TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 part 29. Kick Out The Enemy 15


__ADS_3

"Baiklah kita pulang saja oke. Kau mau beli sesuatu?"


"Iya pulang saja, kita sudah membeli banyak makanan, kita menonton film saja di rumah."


Ini liburanku tak akan kubiarkan Ayahku merusaknya, lagipula kali ini adalah pertama kalinya kami liburan berdua. Lagipula Mama sudah melepaskannya, sudahlah terserah padanya apa yang ingin dia lakukan.


"Kadang kita tak bisa mengatur apa yang orang lain lakukan. Walaupun itu orang tua kita sendiri, itu pilihan hidup mereka." Aku melihat ke Koko yang bicara.


"Ya aku tahu, aku hanya mencoba menawarkan rasanya sekarang. Aku cuma manusia Koko, masih bisa merasa marah pada keadaan. Tidak, aku tak akan berusaha melabraknya atau sesuatu semacam itu, tenang saja. Aku tak akan mencari masalah dengan mereka."


"Satu lagi, mereka adalah mereka, kita adalah kita. Setiap pasangan bertanggung jawab atas kegagalan mereka. Kau dan aku bertanggung jawab atas hubungan kita, jadi mungkin Ayah dan Ibumu tidak berhasil, mungkin aku sebelumnya tak berhasil , tapi kita akan punya cerita sendiri dari hasil usaha kita. Apa kau setuju..."


Perkataannya adalah entah bagaimana membuat pikiranku menjadi lebih tenang menghadapi kenyataan bahwa kehidupan Ayah Ibuku jauh dari perfektif yang aku katakan ideal bagi seorang anak.


"Iya, apa yang terjadi pada kita adalah hasil kerja keras kita bukan orang lain." Aku tersenyum padanya. "Terima kasih sudah mengatakan ini."


"Apa aku terlalu sibuk, kita jarang bersama kalau dipikir-pikir,..." Dia menggengam tanganku bersamanya.


"Tidak, ini sudah cukup, bukankah saling merindukan itu bagus, lagipula kau selalu ada jika aku memerlukanmu, itu sudah sangat cukup."



Highway Shanghai dengan pemandangan menakjubkan menemani perjalanan kami di sore yang sudah temaram itu. Perasaan aman dan bahagia ini menyenangkan. Hanya diam melihat pemandangan jalan ini saja menyenangkan.


Kami sudah dekat dengan apartmentnya di Pudong, Shimao Rievera Garden, ketika tiba-tiba sebuah mobil berbelok tajam memotong jalan kami membuatku berteriak kaget.

__ADS_1


"Apa-apaan!" Empat orang dengan wajah tertutup dan tongkat pemukul besi berkait di tangan berlari ke arah kami.


"Sial!" Koko tancap gas mundur ke belakang. Tapi di belakang ada kendaraan sehingga dia tidak bisa mundur lagi.


"Tundukkan kepalamu!" Koko memaksaku merunduk melipat diriku begitu rupa ke depan, sementara dia menahan tubuhku ke bawah dengan lengannya, bersamaan dengan suara pukulan pertama yang begitu kuat membuat butiran pecahan kacanya berhamburan mengenaiku. Aku tak tahu apa yang terjadi saat suara pukulan ke dua menghancurkan kaca di samping Koko.


Terror berlanjut, empat orang itu nampaknya memukul mobil itu simultan selama detik-detik berikutnya bunyi kaca-kaca pecah membuatku berteriak ketakutan, tapi kemudian satu dark beberapa orang itu berteriak.


"Kabur!Kabur!" Lalu semua diam, suara mobil bergegas pergi terdengar.


Aku mengangkat kepalaku dan melihat butiran pecahan kaca menyelimuti dashboard. Semua kaca mobilnya itu hancur.


"Bangsat." Aku melihatnya dengan pandangan shock. " Kau terluka?!"


"Tidak, aku tak apa." Selain buliran kaca yang terasa menggores kulitku nampaknya tidak ada yang serius.


"Kalian tak apa?"


"Kami baik, terima kasih. Keluarlah kebaskan pecahan kacanya dirimu. Bangsat berandalan itu memang ditugaskan memecahkan kaca nampaknya." Aku melihat keningnya tangannya tergores cukup panjang.


"Koko itu berdarah?"


"Tak apa tadi aku menahan tongkat pemukul besi itu. Ini hanya goresan karena terkena kaca juga." Walaupun itu hanya tangan darahnya cukup menakutkan.


Aku berusaha membersihkan pecahan kaca, di bajuku. Untungnya bajuku cukup tebal. Orang yang dibelakang kami membawakan kami sebuah sapu pembersih kecil yang ada di bagasi mobilnya untuk membantu kamu membersihkan.

__ADS_1


"Ini harus dibawa ke apartment, tak jauh lagi. Aku akan menelepon sopirku untuk mengurusnya besok. Kupanggilkan kau taxi?"


"Tak apa, ini cukup bersih, walaupun di bawah ada kita memakai sepatu tebal. Aku ikut bersamamu, pelan-pelan saja. Yang itu bukan apartmentmu? Cuma beberapa ratus meter lagi."


Kami mengemudi pelan.


"Maaf kau harus terlibat ini."


"Kenapa kau minta maaf. Ini bukan salahmu. Kau punya musuh yang ingin mencelakaimu seperti ini? Mereka jelas sudah mengikutimu."


"Aku tak tahu siapa, akan kutemukan yang bertanggung jawab."


Aku diam, membiarkan dia fokus mengemudi untuk jarak 300 meter itu. Akhirnya kami sampai dengan pandangan heran orang-orang yang melihat kondisi mobil kami.


"Naiklah dulu, ini kartu akses dan kunci. 2023, aku ada yang harus kuurus dulu. Diatas ada seorang housekeeper dia tahu kau akan datang, namanya Yi Fei ."


"Lukamu? Kau tak membalutnya dulu?" Dia terlihat terganggu dengan melihat luka gores panjang itu.


"Bantu aku membalutnya sementara." Dia mengambil kotak obat di dashboard ada perban disana. "Tutup saja dulu agar tak kotor. Nanti ke atas baru kubersihkan." Dia menggulung lengan bajunya dan aku membantunya melingkarkan perban itu di tangannya.


"Naiklah, aku harus menelepon beberapa orang, dan melihat apa yang bisa kudapatkan. Kau tidak ada yang luka bukan."


"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Baiklah, aku naik."


Aku meninggalkannya dan naik ke atas. Entah siapa yang menyuruh gangster itu menyerang kami, tapi untungnya malam ini tak ada yang terluka.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2