
POV Tata
Jam 11.30 Koko belum sampai juga, apa terjadi sesuatu. Aku tak berani meneleponnya, takut aku menggangu konsentrasi-nya, tapi aku menunggunya disini seperti orang gila.
'Koko dalam perjalanan pulang, pergilah tidur.' Sebuah pesan membuatku terduduk sekarang, lega, sangat lega.
'Iya, cepatlah pulang.' Kubalas pesannya.
Semoga dia tidak luka. Aku masih khawatir dia berkelahi dan terluka seperti kemarin jadi aku tidak pulang.
Tak berapa lama sebuah mobil terdengar berhenti di depan pintu gerbang. Aku berjalan ke depan untuk membuka pintu utama.
"Kau masih disini?" Lega ternyata nampaknya dia baik-baik saja. Tak ada bercak darah apapun. "Kenapa?" Dia memperhatikan aku melihatnya dengan detail sampai memegang tangannya.
"Takut Koko cedera kaya kemarin." Dia tersenyum kecil.
"Engga, diberesin sama yang lain, gak keluar tenaga, cuma keluar tenaga buat marah-marah doang." Dia memeluk pinggangku. "Kamu kuatir bener, kan ada Andy dan Jonny, ini kerjaan mudah. Harusnya kamu pulang aja."
"Mau lihat Koko dulu, baru tenang."
"Sorry bikin kamu takut. Tapi udah ga pa pa. Koko mandi dulu ya, udah malem baru ngobrol, boleh minta kupasin apel, laper abis marah, ntar ya baru ngobrol." Aku ingin tahu detailnya apa yang terjadi setelah aku meninggalkan lokasi.
"Iya." Kuambil dia apel dari kulkas. Menaruhnya di meja di kamarnya. Tak lama dia keluar dengan baju rumahannya.
"Terus Koko apain Simonnya?" Aku duduk disampingnya penasaran ingin mendengar ceritanya.
"Hmmm... jadiin model telanjang, terus dirampok saja. Coba kalo dia berani lagi. Kujadikan dia model billboard." Dia tertawa sendiri, aku tak mengerti apa artinya , mengambil piring buahnya dan mulai makan .
"Tadi gimana ceritanya dijadiin model telanjang, maksudnya gimana?"
"Yahh, dicari ke hotelnya, dihajar, difoto nak*ed, buat dikasih ke bossnya sendiri atau disebarkan luaskan. Coba kamu pikir apa reaksi bossnya kalau foto tangan kanannya disebar ke seluruh Hongkong?" Dia makan buah yang sudah kukupas.
"Yah malulah, masa tangan kanannya bisa dihajar orang, bisa diejek bos-bos lainnya, gak punya wibawa banget, bisa-bisa dia yang dibunuh bossnya."
__ADS_1
"Correct. Pinter. Jadi mana dia berani macem-macem lagi, udah kusuruh resign malah. Kalo dia gak resign kukasih tuh fotonya ke boss dia."
"Yakin udah Ko?" Bagaimana kalau dia balik lagi.
"Udah, diancem ambil pistol aja sampe pipis di celana. Kamu pikir anak buahnya punya rasa hormat lagi ke dia, gak kusebar pun fotonya namanya sudah tercoreng sama anak buahnya sendiri."
"Ehm, mau?" Dia menyuapkan potongan buah padaku.
"Hmm baguslah. Serem banget diikutin gitu, kalau dia bawa pistol gimana."
"Makanya mobil yang itu bulletproof. Tapi yang tadi cuma penguntit. Sorry kaget ya..." Dia merangkulku mendekat. Aku bersyukur bisa duduk di sampingnya sekarang.
"Ya sudah, yang penting Koko udah balik." Aku tersenyum padanya dan merangkulnya dengan erat.
"Koko tahu si Benny tadi WA minta maaf."
"Minta maaf apa?"
"Minta maaf sudah ngomong sembarangan ke Koko."
"Sepertinya begitu." Aku tertawa kecil.
"Baguslah kalo engga saya sendiri lain kali akan bales WA dia ke kamu."
"Uhh mafia yang cemburu ke buket kembang." Koko melihatku, sebuah senyum kecil tercipta di sudut bibirnya.
"Hati-hati sayang, kamu tahu di mana saya beli kembang mawar merah lima biji itu."
"Tukang kembang tabur di pasar." Sekarang dia meledak tawanya
"Ohh ternyata kamu tahu ya?"
"Ya tahu lah. Kembang gak niat...Mana bunganya, masih hutang buket bunga Koko. Aku belum pernah dibeliin bunga, ntar aku minta dibeliin sama yang lain lhooo..."
__ADS_1
"Kamu berani? Siapa ngajarin ngancem-ngancem Koko. Kelitik sampai nangis nih...." Aku setengah dikelitik dan setengahnya dipeluk di sofa itu, tentu saja aku kalah tenaga.
"Belajar ke Kokolah, yang tukang ancem itu kan Koko."
"Ngejawabnya pinter lagi." Akhirnya aku harus menerima ciumanmya yang memaksa itu, tapi perlawananku membuat dia mangkin bersemangat, belum apa-apa dia sudah menekanku ke bawahnya. Sesuatu terasa olehku, dirinya yang dibawah sana menek*anku ker*as.
"Apa kamu gak mau pulang?" Perkataan yang berlainan dengan perkataannya? Karena dia sekarang berada diatas tubuhku.
"Koko nyuruh aku pulang?" Baru ketemu sudah disuruh pulang lagi. Emang tega si Koko. Tapi kurasa dia tak serius dengan kondisi kami.
"Kamu gak mau pulang?" Dia menyuruhku pulang tapi dia mangkin mengunciku dibawahnya.
"Ya sudah aku pulang,..." Kuiyakan saja Aku berusaha berdiri dan mendorongnya dari posisi yang terlalu menguntungkannya ini. Tapi tanganku ditangkap dan dia malah menciumku lebih panas lagi.
"Katanya disuruh pulang." Aku tahu dia mempermainkanku.
"Koko gak nyuruh kamu pulang, ... cuma nanya apa kamu gak mau pulang." Sebuah ciuman mengapaiku kembali, aku melepaskan tanganku dan membalasnya, mengunci tengkuknya, merasakan wangi apel yang tertinggal di bibirnya.
Tiba-tiba tubuhku diangkat, dan dibanting ke tempat tidur, sebuah tekanan melenakan menerpaku. Sebuah cumb*uan di leh*er membuatku mendes*ah dan memeluknya erat. Sebelum dia membuat aku terbaring menyamping dan sentuhan panasnya membuatku menginginkan menyentuh kulitnya.
"Kamu mungkin gak bisa pulang lagi malam ini , karena kamu gak mau pulang tadi." Bisikannya berkenaan dengan ******* di telinga, aku menyukai caranya yang aneh itu. Tangannya yang terlalu ahli mencari cara lain membuat tubuhku mengelinjan*g.
"Gak bisa pulang, Koko kejam." Aku mendesah ketika dia mengangkat atasanku, sementara aku bisa menyentuh kulitnya dari tadi dan bibirnya berlari bagai api di kulit tubuhku.
"Siapa suruh gak mau pulang tadi, sekarang tanggung sendiri akibatnya peraw*an m*esum. Kamu tidur disini malam ini. Buat jadi bantal guling cadangan."
"Koko jahat, aku gak bisa tidur disini..."
"Terlambat sayang, kamu tidur disini , nanti Koko dongengin sampai tidur..."
"Kan udah janji gak akan..."
"Gak kan ada janji yang dilanggar." Dia sudah berjanji padaku tak akan ada yang dilanggar sebelum waktunya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=