TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 17. Forget That Ba*stard


__ADS_3

POV Julie.


Semangkin aku pikirkan semangkin aku membencinya. Apa dia pikir aku begitu menganggunya sampai harus diperlakukan seperti itu. Tak ada yang mengharuskannya menolongku.


Kejadian itu sudah dua minggu lalu, tapi sampai sekarang aku masih memikirkannya. Aku memang bodoh terkadang. Kenapa aku masih memikirkannya, membalas pesan kepergianku saja dengan pesan singkat.


"Ok.Take care." Hanya 3 kata singkat yang menyakitkan hati.


Dia mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri diatas. Dasar tak punya perasaaan! Aku juga tak ingin bertemu denganmu lagi! Lalu kenapa aku masih teringat orang yang menyebalkan itu, bodoh! Kau bodoh Julie! Setiap aku teringat dengannya aku akan mengatakan diriku bodoh.


"Julie, kau sudah lama. Apa aku terlambat." Sekarang seseorang datang padaku di restoran ini. Colin Knight ini jauh lebih pantas kupikirkan . Pria tampan yang lebih tahu menghargaiku jauh lebih baik daripada Louis si*al*an itu.


"Aku baru saja di sini. Kau tak terlambat sama sekali tenang saja." Colin dengan senyumnya yang menenangkan. Kenapa aku harus menyukai orang yang salah seperti Louis, kenapa bukan Colin ini saja.


"Baguslah, kupikir aku terlambat tadi. Kali ini lama di London? Atau harus ke kota lain lagi."


"Sementara masih di sini. Mungkin Januari untuk pergelaran musim dingin ke NY lagi. Biasanya pasti ada pekerjaan. Kau sering ke NY?"


"Hanya terkadang, tidak sering." Padahal Colin setidaknya sering menelepon dan menanyakan kabarku, kenapa pikiranku tak pindah ke dia. Lebih baik memikirkan dia daripada basta*rd itu.


"Kau terlihat sedang kesal?" Colin ternyata memperhatikanku.


"Tidak, hanya teringat sesuatu yang menyebalkan soal perkerjaan, kadang modeling itu isinya saling mencakar. Bukan hal besar, maaf yang pasti bukan kesal padamu."


"Makanlah yang banyak kalau begitu." Aku tertawa, aku tidak boleh makan banyak tentu saja. Model harus selalu memperhatikan makanannya.


"Aku tidak membalas dendam dengan makanan." Lebih baik bertanya tentang Colin. "Kau tinggal di mana sekarang?"


"Di Fulham, mau berkunjung." Dia tersenyum.


"Mungkin nanti." Aku juga tersenyum. Berkunjung ke kediaman pribadi, aku merasa belum bisa terhubung dengannya kurasa. "Kau tinggal sendiri?"


"Iya, kadang ada Maria, housekeepersku. Aku terbiasa sendiri, kadang Mama atau keluarga, teman senang datang berkunjung. Kebanyakan sendiri."


"Sendiri kadang lebih tenang."


"Ya di umur kita yang bukan dua puluh lagi ketenangan lebih penting, bahagia bukan lagi harus karena orang lain. Itu datang dari dalam kita sendiri." Setidaknya kami menemukan satu hal yang disepakati sekarang.


"Kau punya pengalaman dengan ketidaktenangan rupanya. Punya pacar penuntut?" Aku tersenyum padanya.


"Pencarian kadang menghasilkan orang yang salah? Setiap orang punya level kecocokan berbeda dengan orang lain, bukan salahnya kami tak cocok satu sama lain, hanya kami memang saling tak cocok. Dua orang yang tak match tidak akan kemana-mana." Memang dia bisa bicara dengan diplomatis.

__ADS_1


"Jawaban yang diplomatis dan bijaksana." Dia tersenyum mendengar komentarku.


"Itu sindiran atau pujian?"


"Sekarang masih pujian, tapi jika kita berdua tak cocok itu akan jadi sindiran hipokrit." Aku meringis lebar.


"Kau benar juga." Dia tertawa kecil.


"Kakakku selalu mempromosikanmu." Aku bertopang dagu memperhatikannya.


"Mungkin, tapi jika kau tak suka padaku katakan saja. Tak ada yang akan berubah, anggap saja dia tak pernah mengatakannya. Kau bebas menolakku."



"Kau manis juga." Aku menopangkan kepalaku ke samping membuat ekspresi memuja.


"Baru kau yang mengatakan aku manis, yang lain mengatakan aku dingin dan cuek." Giliran aku yang tertawa dengan jawabannya.


"Mungkin mereka jatuh cinta dengan caramu yang dingin itu. Kau pasti punya banyak pemuja bukan?"


"Aku... Ya mungkin ada beberapa selama ini , tapi entahlah mungkin aku tidak ada yang benar-benar menggerakkan. Aku sendiri binggung, mungkin kita juga tak cocok, aku tak berani memberikan jaminan apapun soal itu, jika kau mau kita jalan, ayo jalani saja, selama kita berdua merasa itu nyaman."


Si tampan ini nampaknya sangat logis. Aku punya perasaan dia punya temperamen yang baik, tapi aku tak ada perasaan aku penasaran padanya. Inikah yang kucari.


"Entah, mungkin. Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu terkesan sekarang." Aku tersenyum, Yang membuatku terkesan? Entahlah Louis yang kejam itu bisa membuatku terkesan walaupun dia jahat padaku. Tapi orang yang manis seperti ini tak bisa membuatku memikirkannya. Katakan sekarang apa yang salah denganku.


"Aku tak tahu, jadilah dirimu sendiri. Tak usah berusaha, lebih baik kita nyaman apa adanya."


"Kau artis, banyak yang memujamu, aku tak berharap menemukan jawaban seperti itu darimu." Aku tersenyum, ya mungkin aku artis, tapi aku tak pernah meminta diperlakukan seperti porselen.


"Kau baru mengenalku, aku orang yang sulit didekati karena aku yang mau tetap sendiri, tapi bukan karena aku manja dan banyak menuntut dari orang lain, selama lima tahu ini aku juga berjuang sepertimu. Bahkan mungkin Kakakku tidak tahu apa yang telah kulakukan di belakang mereka. Mungkin aku sedikit sombong, tapi aku sudah mengalami penghinaan sampai titik terendah."


"Jadi investor yang entah dari mana yang tiba-tiba datang itu hasil pekerjaanmu. Kakakmu pernah cerita. Kau hebat, nampaknya jaringan yang kau punya tidak main-main."


"Aku hanya berusaha, mungkin setengahnya juga keberuntungan."


"Dan keberuntungan setengahnya ditemukan melalui kerja keras. Semua usahamu patut dipuji." Pujiannya membuatku tersenyum tentu saja.


"Sepertimu, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk keluargaku tapi tolong apapun yang kita bicarakan hari ini tidak kau sampaikan ke Kakakku. Itu sudah berlalu, yang penting kami semua sekarang baik-baik saja."


"Baiklah, rahasiamu aman. Tapi seharusnya sekarang semuanya baik-baik saja bukan."

__ADS_1


"Begitulah. Semua baik-baik saja sekarang, bangsat itu sudah membayar kontan." Aku bicara tentang Mark tentu saja, kudengar dia kesulitan karena mantan tunangannya membuat panjang kasusnya sampai mempengaruhi perusahaannya.


"Tak perlu memikirkan yang sudah berlalu. Itu tidak berharga lagi."


"Iya, tidak berharga, membuang waktu." Aku berpikir menyetukui soal Louis yang tidak berharga itu. Mark, sudah lama masuk daftar balas dendam dan lunas.


Aku mengaduk minumanku sendiri, menbicarakan masa lalu kadang membawa kenangan tersendiri.


Colin mengalihkan pembicaraan kami kemudian, aku jadi tahu dia punya kegemaran diving dan selancar. Mengunjungi pulau-pulau tropis, membiarkan kulitmu menjadi coklat kena sinar matahari. Sepertinya itu sangat menyenangkan.


"Kau mau ikut jika aku pergi." Dia mengajak liburan. Kapan aku terakhir menerima orang yang mengajakku liburan. Sudah lama sekali kurasa.


"Sepertinya menyenangkan. Jika aku bisa oke..." Mungkin aku harus mencobanya.


"Kau punya jadwal liburan kapan. Ayo pergi, aku mau diving ke Sipadan, di Borneo, Malaysia. Kita bisa mengajak Kakakmu dan keluarganya juga."


"Sepertinya sangat jauh."


"Jauh, tapi sebanding dengan apa yang akan kau dapatkan." Nampaknya jika aku bersama dia, Kakakku akan langsung setuju. Semuanya akan berjalan lancar tanpa hambatan.


"Aku akan melihat jadwalku nanti. Setidaknya aku harus mengosongkan 7 hari bukan."


"Iya karena perjalanan pulang pergi akan cukup menguras tenaga. Sampai ke Kuala Lumpur saja 16 jam, belum lagi ke pulau yang dimaksud." Dia memperlihatkan padaku foto-foto pulaunya. Nampak menakjubkan dengan pasir putih dan cottage pinggir pantainya.


"Ini indah sekali."


"Jangan bekerja terus, berliburlah agak jauh sesekali." Aku tersenyum, berlibur. Sudah lama aku sedikit melupakan kemeriahannya.


"Liburan. Sebentar lagi liburan Thanksgivings, Natal, Tahun baru." Kuharap Kelly tak mengirimkanku pekerjaan. Dua tahun yang lalu aku harus mengurus pekerjaan. Aku jadi ingat kami bertemu di New York. "Kau punya bisnis dengan Sam Lynch?"


"Ehm, hanya kolega dari kolegaku. Aku kebetulan diajak makan siang bersama mereka."


"Jika bisnis tidak terlalu dekat, hanya aku beberapa kali memanfaatkan armadanya untuk mengirim barang dengan harga lumayan bersaing. Kau kenal?" Untunglah Colin tak punya kerjasama dengannya. Jika dia punya kerjasama aku akan meminta Kelly mengulik sedikit latar belakangnya kenapa dia bisa bekerja dengan penyelundup.


"Tidak, hanya bertanya siapa dia, pengawalnya banyak sekali."


"Entahlah kupikir dia semacam orang yang punya perusahaan banyak. Aku juga tak tahu latar belakangnya."


Pertemuan kedua kami ini berjalan dengan manis kurasa. Nampaknya aku harus membuka hati melihat kebaikan Colin. Dia manis, latar belakangnya bisa dipercaya dan tentu saja dia tidak menyebalkan seperti Louis.


Louis itu tidak pantas di pikirkan lagi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2