
POV Oliver
Ciuman di pipi? Siapa yang melakukan itu sekarang, itu menggelikan, kenapa di pipi, seperti anak tujuh belasan tahu saja, kenapa dia tak menciumku dengan benar sekalian dan menerima tawaranku ikut ke Hongkong?
Kenapa dia lalu berjalan pergi begitu saja...
Dia bilang kami tak akan bertemu lagi. Ya kami memang tak akan bertemu lagi, tapi kenapa aku bisa mengingat ciuman bodoh itu sampai sekarang, seakan aku melihatnya di depanku melambai dan tersenyum.
Ini sama sekali tak benar. Kenapa aku malah mengingat ciuman konyol itu berhari-hari ini.
Aku memandangi Victoria Harbour yang sudah berkelap kelip dalam cahaya lampu, sekarang aku ada di kantorku AECOM salah satu firma arsitek kenamaan dunia tempatku berkarier sekarang, tepat di salah satu gedung tertinggi di Hongkong, Grand Central , tapi pikiranmu masih tertinggal di Hanoi, masih tetap mengingat ciuman konyol itu setelah berhari-hari.
Ada apa denganku?!
Hanya satu ciuman di pipi kenapa aku bisa memikirkannya berhari-hari. Sial! Dia mengucapkan selamat tinggal padaku tapi aku tak bisa meninggalkan bayangannya sama sekali.
Aku melepas pensil sketch pad di mejaku dan menghela napas.
"Selamat tinggal species lain jenis yang ganteng. Senang bisa bertengkar denganmu. Jaga dirimu, jangan ingat masa lalumu lagi. Kau berhak untuk yang lebih baik. Aku pergi."
Dia mengatakan itu dengan senyum hangat, seakan dia tak punya ketertarikan apapun padaku, tapi setelahnya dia memandangku seakan mengharapkanku, sudah kukatakan untuk ikut ke Hongkong sebelumnya, dia lagi-lagi menolakku, apa yang dia mau sebenarnya, apa aku begitu buruk di matanya, karena pertemuan kami di Bali itu?
Apa dia berharap aku menyusulnya?
Atau dia hanya mengatakan terima kasihnya padaku. Aku tak mengerti permainan apa yang dia mainkan.
Pikiranku tak bisa membiarkannya pergi sama sekali sekarang. Aku benci bagaimana aku bisa mengingat semua detailnya.
Fallling Star Terrace, (Teras Bintang Jatuh) , aku bahkan membuat design ini karena teringat permintaannya.
"Ini menakjubkan, bayangkan kau terlelap dengan langit penuh bintang diatas sana, agak menakutkan, bagaimana jika ada kilat dan hujan , tapi bisa menatap bintang seperti di planetarium itu memang menakjubkan,..." Dan kilauan api unggun terpantul di matanya saat dia mengatakan itu.
Tak tahukah dia, aku bisa membuka cakrawala, membuat dia bisa melihat badai dan kilat, bintang, pelangi dan awan tanpa setitikpun air hujan bisa menyentuhnya.
Tapi baiklah, sepanjang waktu dia memang mengecapku buruk. Tak bisakah dia bertanya dengan baik. Kenapa dia tak menerima tawaranku ikut ke Hongkong, sudah kukatakan tak akan terjadi apapun seperti yang dipikirannya. Aku menghela napas, aku pasti sudah gila sekarang memikirkan ini. Tapi setelah berhari-hari dia bahkan tidak mengirimkan satu pesanpun, satu kata hallo pun tidak. Dia memang berniat melupakanku.
__ADS_1
Padahal aku ingin bertengkar dengannya lagi. Aku meringis sendiri, ini konyol, sangat konyol.
"Oliver, kau sudah menentukan bagaimana kau akan mengerjakan proyekmu di Vietnam?" Salah seorang operations director sekaligus pemegang saham AECOM, Alan Grant mampir ke mejaku, melihat apa yang kukerjakan. "Falling Star Terrace... wow, apa ini retractable roll eight side roof technology? Ini apa semacam restaurant teratas? Seluas ini? Kau yakin, ini akan jadi mahal, lebih murah centre retractable intake . Slide roof di 10 kamar utama, kau serius?"
"Aku bertemu investor Vietnamnya, dia ingin menjadikan resortnya semacam kebanggaan negara, dimana tamu-tamu negara bisa dijamu, dia tak masalah dengan uang apapun selama itu spectacular. Dan ternyata resort dan hotel ini hanya tahap utama, garis ini, masih panjang, mereka ingin membangun casino dan komplek distrik resort terpadu seperti Sentosa Island yang kita kerjakan, jika tahap satu lancar ada kemungkinan masa depan kita punya proyek lagi yang lebih besar untuk pengembangan distriknya. Aku tak merencanakan itu jika tidak bicara dengannya langsung..."
"Ternyata begitu. Baiklah, kuharap kau berhasil membawa kesan spectacular itu ke mereka. Falling Star Terrace? Aku tak menyangka kau akan memilih nama sentimentil begini, ... Ini rasanya bukan kau, kenapa jadi Falling Star Terrace? Kau yakin, jika kau ingin membawa kebanggaan nasional kurasa nama yang tepat bukan itu." Alan malah tertawa, sementara aku terdiam. Dia benar itu bukan nama ciri khasku, dia benar bukan itu nama yang pantas.
Falling Star Terrace, ada yang salah denganku. Nama ini memang menggelikan, karena seorang wanita yang memintaku membuatkan teras yang bisa membuatnya melihat bintang jatuh.
"Aku akan menganti namanya, kau benar ini tidak cocok, ..." Kuhapus nama itu dari layar. Kuharap itu membuang ingatanku tentang Sandra juga. Tapi pikiranku tambah kacau.
"Kupikir nama yang cocok adalah ..." Alan mulai bicara, aku sama sekali tidak memperhatikannya. Pikiranku kembali kepada Sandra.
Kenapa dia tidak menerima tawaranku? Sejelek itukah aku dimatanya? Padahal aku sudah bilang dia tidak punya kewajiban apapun padaku setelahnya. Lagipula dengan kemampuan seperti itu apa aku bisa memaksanya melakukan sesuatu yang dia tidak inginkan.
"Oliver? Hei dude..."
"Ya?" Sekarang perhatianku kembali ke Alan.
"Kau mendengarku tadi?"
"Sebenarnya tidak. Apa yang barusan kau katakan?" Alan melihatku.
"Tidak, kau benar, harusnya aku tidak memakai nama ini. Terima kasih."
"Lalu yang menyebabkan kau kesal sendiri?"
Yang menyebankan aku kesal sendiri? Mungkin kenyataan bahwa dia dengan entengnya berusaha melupakanku, tapi aku disini tidak bisa melepaskan pikiranku darinya setelah berhari-hari.
"Kau tahu kau harus memberi nama itu ke sebuah nama presendential suite, satu nama dari kamar itu, harus terdengar romantis. Dengan roof top special terluas."
"Iya seharusnya begitu."
"Nama absurd ini karena seorang wanita bukan?" Aku tertawa, melempar pen stylusku ke meja, disambung dengan tawa Alan yang melihatku tak bisa mengelak.
"Baru kali ini kulihat kau terpengaruh wanita, rupanya Anna yang sexy itu membuatmu kalah juga."
"Anna? Kau bercanda."
"Bukannya kau menghabiskan liburanmu dengannya kemarin, jadi bukan dia. Well, siapa kalau begitu, kau berkenalan dengan gadis yang mana lagi."
__ADS_1
"Yang ini tak perduli aku hidup atau mati." Alan tergelak menertawakanku.
"Kali ini kau yang penasaran heh. Dia langsung mengecapmu buruk pastinya. Dimana kalian bertemu?"
"Di Bali, dia memergokiku di kolam renang bersama Anna. Dan dia terbangun lalu menyumpahiku karena berisik? Aku malah mengajaknya ikut..." Kalau dipikir-pikir aku memang pantas mendapat pukulan dan tendangan itu.
"Jangan bilang kau sedang,..." Alan mengelengkan kepalanya. "Lord! Kau memang b*ajin*gan Oliver. Tak salah dia tak perduli kau hidup atau mati, itu sangat normal."
Memang itu keterlaluan, kurasa sejak pertemuan pertama, dia sudah memasukkan namaku ke tong sampah.
"Aku sudah mencoba bersikap baik padanya."
"Dude, logikamu itu kadang memang keterlaluan. Tak salah dia tak perduli padamu, dia wanita logis, mandiri, jika dia masih perduli padamu maka tak salah dia hanya mengincar dompetmu."
Aku diam.
Jadi memang ini kesalahanku sendiri, benar dari awal sebenarnya aku sudah membuat diriku sendiri masuk dalam blacklistnya. Aku menyamakan semua wanita seperti Anna, yang akan tertarik pada uang dan penampilan.
Dia bilang kami berbeda species, nampaknya dia benar. Bahkan aku menawarnya 30K saat kedua kali kami bertemu! Aku tak sadar aku mungkin memancingnya sudah melewati batas yang menyinggungnya.
Sebenarnya dia yang sudah berusaha bersikap baik padaku. Sh*it!
Tapi kenapa dia menciumku, apa alasannya.
"Selamat tinggal species lain jenis yang ganteng. Senang bisa bertengkar denganmu. Jaga dirimu, jangan ingat masa lalumu lagi. Kau berhak untuk yang lebih baik. Aku pergi."
Kata-kata terakhirnya itu terngiang lagi. Akhirnya dia berusaha memberiku pesan yang baik walaupun aku sudah kelewatan, namun kata-katanya itu juga berarti dia memang tak ingin bertemu denganku walau menurutnya aku menarik. Dia langsung menjawab tidak tanpa keraguan saat aku menawarinya liburan ke Hongkong.
Dia tahu b*angsat sepertiku tidak layak dipercaya. Memberinya liburan tanpa mengharapkan sesuatu? Tentu saja aku mengharapkan, itu bahkan terdengar terlalu naif.
"Minta maaflah dengan tulus jika kau ingin mengejar seorang gadis." Alan memberi saran dengan serius. "Jika kau berusaha dengan benar wanita manapun akan luluh sebenarnya, bakatmu di merayu level profesional. Dan yang ini nampaknya berbeda,..." Dia menepuk pundakku.
My Falling Star, apa yang harus kulakukan sekarang?
❤❤❤❤❤
Dear reader emak yang baik hati
Jangan lupa komen, like, vote and gift nya yaaa
__ADS_1
Koin juga boleh buangetttt🤣🤣🤣
Kali ada yang bagi2 THR ama mak