
Aku terbangun dengan kaget, jam 8.45, apa aku lupa menyalakan alarm. Aku hanya cuci muka secepatnya dan 9 kurang delapan aku berhasil tiba di meja makan.
"Maaf aku telat,..." Dan Oliver melihatku dengan heran. Dia masih memakai baju kaus biasa. Sedang menyesap kopinya dengan tenang, ada laptop di meja makan itu, sementara di tangannya ada ponsel, kacamatanya terpasang tanda dia sedang dalam mode bekerja.
"Telat? Telat kemana?"
"Kau tidak bekerja?"
"Ini Minggu pagi Nona."
"Minggu..." Astaga aku sudah pikun. Pantas saja alarmku tidak menyala, kupikir aku melewatkannya karena tertidur karena terlalu larut menonton series sampai jam dua. Oliver tersenyum melihatku melongo, Bernila ikut tertawa.
"Nona Sandra, kopi?"
"Ahh iya Bernila. Aku lupa ini hari Minggu, dua hari ini aku dalam mode liburan." Aku duduk di depan Oliver, dengan menahan malu. "Tak bisakah aku ikut bekerja, rasanya sungguh tak enak liburan begini." Oliver mendorong piring berisi sarapan yang dibuat Bernila. Sandwich lengkap sausage, bahkan hari ini Bernila telah menyelesaikan sup krim jamur panas yang cocok dengan toastnya.
"Sarapan,..."
"Terima kasih."
Aku makan sarapanku, Oliver nampaknya menganggapku tak ada, dia duduk dan memperhatikan layar laptopnya, bekerja, beberapa saat kemudia malah dia ternyata dalam conference call, dia menganggap aku adalah barang biasa yang ada di sekelilingnya.
Aku sarapan dengan tenang sementara akhirnya dia membuka kacamatanya.
Entah kenapa tiga hari aku disini aku merasa tinggal di rumah keluarga sendiri, Oliver tidak mirip seperti boss, dan yang pertama sebenarnya dia tidak perlu pengawalan. Apa yang kukerjakan disini, liburan?!
Aku melihatnya.
__ADS_1
"Kau tahu Oliver, kau ini menghabiskan uangmu." Perkataanku yang tiba-tiba itu membuatnya melihatku sebentar, lalu berguman sedikit, sudut bibirnya terangkat membuat senyum kecil dan matanya kembali ke ponselnya.
"Oliver beri aku pekerjaan,... Aku tak terbiasa makan gaji buta begini. Aku malah melupakan hari apa ini karena pekerjaanku adalah lembur nonton Netflix." Dia tertawa.
"Nanti di Vietnam kau bisa ikut tim kantor, aku sudah bilang aku bawa tenaga keamanan dari perwakilan investor Hongkong, yang bisa bantu bicara dengan orang lokal dan lebih tahu medan. Nguyen juga ditugaskan membantu kita nanti di lokasi. Tapi itu nanti disana hanya kantor kontainer yang dibangun kontraktor lokal, untuk perkerjaan lapangan."
Akhirnya aku merasa berguna juga. Aku ada pekerjaan di Vietnam.
"Akhirnya... Aku tak menjadi pengangguran dan makan gaji buta." Dia tertawa.
"Hari ini ayo temani aku jalan-jalan."
"Kemana?"
"Ikut saja, yang penting kita makan siang dan jalan-jalan. Aku masih ada sedikit pekerjaan, beberapa orang hari ini masih masuk kantor. Besok beberapa blue print sudah harus selesai."
"Oliver, kau tidak terganggu aku di berada sampingmu seperti ini?"
"Tidak, kita teman baik. Kenapa aku terganggu dengan seorang yang kuanggap teman."
"Aku tak tahu kenapa kau susah payah menganggapku teman dan melakukan semua ini."
"Itu keinginanku sendiri."
"Kau sering membawa wanita kesini?"
__ADS_1
"Bernila, katakan padanya, jika perlu kau bersumpah apa aku pernah membawa seseorang kesini." Bernila melihat ke kami.
"Nona Sandra, aku baru melihatmu selain Ibu dan Adik Tuan Oliver. Tuan Oliver sepertinya tak punya pacar, kurasa dia gay tadinya." Bernila ternyata tahu bahasa Cantonese, aku meringis lebar sekarang.
"Bernila, kau tahu Cantonese..."
"Tentu saja Nona, aku sudah 15 tahun bekerja di sini. Hongkong sudah jadi rumahku. Ada sepupuku, teman, keponakan, dan keluargaku juga bekerja di sini. Aku tak pernah kesepian disini. Akhir pekan begini biasanya kami akan berkumpul sampai malam. Setelah ini selesai aku akan keluar Nona."
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...
** Ada sekitar 200.000 orang Filipinos yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Hongkong dan berada sebagai group minority terbesar di Hongkong sementara Indonesian sebagai group minority terbesar kedua kurang lebih 100,000 pekerja migrant.
...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...
"Ahh baiklah, have fun Bernila.." Dia pamit setelah meninggalkan dapur dalam keadaan bersih.
"Kenapa kau tidak terganggu, bukankah kau nampaknya membatasi seseorang masuk ke ruang pribadimu?" Aku kembali ke Oliver lagi.
"Aku tak pernah merasa terganggu denganmu. Itu saja, alasannya... entahlah, mungkin aku merasa kau orang baik saja. Jawabanku cukup bukan, kita pergi jam 11 oke buat makan siang. Aku harus menyelesaikan beberapa hal dulu baru bisa bersantai sebentar."
Aku tidak ingin menggangunya sekarang, dia sedang terlihat serius kembali dengan pekerjaannya. Jam 11 dia sudah dengan baju polo santai dan celana jeans gelapnya. Dia kembali ke penampilan acak-acakannya, aku suka melihat rambutnya yang tak rapi itu. Sementara aku menemuinya dengan baju blouse musim panas kuning cerah , celana jeans dan cardigan terikat di pinggang.
"Cantik berikan aku kunci mobilnya, aku yang bawa mobil." Dia memanggilku cantik, aku sedikit tersanjung sekarang.
"Kenapa seperti itu ganteng. Aku saja tak apa, ..." Aku hanya membalas pujiannya secara spontan, semoga dia tidak merasa aku terpesona dengannya.
__ADS_1
"Ini perintah, bukan permintaan" Dia menadahkan tangannya meminta kunci, mau tak mau aku harus memberikan padanya.