
POV Sandra
Aku sampai hotel hampir jam sebelas. Biasanya aku menjemput Oliver dan mengobrol dengannya sebentar, sekarang rasanya ada yang berbeda. Apa aku jadi memikirkannya sekarang? Aneh, saat dia disampingku aku berusaha mengacuhkannya, sekarang setelah dia tidak ada aku malah merasa kehilangan.
'Apa aku boleh menelepon?' Bertepatan dengan itu sebuah pesan dari Oliver masuk ke ponselku.
'Boleh,' kujawab tak lama kemudian.
"Bagaimana harimu?" Entah kenapa aku senang mendengar suaranya.
"Baik, kau sudah bertemu Ko Derrick?"
"Aku tak menyangka Ko Derrick itu semuda itu. Aku lupa minta fotonya, ada Brother Joseph dan Brother Shim-mu tadi." Aku langsung tertawa, Ko Derrick memang tak sesuai umurnya, dia bisa disangka adikku jika aku berjalan disisinya, padahal dia lebih tua tujuh tahun dariku.
"Ko Derrick itu sudah hampir kepala lima tapi wajahnya masih 30, banyak orang tak percaya. Brother Joseph ikut, dia di Makau, mungkin dia ke Hongkong menemui Ko Derrick, tadi siang aku tak bertemu dengannya."
"Tadinya aku membuat kekacauan, aku menyangka Brother Joseph yang adalah Ko Derrickmu, aku lupa meminta lihat foto, kupikir kami akan bertemu berdua saja."
"Jadi apa Ko Derrick-ku baik?"
"Ya dia baik."
"Dia tidak memarahimu?
"Sedikit..." Aku meringis, sekarang jadi penasaran bagaimana Ko Derrick melihatnya. Aku akan meneleponnya besok. Dia diam disana.
"Besok aku akan bertemu dengan Philip bersama Kakakmu. Menyelesaikan masalahmu, setelah ini Kent tak akan menggangumu lagi."
"Aku harap begitu, bisa kembali dengan bebas ke Hongkong akan menyenangkan." Jika masalahnya selesai, aku hanya minta seumur hidup Kent tidak akan mengganguku lagi. Itu saja..."
"Aku kehilangan kau disini... Biasanya aku bisa melihatmu dan mengobrol sebentar. Tapi hari ini kau hilang.Aku tidak merayumu, hanya terus terang tentang apa yang kurasakan sekarang. Kau tak perlu menjawabku."
Aku memang tak tahu bagaimana menjawabnya.
__ADS_1
"Sudah malam, besok kau akan kemana?"
"Hmm... aku akan ke panti asuhanku sudah lama tak kesana."
"Rumah asuh yang membesarkanmu."
"Iya."
"Baiklah, besok aku libur, jika sore kau mau makan malam bersama?" Dia mengajak makan malam, aku harus mendengar pendapat Ko Derrick dulu tentang dia.
"Hmm...akan kulihat besok. Aku akan meneleponmu atau mengirim pesan nanti."
"Ya baiklah jika begitu. Selamat malam jika begitu."
Telepon itu berakhir kemudian, aku sudah tak sabar menunggu paginya untuk menelepon Ko Derrick.
"Koko? Bagaimana tentang Oliver? Menurutmu bagaimana dia?"
"Itu memang ada, percayalah dia tak sesopan itu jika Nguyen tak memberinya kursus tata krama...."
"Kupikir kau yang membantunya."
"Tidak, aku hanya bilang kau tak akan membunuhnya. Karena dia nervous kemarin..." Ko Derrick tertawa sekarang.
"Sebenarnya jika dilihat begitu, dia cukup baik, dia berusaha dan mau belajar mengalah demi kau, dia bersedia mengakui kesalahannya mengabaikan keluargamu dan belajar kompromi denganku. Padahal di awal-awal pertemuan aku berusaha menyudutkannya untuk melihat apa dia punya temperament dan cepat tersinggung, tapi dia masih punya jawaban yang bisa diterima ketika dipojokkan. Tapi nampaknya dia cukup bisa berpikir logis..."
"Ohhh... Begitukah? Jadi Koko tak pikir dia cukup baik."
"Ya, di cukup bisa meredam ego, ... dia cukup baik, setidaknya dia menekankan dia orang yang bisa berkomitmen. Tapi itu tergantung kalian berdua yang menjalaninya nanti. Dia sudah 44, kurasa di umur seperti itu mungkin dia hanya ingin hidup yang tenang..."
Koko Derrick tidak keberatan, dia dianggap baik, setidaknya aku bisa mempercayaiku penilaian itu.
"Apa Kent masih mencoba menggangumu?"
__ADS_1
"Tidak tahu, aku memblok semua kontaknya setelah kejadian di Jakarta. Dia tidak bisa menghubungiku dengan nomornya, tapi dia tidak memakai nomor lain sampai saat ini untuk menghubungiku."
"Baiklah, bagaimanapun dia harus membayar apa yang dilakukannya."
Aku ke sebuah tempat yang merupakan tempat masa kecilku. Panti asuhan, aku kabur dari sana umur 15, menjalani kehidupan keras di jalanan, tapi ada seorang yang membuatku kembali setelah bertahun-tahun tak kembali, salah seorang pengasuh yang ada di sana, aku menganggapnya Kakak perempuanku.
Bertahun-tahun kemudian di umur diatas 25 setelah hidupku cukup tenang, aku pertama kali kembali ke sini, dan dia masih mengenaliku. Memelukku sambil menangis.
"Kemana kau, kenapa kau pergi tak pamit. Cece Li mengkhawatirkanmu... Kenapa kamu pergi...." Rasanya aku punya seseorang yang mengingatku dan mengkhawatirkanku setelah bertahun-tahun tak berjumpa adalah sebuah keajaiban yang besar bagiku.
Dan sejak itu aku selalu mencarinya. Bertanya kabarnya, menyisihkan gajiku untuk panti yang membesarkanku, memberi sedikit bingkisan New Year untuknya.
"Kamu lama sekali tidak kesini? Kerja di luar negeri?"
"Iya, aku bekerja di Singapore dan Jakarta selama beberapa tahun ini." Kent tahu tempat ini, saat aku masih baik dan belum tahu sisi gelapnya aku dengan senang hati menceritakan keluargaku padanya dan bisa diduga dia menggunakan itu untuk mengancamku .
"Syukurlah kau baik-baik saja. Cece tiap tahun terima angpao tapi kau tak pernah kesini." Aku tersenyum padanya, mengikutinya mengurus anak-anak yang harus dia urus, dia mengurus yang sudah diatas 8 tahun. Karena aku bukan anak yang beruntung mendapatkan orang tua angkat maka aku berada dalam pengawasannya.
"Grace! Kau kesini! Kenapa kau tak sekolah malah bermain!" Seorang anak perempuan rambutnya cepak, dia berlari menghindarinya. Aku melihat diriku di anak itu.
"Cece biar aku yang mengejarnya." Ceceku ini tak muda lagi, dia harusnya dipindah ke yang lebih muda, tapi dia bilang dia tetap mau di bagian ini.
"Bawa dia kesini, aku harus bicara dengannya ..."
Dia berlari ke gerbang depan tadi jadi sekarang aku mencarinya sampai keluar gerbang komplek gedung itu. Dimana dia bersembunyi...
Aku melihatnya dan memanggilnya.
"Grace, sayang kemarilah, kakak punya hadiah, kau mau?" Dia menoleh padaku.
"Aku tahu kau akan kesini Sandra."
Suara ini! Kakiku melemas sekarang.
__ADS_1