TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 28. Berat Meninggalkan 2


__ADS_3

“Derrick itu beda kantor, beda rumah, beda residence.” Papa langsung mendebat Tante Yun.


“Tata manggil dia Koko.  Kamu tenang saja. Kita bisa minta tolong seenggaknya liat Tata sampai bulan depan.” Kenapa dua orang ini benar-benar meributkan keadaanku seperti aku benar-benar anak kecil. Sampai bulan depan? Apa mereka punya rencana menahanku  di Hongkong setelah  aku sampai di  sana bulan depan.


“Papa, Tante, kalian berenti dulu, umur saya 34, bukan  4 tahun, kalian lupa itu. Saya sudah bisa beli apartment sendiri jika kalian tidak tahu, ini apartement saya yang beli...” Aku memotong dua orang ini. Mereka melihatku sekarang seperti tertuduh.


“Kamu memang beli apartment sendiri, dengan mencicil sebagai catatan. Bukan cash. Papa tahu, Sepuluh tahun lagi baru lunas. Papa hargai kamu berjuang beli ini, Papa dan Mama kamu bukannya tidak bangga kamu bisa berhasil, Papa  balikin uang kamu. Tapi kemarin kamu bahkan hampir  dibawa teman kamu, dikasih obat? Mamamu cerita itu ke Papa, ... Kalau bukan karena Ko Derrick,  kamu sudah terlibat hubungan gak jelas, dengan laki-laki brengsek. Jadi gimana Papa bisa ninggalin kamu sendiri disini, Papa ini sudah dosa ninggalin kalian disini seumur hidup. Mamamu mau tenang gimana Mamamu dikubur, jika Papa tidak  bawa kamu ke Hongkong Mamamu bangun dari kuburnya!” Papa tidak tanggung-tanggung mendebatku sampai aku diam. Aku shock dia tahu aku nyicil apartment 10 tahun. Sampai menyebutkan Mama.Tapi  tetap saja aku tak akan ikut dia ke Hongkong.


“Iya?” Tante Yun Lan terkejut. “Laki-laki brengsek itu siapa? Berani  sekali kasih obat? Derrick sudah hajar dia?”


“Belum. Keluarga Boss tempat dia bekerja.”


“Haiyaa, kamu keluar saja Tata. Kaya kamu harus ngemis kerja ke mereka saja. Kusuruh Derrick hajar cowo itu sebelum  Tata ke Hongkong.” Apa-apaan ini kenapa Papa sama Tante Yun ini kompak banget?!.


“Kamu Derrick itu hitung-hitung, masih sepupu Tante Yun punya anak angkat. Jadi Tante ini masih keluarganya, dia panggil saya Tante juga. Saya beneran suruh dia hajar laki-laki brengsek itu.” Nih Tante Yun ngomong English sama Papa sangat lancar sehingga aku mengerti apa yang mereka katakan.


“Tunggu-tunggu Tante...  Tata gak akan pindah ke Hongkong. Tata senang di Jakarta.” Aku langsung mengangkat tangan.

__ADS_1


Aku merasa mereka melihatku dengan perhitungannya sendiri, aku merasa aku benar-benar tak akan dikasih pulang lagi kalau sudah sampai di Hongkong.


“Pokoknya bulan depan kamu ke HK sama Ko Derrick buat liburan, kamu sudah janji buat yang ini ya....” Tante Yun yang bicara dan Papa diam sekarang, nampaknya mereka tidak berani mendebatku secara frontal sekarang. Tapi dengan pembicaraan sebelumnya nampaknya mereka terutama Papa benar-benar ingin membawaku ke Hongkong.


“Aku balik lagi ke Jakarta. Aku gak mau tinggal di HK, gak ngerti bahasanya.” Langsung ngomong ke Papa.


“Kan bisa belajar....”


“Sudah-sudah, kita ngomong itu nanti saja. Kita makan dulu.” Tante Yun menengahi pembicaraan kami dan langsung menganti topik pembicaraan.


“Tante dan Papa kapan balik?”


Lusanya mereka pulang, Papa masih mencoba sampai detik terakhir membujukku sebelum dia pergi. Aku hanya tersenyum padanya  sampai dia menghela napas sendiri. Tapi ya kurasa mereka tak akan menyerah begitu mudah.


“Papa dan Tante Yun nitip liatin  kamu.” Ko Derrick sengaja meneleponku mengajakku makan malam beberapa hari kemudian.


“Aku baek Ko. Gak usah khawatir, udah mulai kerja, cape. Gak ada sempet sedih-sedihan.” Aku tak ingin menganggu acaranya. Banyak berhutang padanya sekarang.“Malem ini gak bisa Ko, ada lembur proposal iklan baru. Ini mereka lagi istirahat, jam enam kami masih mau lanjut...”

__ADS_1


“Bener kamu?”


“Iya bener.” Aku bohong, aku hanya ingin sendiri. Tak ingin Ko Derrick merasa kasihan padaku, tak ingin merepotkannya.


Beberapa saat belakangan ini  aku dengan cepat menyadari, aku sudah kehilangan tujuan. Mama sudah gak ada, terus aku kerja cape-cape buat siapa. Aku tak tahu apa yang kukejar lagi, siapa yang harus kubuat senang, rasanya di satu titik aku merasa tak punya semangat lagi.


Rasanya mungkin seperti putus cinta. Cintaku yang selalu ada di rumah, menanti aku kembali sudah hilang, aku mengusahakan banyak hal untuk kebahagiaan Mama, tapi kemudian dia hilang sekarang. Lalu apa yang harus kukejar lagi...?


Bunga di pusaranya sudah layu saat seminggu kemudian aku menjenguknya.


“Ma, Tata harus gimana...” Aku bertanya padanya. Melepaskan kelopak-kelopak bunga diatas makamnya. Tapi dia hanya bisu tak menjawab. “Tata kangen Mama... Biasanya Minggu begini kita udah makan-makan di luar ya Ma.” Air mataku tumpah lagi, membuatku  merasa bersalah belum bisa melepasnya.


Tapi kemudian, aku hanya berbisik bicara padanya sendiri. Mungkin aku hanya rindu bercerita padanya. Mungkin seiring waktu akan banyak berkurang, tapi saat ini aku  belum bisa berpisah. Sakitnya belum hilang, hanya terlupa sesaat, kembali lagi saat aku mengingatnya.


Tak tahu  sampai kapan... Kurasa aku tak  ingin pergi sebagaian besar karena aku tak mau Mama disini sendiri, walaupun aku sadar dia tak di sini lagi.


\===================

__ADS_1


Hai semua, jangan lupa vote, komen dan giftnya yaaaa


__ADS_2