi aku tak perlu sebutkan namanya.

__ADS_1


"Kau benar, aku akan coba."


"Aku mau pulang, sudah malam." Dia berdiri, tapi aku menariknya duduk kembali.


"Kau kenapa? Kau marah padaku, soal Setsuko, Itu bahkan sudah lewat lama."


"Tidak. Aku hanya mau pulang. Kau mau mengantarku." Wanita mereka selalu mengatakan tidak ada masalah walaupun ada.


"Ikut aku."


"Ikut kemana?" Aku tak menjawabnya. Kupegang tangannya agar dia mengikutiku.


"Ayo masuk." Dia melihat sekelilingnya.


"Ini kamarmu, kenapa kita kesini? Aku mau pulang saja..." Kutarik dia mendekat ke sofa, sampai dia duduk menempel padaku dan kuhadapkan diriku padanya.


"Kau tak akan pulang, sebelum kita selesaikan ini. Kenapa marah hanya karena tahu siapa Setsuko? Aku bahkan tak pernah pacaran dengannya."


"Tidak..." Dia tetap tak mau menatapku.


"Katakan apa yang ada di pikiranmu. Kau marah tanpa alasan."


"Aku tak marah, hanya merasa, ..." Dia tak menjawab lama. Aku menebak sendiri apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


"Merasa apa, kau kurang cantik dibanding mereka?" Dia melihatku. "Shiori,...berapa kali harus kukatakan..."


__ADS_2