TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 88. Mawar Yang Sesungguhnya Untukmu 1


__ADS_3

POV Tata


Sandra Lai itu, teman lama...


Dia punya kekaguman terhadap Ko Derrick, tapi tak berani mengatakannya. Aku bisa melihat caranya menatap Koko, well... tapi mungkin Koko sendiri hanya menganggapnya teman. Koko tak pernah menyadarinya sedikitpun, dan nampaknya Sandra pun tahu itu.


Tadi dia tidak berniat mengatakan bahwa dia lebih mengenal Koko dariku. Kurasa dia tidak akan mengatakan bahwa dia menyukai Koko, dia tahu tak akan ada yang bisa dicapai, ... lagipula mereka sudah lama tidak bertemu, jadi well mungkin aku tak usah memikirkan ini.


Koko orang yang luar biasa, dia punya orang yang mengaguminya, itu biasa di posisinya, wanita juga memburunya. Tapi nampaknya dia bisa menetapkan batasan apa dia terlibat dengan seseorang.


Aku menghela napas panjang, sudahlah, aku hanya harus percaya padanya. Tak ada gunanya berpikir untuk hal yang tak bisa kukendalikan.


Aku masuk rumah, ada meeting tadi aku kembali sudah hampir jam sembilan, jalanan masih padat...hari ini melelahkan sekali.


Ada Koko dirumah? Ada mobil Kokò didepan, dia sudah kembali duluan rupanya. Aku melihat ke ruangan dalam.


"Non Tuan naik ke atas." Bibi memberitahuku.


"Ohh, iya Bi."


Benar dia ada disana dengan tablet dan kacamatanya masih terpasang, aku sudah terlalu biasa entah rumahnya atau rumahku, rasanya dua tempat itu sama saja, dia masih dengan kemejanya yang sudah digulung sampai ke siku, tapi sudah duduk dan menaikkan kakinya di sofa. Aku suka jika dia menggulung kemejanya seperti itu,


"Koko? Udah lama?"

__ADS_1


"Belum, baru aja." Aku duduk disampingnya, menyenderkan diriku padanya, posisi charging, aku suka bersandar begini. "Capek ya." Dia bertanya dengan simpatik.


"Ehmm... Ga pa pa, macet doang, pegel."


"Ya sudah tiduran sini." Sekarang dia membaringkan aku di pangkuannya. Aku tersenyum, apa dia pernah memperlakukan orang lain seperti dia memperlakukanku. Seperti apa dia terhadap Lisa, bagaimana dia bisa membuat batasan setinggi itu hingga Lisa pun bahkan tahu dia tidak bisa berharap. Kadang-kadang aku merasa dia kejam...


Bagaimana dia bisa membatasi dirinya seperti itu? Denganku apa dia memperhitungkan segalanya? Memperhitungkan untung rugi, atau itu hanya sesuatu yang tak masuk logika bernama cinta?


"Ada apa?" Tiba-tiba dia bertanya saat memergoki aku menatapnya?


"Hmm?"


"Ada sesuatu bukan dengan Sandra? Kamu masih tak percaya kalo kita temenan?"


"Percaya..." Dia melihatku.


"Tidak. Biasa saja...memangnya aku marah-marah." Sandra, melihat dia tak berani mengatakan apapun pada Ko Derrick setelah sekian tahun ataupun tak mencoba membuat dia terlihat lebih dekat, aku percaya tak ada yang perlu dipermasalahkan dengan Sandra, mungkin dia jatuh hati, tapi tak berani menjangkaunya. Justru masalah akan timbul jika aku mengatakan sesuatu soal itu.


"Ya sudah, kalau ada masalah sebaiknya kamu katakan." Dia melihatku dan merapikan rambutku yang ada di pangkuannya.


"Koko masih teleponan sama Lisa Ko?" Sekarang dia melihatku.


"Beberapa kali dia chat, tapi saya sudah katakan, saya tidak bisa menemuinya seperti dulu. Lagipula dia sudah bisa berdiri sendiri. Tidak perlu bantuan saya lagi."

__ADS_1


"Kalau misalnya entah bagaimana dia menelepon Koko minta bantuan. Apa Koko akan pergi? Misal anaknya sakit, ..."


"Apa kamu ingin pergi?"


"Kok Koko tanya ke aku?"


"Karena kamu yang akan pergi supaya tidak ada kecurigaan. Jika kamu ingin membantunya kita bisa mengirimkan orang, tapi saya sudah menetapkan batasan tidak terlibat secara pribadi lagi, maka sampai disitu, tapi jika mempertimbangkan kemanusian maka kamu yang pergi. Saya tidak suka mencari masalah tidak perlu."


"Hmm..." Dia terlihat yakin mengatakan itu. Well, itu jawaban yang tegas. Tapi jika itu jawabannya aku tenang.


"Ada lagi?"


"Why do you love me?" Dia tertawa kecil.


"Koko gak tahu. Entahlah, terbiasa mungkin, dan semuanya di saat yang tepat dan yang terpenting Cecil menyukai kamu sehingga kemungkinan itu ada."


Aku menatapnya. Dia tersenyum kecil padaku.


"Kamu tak percaya pada Koko ya?"


"Hmm,... kadang. Ternyata sulit juga punya pacar dengan pesona terlalu besar. Rasanya agak... terancam." Dia tersenyum lebar dengan kata-kataku.


"Itu bukan variable yang bisa kamu kontrol kan."

__ADS_1


"Iya, bukan. Saya hanya bisa mengontrol tindakan saya sendiri. Tapi yah kelihatannya Koko cukup manis kalo aku lagi marah-marah." Dia ketawa sekarang.


"Kesimpulannya apa?"


__ADS_2