TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 23. The Real Revenge 4


__ADS_3

"Tuan Alberto pergi ke Miguel untuk memintanya membantunya." Tommy assisten Louis sudah menugaskan orang untuk mengikuti pergerakan Alberto. Salah seorang bawahannya yang ditugaskan mengikuti Alberto sekarang melapor padanya.


"Miguel Santos maksudmu?" Nathan yang kebetulan sekarang sedang di New York ikut mendengar laporannya.


"Iya Sir, Miguel Santos."


"Biar kutelepon dia sekarang. Kau ingin dia tidak memperoleh jalan keluar bukan, Louis?"


"Hmm iya, tapi aku tak perduli. Jika Miguel menerimanya pun pengadilan bisa meminta perusahaan legalnya membayar."


"Aku akan menelepon Miguel untuk mengingatkan semua orang, dijamin tak ada yang mau membantunya."


Nathan tahu apa yang sedang dilakukan oleh Louis. Louis sudah banyak membantunya dengan kepintarannya, dia membalas melindungi kolega yang sudah dianggapnya seperti keluarga itu.


"Tunggu akan kutelepon Miguel." Nathan langsung membereskan urusan itu sekarang juga.


"Miguel, apa kabar Brother...." Dia berbasa-basi sebentar sebelum mengatakan maksudnya. "Kau mendengar soal Alberto Tosar? Dia nampaknya diincar oleh pemerintahan dua negara. Jika dia menemuimu kau lebih baik menghindar berurusan dengannya."


"Benarkah?"


"Kudengar beberapa orang sudah tidak mau berurusan dengannya, dia juga datang padaku. Aku sama sekali tidak ingin berurusan dengannya, ini saran saja, tapi aku hanya mengingatkan jangan sampai kau terseret."


"Terima kasih Brother, aku sangat menghargainya."


Telepon selesai, satu lagi jalan keluar untuk Alberto telah ditutup.


"Akan aku sebarkan lebih jauh berita ini. West Cost sampai East Coast akan tahu. Dia akan menyimpan uangnya di koper di rumahnya. Kau belum mulai bergerak menggangu bisnis utamanya?" Nathan selesai mengurus bagiannya, dia menyerahkan sisanya pada yang punya dendam untuk dibayar.


"Thanks Brother. Belum ini akan diurus setelah polisi menangkap secara resmi Alberto. Saat itu aku baru bergerak untuk mempersulit bisnis utamanya."


"Apa ini berarti penurunan saham besar-besaran."


"Bisa dipastikan iya. Kau tertarik mengambil alih. Kau harus memeriksa kalayakannya dulu, apa bisnisnya sehat atau tidak, aku tak percaya dengan bisnis yang punya boss mengandalkan mencekik nyawa orang. Kurasa lebih baik tidak, kau mau menghancurkannya bukan. Jangan setengah-setengah." Nathan lebih suka menghancurkannya. Tak perlu menimbang lagi. Biar Louis melampiaskan amarahnya.


"Tidak dia chemical dan manufaktur, itu tetap bernilai, tidak mungkin habis, spekulan memang akan mempermainkan nilai sahamnya, tapi itu aksi permainan saja, mereka akan menjual dulu, lalu membeli kembali untuk memperoleh kontrol jumlah yang lebih besar. Kau bisa menunggu hingga nilai terendah, lalu mendapatkan kontrol jika kau mau mayoritas. Laporan perusahaannya bagus. Ini investasi yang bagus. Kau harus bicara pada boss."


"Hmm baiklah aku akan bertanya dulu pada Boss." Ada satu yang harus dia ingatkan pada Louis. " Tetap pakailah tangan orang lain, jangan mencari masalah tidak perlu. Citramu sudah bersih dari awal tak perlu mengotorinya. Aku ingatkan sekali lagi, setelah ini selesai. Lupakan masa lalumu."

__ADS_1


"Brother, kau seperti Ibuku saja." Louis tertawa, tapi Nathan tidak. Dia tahu seperti apa rasanya mendendam bertahun-tahun.


"Aku menganggapmu saudara, balas dendam tak akan membawamu kemana-mana. Walaupun begitu, cobalah maafkan dirimu setelah ini. Masa depanmu masih panjang, kau sudah membalaskan apa yang perlu dibalas. Setelah ini biarkan masa lalu jadi masa lalu. Lupakan dan lepaskan."


Pelampiasan memang perlu, membuat mereka membayar memang perlu, tapi tak perlu sampai menghancurkan dirimu sendiri.


"Thanks Brother, kau membiarkanku melakukan ini."


"Sudahlah, setelah ini kau lebih baik fokus ke perusahaan. Atau kau dipecat jadi CEO." Nathan mengancamnya dan membuat Louis mau tak mau tertawa.


"Baik-baik boss, aku menurutimu. Aku masih perlu pekerjaanku."


\=\=\=\=


Dalam dua minggu kemudian, data rincian semua bisnis gelap Alberto Tosar, selesai dikerjakan, lebih banyak rekening-rekening dibekukan. Tak ada yang mau menerima uang panas Alberto lagi. Dia benar-benar terpaksa menyimpan uang cash di rumahnya.


Louis kadang ingin menyebarkan berita bahwa bangsat itu punya yang milliaran di rumahnya supaya pencuri datang dan membunuhnya dengan sengaja.


"Kami menangkap Alberto besok, kejutan beberapa orang juga memberikan kita kasus pembunuhan yang dilakukan dengan perintah Alberto. Itu menjamin tak akan ada celah apapun lagi." Kimberly memberikan update padanya.


"Kenapa dia tidak stroke dan mati saja."


"Baik. Serahkan padaku untuk mengurusnya. Giliranku menarik perusahaan legalnya."


Dia membiarkan seorang PR-nya mengurus ke salah satu pusat berita nasional sekarang. Informasi lengkap ini akan menguncangkan dan mencoreng nama Alberto Tosar yang selama ini dikenal sebagai dermawan baik hati.


"Sir, Alberto Tosar ingin menemuimu dibawah." Pengawal utamanya sekarang memberitahunya. Sekarang Louis tertawa.


"Kurasa dia sudah gila sekarang menerima tawaran 1/3 ku."


"Kukira dia takut didatangi maling Sir. Jika ini masih berlanjut sebulan lagi aku tak keberatan mengajak teman-temanku jadi maling untuk 1 milliar dollar." Louis tambah tertawa.


"Itu ide yang bagus, Tommy, bodohnya kau kenapa kau tak melakukannya? Kenapa kau menunggu sampai sekarang mengatakannya? Kau kurang latihan sekarang sehingga takut menghadapi tukang pukulnya."


"Sir, itu perlu intel Sir, aku tak tahu di bawah pohon mana dia menanam kopernya." Semua orang tertawa ketika dia mengatakan itu seperti menanam peti harta karun. "Ehm... tapi memang bisa juga dengan menyiksanya. Aku memang bodoh, kurang berani dan kurang latihan. Otakku tumpul sekarang. Yang jelas aku tidak berani jadi perampok, kemarin aku baru mengaku dosa di kapel." Satu ruangan menertawakan Tommy.


"Astaga, kau memang tak punya bakat Tommy."

__ADS_1


Mereka jadi mendapat hiburan dengan puas menertawakan Tommy, tapi kemudian suasana jadi serius lagi, saat Alberto Tosar masuk ke ruangan. Wajahnya yang kusut itu menandakan dia sudah melewati saat-saat yang berat. Dia datang bersama Daniel dan satu orang lagi yang sama.


"Tuan Alberto, kenapa kau kesini. Kejutan melihat Anda disini." Pertemuan ini direkam juga tentu saja.


"Aku menerima syaratmu 1/3, asal kau bisa menolongku." Louis diam melihatnya kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa Anda tertawa. Tidak ada yang lucu, saya kesini memerendahkan diri meminta bantuan Anda?!" Alberto yang sudah lelah dan stress sekarang sudah seperti kulit telur yang jika dipancing sedikit sudah naik emosinya.


"Anda kemarin memanggil saya pemakan bangkai, apa Anda tidak ingat? Otak Anda sudah berkarat rupanya?! Kau memangnya bukan pemakan bangkai?!" Louis sengaja meluapkan emosinya di depan Alberto. Dia ingin melihat Alberto Tosar memohon di kakinya.


"Tuan Alberto baiklah, Anda benar saya kemarin keterlaluan, saya mengaku salah pada Anda, tolong bantu saya sekarang. Saya akan membayar Anda seperti yang saya inginkan." Akhirnya setelah beberapa saat dia tahu diri juga dan berbalik memohon kepada Louis. Louis melihatnya dengan senyum sinis. Lama dia tidak menjawabnya, dia memandangi cakrawala Manhattan.


'Kau lihat Chelsea, penjahat rendahan ini hanya berani memohon sekarang. Menyedihkan, yang ada di pikirannya hanya uang. Seakan uang bisa membeli nyawanya, membeli kebebasannya. Miris sekali manusia yang sudah dibutakan oleh uang. Menjual jiwanya pun dia rela.'


Sekarang dia berbalik kembali ke Alberto Tosar.


"Kau memang tak punya harga diri, kau pikir uang bisa menyelamatkanmu. Memalukan."


"Saya menawarkan Anda sepertiga bahkan lebih uang saya!? Apa itu belum cukup?!" Ternyata dia tak selamanya bisa merendah juga.


"Terlambat Tuan Alberto, uang Anda sudah tak berharga lagi. Berita Anda sudah diketahui di seluruh USA dan Europe. Tidak ada lagi yang bersedia menolong Anda. Walaupun Anda bisa memberikan saya 300 juta dollar saya lebih suka menganggap uang Anda sampah. Bagaimana rasanya sekarang, uang Anda hanya sampah. Lebih baik kau bakar saja untuk mencuci dosa."


"Bangsat rendahan!? Kau berani mempermalukanku seperti ini." Dia merangsek ke Louis, ingin mencengkram kemejanya. Tiga pengawalnya bergerak, tapi Louis memberi tanda bahwa dia akan menghadapinya. Dia sudah menunggu kesempatan ini sejak lama.


"Kau memang pantas dipermalukan!" Sambil mengatakan itu Louis melayangkan pukulannya sekuat tenaga.


Pukulan keras Louis mendarat di rahang pria 55 tahun itu membuatnya terpelanting ke lantai dingin di kantor Louis. Dua orang yang ikut bersamanya ingin membantunya. Tapi pengawal Louis menahan mereka tetap di depannya. Kali ini mereka membiarkan boss mereka menghajar pembunuh istrinya sendiri. Dendam yang sudah terpendam memang perlu di balaskan.


"Bangun bangsat, mana cambuk besimu yang kau banggakan heh." Louis mengangkat pria yang bahkan belum bisa berdiri karena kepalanya masih pusing itu. "Katakan apa yang kau katakan padaku kemarin, pemakan bangkai?! Bukannya kau pemakan nyawa! Kau tidak ingat apa yang kau lakukan. Sekarang kita lihat apa uangmu bisa menyelamatkan nyawamu! Kau tidak ada harganya di mataku. Uangmu yang banyak itu hanya sampah di depan mataku! Bahkan tak bisa membeli sedetikpun kebebasanmu!" Dua pukulan jab sekuat tenaga ke perutnya membuat Alberto terbungkuk dan jatuh terbatuk-batuk.


"Menjijikkan! Kau manusia menjiji*kan! Bangs*at!" Sekarang Louis menendangnya berkali bagai sampah.


"Boss, cukup! Itu sudah cukup!" Tommy menahan Louis membawanya menjauh, jika ini dibiarkan Louis akan membunuhnya. Dia tahu kerasnya pukulannya Louis. Orang yang tak lagi dalam kondisi mudanya itu bisa patah tulang rusuknya jika dilanjutkan, atau mungkin sudah sekarang.


"John, Henry bawa mereka keluar! Mereka membuatku muak!" Akhirnya Louis menendang mereka keluar.


"Kau punya dendam apa pada Pamanku hah! Kami datang baik-baik kesini.Bangsat, aku akan membunu*hmu!" Rupanya orang yang ada di sampingnya itu keponakannya.

__ADS_1


"Oh kau punya kemampuan membu*nuh Bossku, langkahi aku dulu jika kau bisa." John mendorongnya keluar, pemuda yang mungkin baru berumur 30 tahun itu langsung terpancing melayaninya. Tapi dalam sekejab dia tahu dia bukan lawannya. Orang kedua yang mencium lantai dingin ruangan Louis. Setelah bogem mentah pasukan elit itu menemukan sasarannya.


"Mana? Kau sudah punya kemampuan? Begitu saja? Membu*nuh orang? Menjaga nyawamu tetap dibadan saja tidak bisa!"


__ADS_2