TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 40. My Sweetest XXXL Lover


__ADS_3

Part ini ada serempetannya, yang puasa hati-hati


💙💙💙😁 Jangan lupa vote, gift dan likenya ya


Aku terbangun ketika seseorang bergerak disampingku. Oliver sudah duduk di tempat tidur dan membuka ponselnya.


"Pagi sweetheart, kau sudah bangun." Dia memintaku tidur di kamarnya yang punya bed lebih besar semalam. Tidur bersama orang lain, rasanya aneh dan aku takut tak bisa tertidur tapi aku bisa tertidur begitu saja. Bukannya ini berarti baik.


"Aneh aku bisa tidur bersamamu." Oliver melihatku dan tersenyum.


"Aku punya obat tidur alami sayang." Dia berbaring dan memelukku, mencium pipiku layaknya aku bayi.


"Apa yang kau lakukan." Dan aku hanya bisa tertawa dalam pelukannya.



"Hanya mencium pipimu. Aku ingin mengulang yang semalam tapi aku harus ke kantor." Aku harus mengakui semalam bersamanya sangat menyenangkan, Don Juan ini tahu bagaiamana membuat wanita berteriak senang. "Kau suka yang kulakukan padamu? Aku akan memikirkanmu seharian sekarang kurasa. Tak sabar menunggu pulang lagi bertemu denganmu." Kenapa ini rasanya sangat membahagiakan.


"Semalam menyenangkan... aku tak punya pengalaman sempurna seperti itu. Terima kasih. Pertama kali aku menyukainya..." Dia melihatku menakar perkataanku.


"Pasti sulit untukmu melewati bertahun-tahun siksaan dari mental dan fisik Kent sialan itu. Tapi aku akan membuatmu bahagia mulai sekarang, jangan ingat lagi yang lalu."


Yang bisa kuingat bertahun-tahun adalah ketakutan, rasa sakit akan cambukan, aku akan menukar apa saja agar tidak bersamanya, tapi kadang aku tetap tak bisa lari.


"Ya ...itu, sudah berlalu. Hmm... kenapa kau semanis ini padaku."


"Karena membuatmu senang membuatku bahagia, aku bahagia bersamamu. Aku tidak merayumu. Kau tak perlu tanya alasannya. Aku sendiri tak tahu. Nampaknya semua ini sudah ditakdirkan oleh Cupid saat kau menendangku masuk ke kolam." Mau tak mau aku tertawa dengan perumpamaan itu.


"Terima kasih." Aku hanya bisa menyentuh wajahnya yang sekarang begitu dekat.


"Terima kasih juga menerimaku sebagai teman tidurmu." Dia menciumku singkat oke. "Aku tinggalkan kau oke. Kau ingin bertemu Kakak Shim membicarakan kelanjutan kerjasama bisnisnya? Teleponlah dia, kau bilang saja berapa jumlahnya jika kalian sudah sepakat."


"Ehm ...iya. Aku akan ketempatnya, aku sudah meneleponnya kemarin."


"Aku juga harus siap-siap ke kantor."


Dia mengerak ke kamar mandi, aku ke ruangan tengah. Bernila sudah menyiapkan sarapan.


"Nona, akhirnya aku melihatmu lagi." Aku tersenyum padanya.


"Bernila, apa ada wanita lain kesini selama aku pergi."


"Nona bercanda bagaimana itu mungkin terjadi, hanya Nona yang pernah kesini." Aku hanya ingin mengecek, penasaran.


"Nona akan tinggal disini untuk seterusnya bukan, Tuan bilang begitu."


"Well, ya begitulah."


"Selamat buat Anda berdua. Saya turut senang. Semoga Anda berdua cepat menikah." Aku tersenyum, kami baru 10 hari bersama, kukira itu masih perlu beberapa saat untuk terjadi.


"Bulan depan lagi Natal dan Tahun baru, Tuan akan kembali ke Dallas, apa Anda ikut? Biasanya saya juga kembali ke Manila saat itu?"


"Ehm aku belum tahu." Dia akan kembali ke Dallas bertemu keluarganya. Apa aku akan diajak? Aku tak ingin bertanya, biarlah dia yang memutuskan, lagipula itu masih bulan depan. Yang penting aku mengurus pekerjaanku dulu dengan Brother Shim, dan satu lagi, aku harus meneruskan cek Ibu pada Kent, setelah itu selesai sudah hubunganku dengan Kent.


Oliver datang ke meja makan. Sambil membawa tas kerja dan dasinya yang masih belum rapi.


"Aku akan terlambat, aku akan makan dimobil saja. Bernila tolong masukkan toastku ke tempat makanan..."


"Sini dasimu."

__ADS_1


"Ohh baiklah..." Dia berdiri di depanku sambil tersenyum, melihatku seperti yang memasang adalah istrinya mungkin.


"Sir Oliver, kau terlambat?" Aku bicara dengannya saat menyelesaikan putaran terakhir ikatannya. Dia memang tampan dengan dasi rapi, tapi aku tetap suka dia yang acak-acakan.


"Iya, gara-gara pillow talk denganmu. Aku punya meeting tim jam 9 pas hari imi." Bernila tertawa kecil mendengarnya. Dia memang tak tahu malu dari dulu.


"Selamat Tuan, mungkin Anda harus cepat-cepat melamar Nona."


"Saran diterima Bernila." Aku tak menanggapinya, cuma tersenyum kecil dan merasa tersanjung bahwa species lain ini mengatakannya tanpa ragu.


"Ini Tuan, ..." Bernila memberikan kotak makanannya.


"Aku pergi dulu. Sampai ketemu nanti malam, Sweetheart." Dia mencium pipiku di depan Bernila dan pergi. Aku melambai padanya.


"Aku sama sekali tak tahu Tuan bisa berlaku semanis itu. Aku hampir mengecapnya gay karena tak melihat wanita disekelilingnya, tapi aku berubah pandangan karena tak melihat pria juga." Komentar Bernila membuatku tertawa.


"Aku juga tidak Bernila."


\=\=\=\=\=\=\=\=


Kent duduk didepanku sekarang bersama Brother Shim.


"Ini yang dijanjikan Mama padamu, tapi hanya setengahnya karena kau juga adalah orang yang mencelakaiku." Dia mengambil amplop cek yang kuberikan melihat jumlahnya.


"Ini masih cukup besar untukku. Bilang terima kasih ke Ibumu dan tenang saja kau tak akan bertemu denganku lagi." Aku mengangguk mendengar kata-katanya.


"Baiklah, urusan kita sampai di sini." Dia berdiri, akupun berdiri, berharap dia segera pergi dari depanku. Tapi dia berbalik.


"Aku tahu apa yang kulakukan tak bisa dimaafkan, tapi aku minta maaf telah membuat hidupmu begitu sulit. Mungkin sebagian rasa memilikiku yang terlalu egois, aku minta maaf..." Dan sekarang dia benar-benar pergi. Terakhir kali dia mengucapkan maaf, apa karena aku memberinya uang? Aku tak tahu yang jelas, itu urusannya sendiri, aku tak ingin terlibat apapun lagi dengannya. Dan aku mengangap dia sebagai bagian yang harus dilupakan.


"Nampaknya masa lalu sudah selesai. Ayolah kita bicara bisnis masa depan adik." Kuharap aku memang tak punya urusan lagi dengannya.


"Iya Kakak. Urusan kuharap urusan dengannya memang sudah selesai."


Sebulan kemudian apartment Mama juga sudah dilengkapi, dia akan datang ke Hongkong, dan kami akan tanda tangan secara legal kerjasama dengan Brother Shim.


Dan aku semangkin terbiasa dengan species lain dalam tiga puluh hari ini. Kami ke Jakarta dimana aku pamit ke Ko Derrick mengundurkan diri. Ternyata aku hanya tiga bulan bisa bekerja dengannya, sayang sekali. Tapi bagaimanapun bertemu dengannya lagi adalah sebuah keberuntungan dalam hidupku.


"Apa dia bersikap baik padamu Sandra?" Ko Derrick bicara padaku saat aku sedang berada di kantor sementara Oliver punya pekerjaan sendiri di tempat lain.


"Iya dia baik,... baik sekali." Aku menceritakan bahkan dia memikirkan pekerjaan yang aku usahakan sekarang.


"Koko senang kau mendapatkan kekasih yang baik hati, tadinya aku cukup ragu saat pertama mendengar awal ceritamu, tapi nampaknya dia benar-benar memperhatikanmu."


"Iya Ko, aku juga ragu tadinya. Tapi untunglah apa yang kuduga sebelumnya salah semuanya. Dia ternyata serius dengan hubungan kami."


"Baguslah, nanti dengan Tata kita ajak dia makan malam bersama. Koko traktir kalian sekarang, kemarin dia sudah membayar makan malam, sekarang gantian."


"Calon istri Koko masih cemburu padaku?" Aku tersenyum pada Ko Derrick, aku tahu dia pernah menyindirku pas awal-awal dia mengenalku, Tata mungkin bisa merasakan aku punya perasaan khusus ke Koko kemarin. Intuisi wanita, aku tak bisa menyangkalnya, tapi dengan aku sudah bersama Oliver sekarang dia harusnya tahu aku bukan rivalnya. Bagiku Ko Derrick sekarang tetaplah Kakak.


"Abaikan saja, dia hanya salah menduga." Ya, Ko Derrick sampai kapanpun akan menganggapku adiknya. Tak pernah terbersit perasaan apapun tentangku, tapi itupun aku sudah berterima kasih.


"Oh ya Ibumu di Shanghai bukan?"


"Iya, keluargaku di Shanghai. Kenapa?"


"Tidak, aku hanya teringat adiknya Tata juga di Shanghai, adik tiri maksudku. Kemarin aku menyelundupkannya ke sana karena dia bertengkar dengan Ayahnya. Boss besarmu yang sebelum ini."


"Ohh, ternyata begitu. Boss-besarku sekarang sering masuk tabloid gosip, istrinya membalas dendam padanya dan menjadikannya sumber berita, teman-temanku yang disana mengeluh tiap hari harus menyelesaikan media yang tak bisa dihentikan sekarang."

__ADS_1


"Pemisahan dua keluarga besar, itu jelas akan penuh intrik, aku tak mengurus ini, tapi aku mendengar banyak yang memanfaatkan perselisihan ini."


"Jangankan mereka, keluarga Mamaku juga penuh masalah..." Kuceritakan tentang adik tak berguna yang kupunya berserta Ayah tiriku yang mempunyai keluarga lain. Bahkan adik tiriku yang ketakutan aku merebut harta warisannya.


"Benarkah? Pelik sekali... Sandra kau harus berhati-hati, ada kemungkinan saudaramu itu di masa depan tak segan-segan mencari masalah denganmu. Bukannya Koko menakutimu, tapi majority saham Ping An itu memang bernilai besar, Ibumu sangat beruntung menanam investasi di tempat yang tepat di saat yang tepat, bayangkan dia yang tak rela harus berbagi setengahnya untukmu, apalagi nampaknya dia dari awal sudah mengajakmu perang seperti itu. Kalian bukan kakak adik yang sebenarnya, Kakak adik sebenarnya saja banyak yang berebut warisan, apalagi kalian hanya saudara tiri."


Aku memang memikirkannya, tapi yang lebih kupikirkan adalah Mamaku, aku tak mau adikku terus merongrong Mama.


"Aku tahu, hanya menantangnya demi Mama, baik dia Ayahnya, membuat Mama sengsara, meremehkan Mama, Papa kandungku sudah tak ada, jika dia mau menyentuh Mamaku membuatnya merasa jadi ATM pribadi seperti itu, aku akan menghajarnya sendiri dengan tanganku."


"Itu memang kawajibanmu sebagai anak membela Ibumu, tapi berhati-hatilah, jika dia berani entah bagaimana mengamcam nyawamu, Koko punya saran mengatasinya. Lebih baik kau bicarakan ini dengan Mamamu nanti. Lebih baik mencegah supaya tidak ada bahaya denganmu, dengan latar belakang Ayah tirimu yang militer, mungkin saja dia punya akses ke orang yang bisa mengancam jiwamu, kemungkinan kau terancam lebih besar, jadi dengarkan ini baik-baik." Aku mendengar Koko dengan seksama. Memang apa yang dikatakannya benar, Koko ini memang punya otak encer, ahli strategi, begitu mendengar rencananya aku yakin ini akan berhasil.


"Aku mengerti, terima kasih Ko Derrick. Aku akan berhati-hati, akan ku ingat pesanmu."


Kunjungan singkat tiga hari itu membuat Oliver lebih mengenal Ko Derrick, kali ini kami sudah mempunyai pasangan masing-masing, Ko Derrick dan Tata menganggap kami sebagai teman dan keluarga, semoga tidak ada lagi kecemburuan yang tidak perlu. Dan kami semua bisa bicara sebagai keluarga sekarang.


"Ko Derrickmu itu ternyata ramah juga." Dia berkomentar tentang makan malam kami di malam terakhir, kami akan kembali ke Hongkong besok. Kami sudah di hotel kami kembali, barang yang ingin kubawa sudah kubereskan ke dalam dua koper besar.


"Itu tergantung dia mengangapmu di sisi musuh atau teman sayang." Aku tertawa dengan pengawalan awalnya bertemu Ko Derrick yang tidak menyenangkan.


"Jadi sekarang katakan padaku, apa kau memilihku atau Ko Derrickmu itu Sweetheart." Oliver memeluk pinggangku sekarang, mengunciku dalam pelukannya yang menggoda.


"Apa kau masih cemburu dimsum." Aku mengalungkan lenganku di tengkuknya.


"Iya, aku masih cemburu. Kau menyimpan cintamu untuknya bertahun-tahun untuknya." Aku tersenyum.


"Tapi yang kucium cuma kau, yang bisa menciumku cuma kau..." Sekarang ciumanku mengapainya dan segera dia membalasku.


"Sejak kapan kau jadi perayu begini sweetheart?"


"Belajar darimu." Dia menarikku dengan segara ke bed dan menjadikan aku dibawahnya.


"Kau terlalu cepat belajar, gadis nakal." Kali ini berat tubuhnya membuatku pura-pura memberontak. Dia suka pemberontakanku. Kimono kamar tipis yang kami pakai membuat semuanya terasa.


"Kau cepat sekali bangun,..."


"Sayang, jangan bergerak. Aku ingin masuk sekarang." Lengan dan napas beratnya yang mengurungku membuatku merinding.


"Kau sangat memaksa, dimsum..." Dalam sekejab dia mempersiapkan dirinya dibawah sana. Menyusup ke tubuhku bahkan saat dirinya belum sepenuhnya terbangun. Rasanya lebih nyaman, dia tahu bagaimana menyiasati kelebihannya itu agar aku nyaman. "Oliver...ehm..." Pengalaman bersamanya selalu menyenangkan. Aku menyerah melawannya... cu*mbuannya terlalu melenakan untuk ditolak.


"Kau suka bukan dipaksa sayang. Liat ******* manjamu yang kelewatan itu, kau sangat pintar membuat aku me*ngeras di dalam dirimu, ..." Sekarang bisikan dan gerakannya membuatku menanggung siksaan yang terlalu ni*kmat.


"K*is*s me... Triple-L." Dia melihatku dengan heran.


"Apa yang baru kau katakan tadi? Triple L... Maksudmu Triple L itu ... ini?" Dia menggerakkan dirinya yang dibawah sana membuatku mengerang dan melengkungkan tubuhku dengan nik*mat.


"Jangan berhenti Triple L.... lagi..." Tapi dia berhenti membuatku melihatnya dengan kesal.


"Triple L... Itu panggilan hanya ada dalam otak mesummu itu bukan. " Dia tak menghiraukan permintaanku lebih tertarik menggodaku.


"Aku memang mesum padamu, kau pikir kita sedang apa?! Kau jahat sekali. Dimsum...." Sekarang aku kesal karena aku hampir mencapainya tadi.


"Sayang mintalah yang sopan. Tadi sudah hampir bukan, aku tahu bagaimana kau menge*liat." Dia menggodaku sekarang.


"Oliver, kau jahat..."


"Minta yang benar sayang."


"Oliver pleasee ..." Tak lama dia mulai membuatku mengawang lagi. Kali ini dia tak berhenti sampai kakiku terasa berpijak ke awan.

__ADS_1


Species XXXL ini memang bisa diandalkan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2