
"Apa Mamamu akan menyukaiku Sweetheart?" Oliver bertanya padaku dengan ragu-ragu. Aku tahu kenapa, dia punya pengalaman tidak menyenangkan dengan Ko Derrick awalnya, species lain ini agak khawatir bertemu Mamaku.
"Dia akan menyukaimu, dia menyukai yang kusukai. Asal aku bahagia... Jangan terlalu tegang ini hanya Mamaku."
"Apa dia tahu cerita awal kita bertemu?"
"Iya dia tahu."
"Dia tahu?!" Sekarang dia meluruskan punggungnya, matanya melotot. "Sampai cerita di depan kolam itu dia tahu?! Kau cerita padanya?! Bagaimana mungkin dia menyukaiku setelah kau cerita itu?" Aku tertawa.
"Sayang bagaimana kita bertemu tidak penting, yang penting bagaimana sekarang kita bersama dan apa yang kau usahakan. Jika aku bahagia, maka Mama juga akan bahagia. Well awalnya memang dia tak menyukaimu tapi setelah melihat apa yang kau lakukan untukku dia cukup menyukaimu."
"Apa tak pernah berusaha mengenalkanmu pada seseorang?"
"Dia sendiri menderita karena dijodohkan bagaimana mungkin dia mau melihatku mengalami hal yang sama dengannya." Aku sudah menceritakan semuanya tentang keluargaku padanya. "Mana mungkin Mamaku menyuruhku menikah dengan seseorang yang tidak aku suka. Aku mencintai species XXXL ini dari atas hingga bawah." Semenjak aku kelepasan menggunakan kata XXXL aku suka menggunakannya sebagai tanda.
"Begitu?" Dia menatapku masih dengan penuh pertanyaan. "Soal yang bawah itu rahasia kita saja boleh nanti terlalu banyak yang mengejarku." Dan perkataan absurd itu membuatku tergelak sekarang.
"Dasar terlalu percaya diri dengan propertiesmu sendiri. Jangan bicara yang aneh-aneh dengan Ibuku oke, dia hanya mengerti Canton, dia tidak mengerti Inggris."
"Sayang kau punya saran untukku apa yang seharusnya kulakukan dan tidak kulakukan? Soal ini aku bahkan belum membeli hadiah untuknya. Sial kenapa aku melupakannya, jam berapa pesawatnya akan mendarat? Aku harus membeli sesuatu untuknya. Apa yang harus kubeli?" Oliver terlihat begitu bingung. Dia sekarang nampaknya selalu ingat bertemu pertama kali dengan seseorang harus membawa hadiah. Nguyen mengajarinya dengan baik.
"Oliver dia Mamaku, bukan Ko Derrick yang sedang ingin menghajarmu?" Nampaknya dia takut dia akan diinterogasi seperti Ko Derrick menanyainya saat pertemuan pertama. Aku diceritakan Ko Derrick dan Brother Shim bagaimana tegangnya interogasi itu.
"Aku ingat kata Nguyen kalau wanita biasanya mereka memberi gelang giok, apakah boleh."
"Iya-iya, kau boleh membelinya. Pasti Mama senang mendapat hadiah darimu."
"Jam berapa dia datang?"
"Jam dua sayang."
"Aku punya waktu syukurlah. Kau bilang aku ke kantor dulu, malam aku akan pulang tepat jam 7 oke."
__ADS_1
"Iya-iya, lagipula Mama akan sibuk melihat apartmentnya dulu besok. Kau tenang saja." Aku sudah mengaturnya sebaik-baiknya semua di bawah sana. bahkan aku sudah mencarikan untuknya housekeepers , semoga dia betah dirumah barunya, walaupun temannya lebih banyak disana, dia bisa mengajak temannya ke Hongkong sekarang.
Oliver nampaknya masih terlihat tak yakin dengan perkataanku. Tapi biarkan saja, dia akam melihat Ibuku tak seseram bayangannya.
"Mama kau menyukainya?" Mama terlihat senang dengan apartmentnya, aku menganti beberapa bagian interior apartmentnya berdasarkan ingatanku tentang gaya rumahnya di Shanghai sana, tampaknya dia menyukainya.
"Ini bagus, sangat bagus, Mama menyukainya. Terima kasih sudah membuatnya serapi ini sampai dapurnyapun sudah lengkap. Sampai kau memikirkan untuk mencarikan Mama housekeepers, Mama akan mengajak Bibimu kemari, dia pasti juga ingin kesini bersama suaminya. Kamar tamunya juga sudah siap. Mama bisa membawa siapa saja kesini."
Aku senang dia menyukainya.
"Kemana Oliver, dia kesini bukan. Ayo kita makan malam bersama di sini."
"Iya dia ke sini jam tujuh Ma, dia akan makan malam bersama kita."
"Ayo kita pesan makanan dulu, dan makan bersama di sini."
"Mama, Cheng Xin membuat masalah denganmu?"
"Dia belum datang lagi, entahlah sementara ini tidak. Tapi Ayahnya meneleponku dan marah-marah seperti biasa, aku tak mendengar jelas ... Aku hanya membiarkan dia marah-marah dan menjauhkan telingaku." Mama malah tertawa.
"Hmm...tidak, dia hanya mencaci maki dengan lancar saja, mengataiku macam-macam. Selama ini dia tidak pernah memukulku, tapi mungkin karena kami sangat jarang bertemu juga sekarang."
"Hmm syukurlah jika begitu. Aku takut dia memukulmu."
"Sayang, dia yang takut kuceraikan, percayalah padaku. Ayah Cheng Xin itu tak akan berani macam-macam sekarang."
"Hmm ya sudah Mama, aku hanya takut kau dipukul saja."
Oliver datang tepat jam 7, dia membawa banyak bungkusan rupanya. Makanan, buah-buahan untuk Mama.
"Ini Oliver, ... kau membawa banyak sekali Oliver." Mama tersenyum melihat calon menantunya itu. "Sandra, dia lebih tampan dari yang terlihat di foto." Aku tertawa mendengar komentar Mama. Oliver tentu saja tahu apa yang Mama katakan dia tersenyum bangga karena dipuji.
"Tidak, saya tak tahu harus membawa apa Bibi. Ini saya tanya ke teman-teman, mereka menyarankan ini." Mama menerima makanan-makanan itu, nampaknya senang dengan isinya.
__ADS_1
"Terima kasih Oliver. Ayo kita makan, kau pasti sudah lapar, Bibi dan Sandra sudah menyiapkan makan malam." Nampaknya wajah Oliver lega, Mama ramah padanya. Sudah kubilang tak ada yang perlu di khawatirkan. Makan malam itu berjalan menyenangkan, tak ada yang menginterogasinya macam-macam, sekarang dia terlihat bisa bicara lepas dengan Mama.
"Terima kasih kau sudah menjaga Sandra di sini, dia kelihatan bahagia bersamamu, Bibi tak bisa bersamanya di banyak bagian hidupnya, banyak hal sulit yang dia sudah lewati. Bibi harap Bibi bisa lebih banyak bersamanya, tapi untungnya dia punya kau disini."
"Saya tahu Bibi, ... Bibi harus sering datang dan tinggal disini bersamanya, pergi liburan bersama. Dia akan senang, saya kadang sering harus berpergian ke berbagai proyek, tapi sekarang dia punya pekerjaan juga di Hongkong."
"Iya, terima kasih juga kau sudah membantu mendekor tempat ini sebagus ini."
"Saya senang Bibi menyukainya, ohh ya saya menyiapkan hadiah untuk Bibi." Dia memberikan kantong kertas hadiah yang tadi dibawanya.
Mama membukanya dan tercengang dengan isinya.
"Indah sekali, kau ini sungguh baik ke Bibi." Aku senang Mama menyukai hadiah dari Oliver.
"Mana suka hadiahnya Mama."
"Ini cantik sekali, kau tahu bagaimana memilih giok yang bagus?"
"Aku bertanya pada kolega, dia memberikan tempat yang baik untuk membelinya. Penjualnya yang merekomendasikan ini."
"Ternyata begitu. Terima kasih, sekali lagi terima kasih."
Pertemuan kami lancar. Oliver menghela napas lega setelah kami naik keatas.
"Sudah kubilang kau akan baik-baik saja. Ini Ibuku bukan Ko Derrick."
"Dia tadi mengajakku ke Shanghai saat Chinese New Year. Mamamu mengundangku kerumahnya."
"Iya, kau mau bukan."
"Hmm tentu, tapi Natal ini kau harus ke Dallas terlebih dahulu, sekarang giliranmu bertemu Ibuku." Aku tersenyum mendengar kata-katanya.
"Baiklah, tentu saja."
__ADS_1
Hubungan kami ini berjalan begitu cepat dan lancar, bahkan belum setengah tahun kami sudah mengenalkan orang tua kami masing-masing.
Ajaib, kebahagiaan yang datang ini begitu terasa bagai keajaiban di sekelilingku