
“Iya, aku bakal bilang nanti, aku sudah ada yang ngajak makan malam setiap hari, walaupun kadang makannya cuma sayur sama nasi merah pun aku sudah seneng. Puas Koko...” Ketika dia mengatakan itu rasanya semua beban dihatiku terangkat. Dan ketika aku bisa memeluknya, rasa bahagia itu begitu membuncah.
Makan malam itu kemudian terasa begitu santai, dia menikmati makanan yang kubuat untuknya, saat-saat ini tak akan kulupakan lagi sampai kapanpun.
“Pas Papamu datang, Koko harus ngomong. Kalau Papamu gak setuju...” Ketika kami duduk berdua dan dia bersandar dalam dekapan lenganku aku mengatakan itu padanya.
“Papa bakal setuju Kok, kenapa Papa gak setuju.”
“Jika Papamu gak setuju. Kamu lebih baik jangan memaksa. Koko pernah di posisi gak disetujui dan melawan, akhirnya gak baik.” Apalagi Brother Lam adalah orang yang kuhormati.
“Enggalah, Papa pasti setuju.” Dia memelukku, menyandarkan dirinya di dadaku sementara aku memainkan rambutnya yang halus. Karena alasan ini aku bahkan tak berani menciumnya. Tapi aku tak perlu khawatir lagi dia akan sengaja pergi dengan penggemar beratnya itu.
“Koko...”
“Hmm?”
“Kiss...” Aku tersenyum, kucium saya keningnya.
“Ihh...”
“Apa?” Aku tahu dia mengharapkan yang lain.
“Kok gitu.”
“Jangan nakal.”
__ADS_1
“Kenapa? Koko sama Lisa, sama Stoberi lebih dari kiss.”
“Bilang Papa kamu dulu ya, Koko ngerasa disuruh jaga kamu, pacaran itu hal yang sangat berbeda, Koko gak berani sebelum minta izin, rasanya bersalah sama Papa kamu, dan sama kamu kalau ini akhirnya tidak bisa dilanjutkan.” Dia menatapku dengan entah apa yang ada dibenaknya. “Jangan marah, gini aja dulu oke...”
“Koko itu gak logis.”
“Apanya yang gak logis.”
“Kenapa Papa gak kasih.”
“Bukan masalah kasih gak kasihnya....”
“Fine!” Tiba-tiba dia memotongku, marah. Mungkin marah karena dia gantian cemburu ke Lisa. Padahal itu karena aku menghargai hubungan kami, terutama menghargai Ayahnya yang kuanggap Kakak.
“Tata, jangan marah. Besok kita jalan-jalan.” Kucium pipinya sebagai permintaan maaf.
“Stoberi lagi pusing dihajar sana-sini.” Aku tersenyum padanya dan kujelaskan saja secara lengkap apa yang sudah kulakukan, mengalihkan pikirannya, Stoberi sekarang sedang sakit kepala karena memang begitu kenyataannya. Bahkan besok Senin dipastikan berita tuntuntan delapan perusahaan, plus pemilik proyek akan muncul di sebuah media ekonomi nasional.Tugas yang dibebankan boss dengan ini selesai. Tapi dengan selesainya ini akan datang masalah lain. Cherrie dalam tekanan, orang dalam tekanan bisa melakukan apa saja, kemungkinan besar Orient akan dicurigai sebagai dalang, walaupun Daniel yang bersedia menjadi tameng.
Tapi kemudian Daniel menjadi partner Orient. Orient berhubungan denganku, jika ada masalah dengan Orient aku juga harus turun tangan
“Erwin pengacara kami mengatakan bahwa kemungkinan besar kontrak yang di tanda tangani menguntungkan SCI, hanya jumlah tuntutan ganti ruginya memang besar. Jika muncul di media, nampaknya SCI sedang terlibat masalah yang sangat besar, ditambah dengan tuntutan penyitaan aset. Jika berita ini terdengar di Hongkong, kredibilitas perusahaan utamanya juga akan terpengaruh. Bagaimana mungkin perusahaan yang dibanggakan mengkilap, malah dituntut penyitaan aset dan ganti rugi besar-besaran. Jadi sekarang stoberi lagi sakit kepala semingguan... darah tinggi juga.”
“Wahh kasian amat si stoberi, ... Koko emang tegaan.”
“Bukan tega, tugas dari boss. Tidak ada unsur personal disini sebenarnya kecuali jadi provokator...”
__ADS_1
Malam itu berakhir dengan aku mengantarnya ke rumah, karena kepulangan Bibi.
“Eh, malam Non Tuan, maaf Bibi ke belakang dulu, numpang lewat, karena ke area belakang harus lewat ruang tengah mau tak mau.” Bibi dan Tina lewat sambil senyum-senyum.
“Iya Bi.” Tata yang menjawabnya.
“Bibi bener ke rumah sodaranya, apa kamu suruh jalan-jalan?” Aku meringis lebar.
“Jalan-jalan.” Dia mendorong kepalaku.
“Ya udahlah aku mau pulang Ko, cape udah jalan dari pagi.”
“Anter.”
“Gak usah, mobilku didepan.”
“Oh ya. By the way, tuh bunga dari penggemar di buang aja. Udah layu kan.’
“Trigerred amat sama bunga.” Dia langsung ketawa.
“Ntar digantiin.”
“Bener ya, jangan bilang bunga gak bisa dimakan.”
“Iya Koko gantiin.”
__ADS_1
“Ya sudah aku pulang.” Dia tiba-tiba berjinjit mencium pipiku. “Good night Koko,nanti telepon lagi ya....”
Dan malam itu berakhir dengan aku yang mengelus bekas ciumannya di pipiku.