TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 3. Hanoi


__ADS_3

"Hei, senang bertemu denganku lagi?" Senyumnya mengembang dalam perjalanan kami ke hotel, ketika aku duduk disampingnya.


Aku menghadapkan diriku padanya. Baru satu kalimat aku sudah harus bersabar, masih ada 48 jam penderitaan yang harus kulalui.


"Apa yang kau harap aku jawab Tuan Russell, aku di minta boss Philip mengawalmu, apa aku punya hak untuk mengatakan perasaan pribadi disini." Aku menjawabnya dengan senyum di bibirku.


"Baiklah...ku anggap kau senang bertemu denganku."



Dia bodoh atau terlalu over percaya diri? Yang kedua lebih mungkin. Terserah padanya saja tapi untungnya dia tak memaksaku untuk minta maaf soal aku menceburkannya ke kolam. Dia tidak gila hormat juga.


"Kau tinggal disini?"


"Bossku di Jakarta." Aku tak akan menjawab Hongkong.


"Ohhh Jakarta."


"Bagaimana kau bisa dikirim ke Hanoi, Philip di Hongkong bukan? Kenapa dia malah mengambil orang dari Jakarta."


"Aku dari perusahaan keamanan boss Philip di Jakarta." Dia diam melihatku. "Kau pasti dibayar sangat baik. Liburanmu mewah... Kau benar hanya pengawal?"


"Apa yang ada di pikiranmu?"


"Kau pengawal khusus dengan range kerja hanya executive director. Pasti bukan pengawal sembarangan." Untung dia tidak menjawab pengawal khusus dan teman kencan. Walaupun dia meminta pengawal wanita, tapi jelas tugasku hanya melindungi keselamatannya.


"Tidak juga."


"Ohh benarkah?" Mungkin dia mengira aku juga mengawal kebutuhan yang lain. Pikiran mesumnya itu pasti punya pikiran selangkah lebih maju.


"Tuan Russell, tugasku hanya memastikan keselamatanmu, jika kau punya permintaan lainnya yang tidak berhubungan dengan itu, orang lain yang akan melakukannya."


"Maksudmu permintaan lain bagaimana?" Dia melihatku. Lalu kemudian sadar apa yang kubicarakan. "Nona Sandra, kau benar-benar mengecapku seratus persen buruk rupanya." Siapa yang tidak mengecapnya buruk dengan pertemuan pertama kami yang begitu luar biasa.


"Aku hanya mengatakan tugas dan tanggung jawabku agar kau tak salah menduga posisiku Tuan Russell. Bukan mengatakan sesuatu tentangmu."


"Aku kesini untuk bekerja bukan bersenang-senang, itu saja yang perlu kau tahu jika begitu." Sesaat dia memandangku, wajahnya serius, di balik penampilannya yang casual dengan jaket gelap dan jeans itu, nampaknya dia punya sisi seriusnya sendiri. Baguslah aku tak usah mencari wanita untuknya, padahal kami sudah bersiap-siap.


"Jarak tempuh kita besok ke lokasi kurang lebih 2 jam Tuan Russell, kau ingin kita berangkat jam berapa besok?"


"Jam 8,..."


"Oke, jam delapan. Tenda dan peralatan yang kau minta sudah ada di lokasi. Malam terakhir kau disini, jika bisa Tuan Don Duong menjamumu makan malam, Tuan Don Duong adalah investor lokal yang ada di Vietnam. Apa kau bisa? Nanti di sampaikan oleh Nguyen."


"Tentu." Dia sedang serius melihat sesuatu di ponselnya. Aku tak menganggunya, di ponselku muncul pesan dari Andy bahwa lagi-lagi Ko Derrick meengingatkanku agar tidak membuat arsitek boss kabur.

__ADS_1


Astaga dia mana mungkin kabur, dia kan juga ingin proyek ini. Proyek ini resort plus hotel bintang 5 bagaimana dia meninggalkannya.


Tak lama kami sampai di hotel. Aku membantu membawakan salah satu koper kecilnya sementara Nguyen membawa koper besarnya.


"Tak apa kubawa sendiri, ..." Dia menjangkau pegangan kopernya.


"Tak apa ini tugasku Tuan Russell." Aku menarik koper kecilnya berjalan bersama Nguyen didepan. Melakukan check-in atas namanya.


"Pinjam paspormu Tuan Russell." Aku sedikit mencuri lihat tanggal lahirnya, 44 tahun, empat tahun lebih tua dariku. Hmm Don Juan ini tidak menikah, lebih senang pacaran nampaknya.


Kami naik ke atas kemudian. Ke kamar suite yang sudah dipesankan untuknya.


"Kamar saya dibawah, Tuan Russell. Anda bisa hubungi saya kalau butuh apapun. Boleh masukkan nomor ponsel saya." Dia men-scan nomor ponselku.


"Temani aku makan malam, kau tahu restoran lokal, orang bilang kau harus menemukan Pho enak di Hanoi..."


"Nguyen, kau tahu Pho enak disini?"


"Ohh Pho Bat Dan tak jauh dari sini. Mungkin cuma sekitar lima belas menit naik mobil Nona, tapi kusarankan kalian naik taxi saja, dekat ."


"Ahh Nona tapi bisa saya minta izin kembali malam ini Nona, ada sedikit urusan keluarga yang saya harus urus. Nona pergi sendiri bisa, mereka buka sampai jam 9 malam." Dia menunjukkan padaku tempatnya di Google Map. Hotel kami di Lotte , letaknya di pusat kota.


"Ohh begitu. Baiklah. Tapi besok kita berangkat jam delapan." Terpaksa makan berdua dengan Oliver.


"Tuan Russell kau perlu bantuan lagi, kutinggalkan kau?"


"Iya baiklah. Jam 6 kita jalan."


Aku keluar dari kamarnya, menghela napas. Baiklah setidaknya di bersikap praktis sekarang, kurasa dia pun tak ingin di cap buruk oleh Boss, aku tenang sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pho Bat Dan itu tempatnya tidak besar, tapi jam makan malam itu menciptakan antriannya sendiri, nampaknya memang terkenal di kalangan turis.


Sekarang pria wangi ini sudah duduk disampingku. Setelah beberapa saat melihatnya kuakui dia memang tampan, dengan tampilan seadaanya pun dia memang tampan. Wangi parfumnya tercium samar dari tadi, karena kami harus berbagi di meja panjang itu dengan tamu lainnya.



"Kau pernah kesini?"


"Tidak, aku juga baru pertama kali ke Hanoi."


"Ramai sekali."


"Iya." Pho disini tidak mahal walaupun ramai kisaran paket standart nya 30,000 - 50,000 vnd(Vietnam Dong)

__ADS_1


( red : 25-35rb kalau dirupiahkan)


"Kau punya foto lokasi?" Dia bertanya padaku sementara kami


"Maksudmu lokasi proyek kan? Aku hanya punya photo lokasi tenda kita dan pantai dibawahnya untuk laporan ke kantor, aku belum mendapat foto aerial. Geologists surveyormu sudah bekerja di lokasi dan akan bertemu denganmu besok."


"Boleh, aku perlu sedikit bayangan tentang apa yang kuhadapi." Kuberikan ponselku padanya dengan foto-foto yang baru ku foto beberapa hari ini.


"Hmm ..." Dia menscroll photoku, melihat lokasinya, sampai ke foto aku merayakan ulang tahunku dengan teman-temanku beberapa saat lalu.


"Ohh happy birthday." Dia tersenyum padaku.


"Terima kasih, kembalikan padaku." Aku mengambil ponselku dari tangannya dengan segera.


"Berapa umurmu? Aku jarang bisa menebak dengan benar umur kolega Asiaku, kadang mereka tampilannya jauh lebih muda dari yang kau pikirkan."


"Buat apa kau tahu, yang penting aku bukan 17 tahun. Dan kita hanya disini 4 hari." Dia meringis melihatku.


"Ohh ayolah. Kau ketus sekali padaku." Aku tak memperdulikannya.


"Ayo makan, makanannya sudah datang Tuan Russell."


"Panggil aku Oliver saja."


"Baik Tuan Oliver." Menegaskan bahwa hubungan kami yang sebatas pekerjaan adalah penting untuk menghadapi Don Juan ini. "Ahhh Phooo kita sudah datang, ho ho sik ho sik laaa... (enak Cantonese)." Aku tersenyum melihat Pho yang mengepul itu datang padaku.


"Kau bicara Cantonese, kau familiar dengan Hongkong?" Tiba-tiba aku sadar apa yang kuucapkan. Otakku berputar cepat.


"Aku tahu Cantonese tentu saja. Singaporeans juga memakai Cantonese kebanyakan."


"Jadi kau orang Singapore?"


"Anggap saja begitu, aku bisa hidup dimana saja."


"Aku berasal dari Dallas, tadinya aku bekerja di Headquarters di LA, sebelum di transfer ke HK, sudah delapan tahun aku di HK." Dia menceritakan sedikit tentang dirinya, aku mengangguk saja sambil menikmati Pho-ku.


"Aku belum pernah ke Dallas, pernah mengawal boss ke NY sekali kurasa, hmm ... iya cuma sekali ke USA."


"Kau belum menikah?" Sebuah pertanyaan pribadi yang lain.


"Tidak tertarik dengan penikahan."


"Kau les*bia*n?" Aku menghela napas mendengar pertanyaannya. Menatapnya dengan ekspresi bertanya apa dia harus mengajukan pertanyaan absurd itu ditempat ini saat sedang makan. "Aku hanya bertanya...Atau kemarin di Bali kau sedang patah hati?" Sekarang dia memamerkan senyum tak bersalahnya.


"

__ADS_1


__ADS_2