TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 23. Day 5th- Spoiled Friend


__ADS_3

7.30, kenapa dia belum keluar kamar. Kami akan terlambat jika dia belum bangun juga.


"Bernila, ... dia biasa dibangunkan?"


"Ehm tidak Nona, saya tidak pernah membangunkan Tuan. Tuan tidak pernah meminta hal seperti itu." Baiklah aku akan membangunkannya. Anggap saja ini memang pekerjaanku.


Aku membuka pintu, ternyata tidak dikunci seperti semalam aku meninggalkannya.


"Oliver, bangunlah kita harus ke bandara jam 8." Matanya terpejam, wajahnya terbenam ke bantal , rambut berantakannya itu membuatmu ingin merapikannya. "Oliver..."Aku mengoyangkan lengannya.



"Pagi sweetheart." Sekarang dia terbangun. Panggilan sweetheart ini menggangu dan membuatku merinding. Tapi bukan itu urgencynya sekarang.


"Kita harus ke bandara. Bangunlah sudah 7.30 atau kau akan ketinggalan pesawat." Aku meninggalkan dia di bednya kembali, tapi dia menangkap lenganku. Membuatku terduduk kembali ke bednya.


"Apa lagi, aku sudah membangunkanmu? Ini sudah 7.35, jika tidur lagi kita akan berakhir membeli tiket pesawat lagi."


"Senang seseorang bisa membangunkanku." Dia tersenyum padaku dengan mata setengah terpejam.


"Kau jangan berlebihan Oliver."


"Aku tidak enak badan, bisa minta dipijat lima menit saja. Aku teringat pijatan semalam, enak sekali sampai aku bisa tidur nyenyak." Akal-akalan murahan, dan apa ini tangannya memegang tanganku.


"Kita akan terlambat Oliver. Bangunlah. Kau jangan seperti anak kecil."


"Lima menit sweetheart, lalu aku akan menurut apapun yang kau katakan setelah itu ." Dia bertingkah seperti anak kecil. Aku menghela napas.


"Dua menit, lalu bersiaplah." Dia menelungkupkan badannya, dan aku memijatnya ringan sebentar. "Sudah pergilah mandi sekarang." Dia berbalik dan melihatku.


"Terima kasih sweetheart." Dan tiba-tiba dia bangkit sebuah ciuman mampir ke pipiku. Aku tak menyangka ciuman itu akan datang.

__ADS_1


"Apa yang kau..."


"Itu mengembalikan ciumanmu yang di bandara, tidak termasuk pelangaran kontrak, karena sebenarnya kau yang memulai duluan dan terima masih sudah membuatku istirahat dengan baik." Dan dia tersenyum lebar dan berlalu begitu saja sekarang ke kamar mandi. Aku mengelus pipiku. Dia masih mengingat ciuman konyol itu. Apa itu alasan dia membawaku kesini.


Aku keluar dari kamarnya dengan berbagai pikiran dalam benakku. Tak lama dia sudah keluar dan menarik koper dan ranselnya. Sudah berganti ke jeans dan kaus, dan membawa jaketnya. Sementara aku mengurus pesanan taxi kami segera.


"Sir, kopi dan sandwichmu Tuan." Bernila menaruh kopinya, dan dia duduk di sampingku seperti tidak terjadi apapun.


"Sweetheart, kau sudah sarapan." Dan dia memanggilku sweetheart sekarang. Bernila mengulum senyumnya mendengar panggilan itu, aku melihatnya dengan banyak pertanyaan. Satu kali sesi pijatan ternyata bisa mengubah namaku menjadi 'sweetheart'.


"Sudah." Tapi aku tak mau menanggapinya di depan Bernila.


"Bernila, aku akan pergi sekitar dua minggu seperti yang aku bilang. Jangan lupa memastikan pintu terkunci jika kau meninggalkan rumah."


"Baik Tuan." Dia menghabiskan sarapannya dengan cepat dan kami segera turun ke lobby.


"Kenapa kau memanggilku sweetheart di depan Bernila." Untunglah lift kosong jadi aku bisa bicara dengannya.


"Oliver, kau bisa sedikit serius menanggapiku."


"Bagian mana yang tidak serius? Kau tidak suka nama sweetheart? Kau duluan yang memanggilku species lain." Dia tersenyum dan menaikkan alisnya. Membuatku menatapnya dengan pikiran di benakku.


"Aku tak


"Tidak akan terjadi apapun dalam 30 hari ini sweetheart, kau tak usah khawatir aku akan membuatmu jadi teman tidurku, kontrak adalah kontrak, jika aku awalnya berkata kita akan jadi teman, maka akan jadi teman sweetheart, hubungan kita tak akan berakhir seperti hubunganku dengan burger ayam, karena kita sama-sama dimsum. Kita species yang sama, dan aku menghormatu sesama dimsum.."


"Right, sama-sama dimsum." Aku meringis geli.


Dia mengatakan tentang dimsum, species yang sama, bercanda tapi auranya serius dan dia mengatakannya terang-terangan dengan menatap lurus mataku, bahkan dia tidak tersenyum saat mengatakan itu. Sekarang aku jadi terbawa serius sekarang melihat wajahnya yang tak ada senyum.


Kurasa saat ini aku menerima terlalu banyak informasi sekarang.

__ADS_1


"Aku boleh punya kesempatan bukan, aku hanya minta kau tak memikirkan aku seperti pertama saat kita bertemu. Tapi baiklah panggilan sweetheart terlalu cepat...." sekarang dia tersenyum. "Sebenarnya aku tak bisa memanggilmu Sweetheart saat di Vietnam. Aku berkata kau adalah wakil dari perwakilan Hong Lung. Jadi aku tak bisa merayumu disana. Tapi kita mungkin bisa mengatur kencan rahasia di pantai sambil melihat bintang."


"Aku tak perlu rayuanmu." Masih berusaha tak terpengaruh oleh ucapannya barusan. Dia bicara terlalu tenang, membuat aku tak sanggup memandang matanya.


"Jika kau mau tinggal minta saja."


"Jangan terlalu bermimpi." Dia tersenyum kecil padaku sekarang. Aku memalingkan pandanganku, astaga Don Juan ini... kenapa dia punya kemampuan menyebalkan ini. Membuatmu berdebar sendiri.


Aku menekuri lantai lift, dan meredakan debaran jantungku sendiri sekarang. Di umur yang sekarang rasanya aku tak pernah membayangkan akan ada adegan seperti ini akan terjadi.


Bertepatan dengan itu lift terbuka kemudian.


"Ayo, kita akan ketinggalan pesawat." Kali ini dia menggandeng tanganku. Kami nampak seperti pasangan yang akan pergi berlibur bersama.Kami mendapatkan taxi kami yang sudah menunggu.


"Aku saja, kau masuklah ke mobil." Dan dia mengurus dua koper kami, aturan pengawalan nampaknya tak berlaku lagi sekarang, seharusnya aku yang melakukan ini.


"Tak apa biar aku bantu."


Aku duduk disampingnya dengan canggung setelahnya.


"Kenapa kau diam sekali." Debaran asing yang telah lama tidak kurasakan, sekarang tiba-tiba muncul. Aku takut dan disaat yang sama mungkin ingin tersenyum bahagia saat seseorang mengatakan hal yang sepertinya romantis.


"Hah? Aku biasa saja." Bahkan kaget saat mendengar dia bicara. "Ohh ya, apa ada perempuan di tim ini?" Aku berusaha menemukan pembicaraan.


"Tidak, anggota timku semuanya pria, aku punya pengalaman buruk bekerja dengan wanita di lapangan, jadi tak pernah mengajak wanita lagi ke lapangan. Aku mengenalkanmu sebagai wakil dari investor nanti kepada timku."


"Iya, baiklah."


"Aku senang bisa kembali ke Hanoi bersamamu." Sejujurnya aku tak tahu bagaimana menjawabnya jadi aku diam dan cuma bisa tersenyum, membuang tatapanku ke jalanan kota yang ramai.


Apakah aku senang dengan tambahan detail 'teman' dalam hidup casualku. Entahlah, aku tak tahu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2