TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 part 42. Meet In LA 2


__ADS_3

Akhirnya Louis memang tak bisa pergi ke pertemuan itu. Tugasku tidaklah sulit, tapi aku melihat ada seorang wanita lain yang dibawa Colin ke pertemuan.


Nampaknya dia sudah mengenalnya beberapa saat.


"Dia yang menyediakan informasi disini, namanya Emma Wright." Tapi Thomas yang mengenalkannya. Aku berkenalan dengan gadis cantik itu.


"Hallo, ...Aku Julie. Senang bertemu denganmu."


"Kau Julie Harris bukan." Dia ternyata mengenaliku.


"Iya." Aku menyambut genggaman tangannya.


"Aku tak menyangka kau bisa terlibat hal seperti ini. Bagaimana mungkin."


"Aku agen khusus. Jangan bilang ke orang lain." Aku meringis lebar.


"Aku tahu Miss Julie, kita tak bicara tentang pekerjaan kita pada orang biasa. Terima kasih sudah bergabung bersama kami."


Kulihat beberapa saat Colin bicara pribadi dari kejauhan dengannya, mereka nampaknya punya beberapa argumen yang tak terselesaikan. Satu sama lain bicara sambil saling menunjuk.


"Thomas, yang bekerja dalam kasus ini dari awal adalah Colin?" Aku baru tahu sekilas dari apa yang aku pegang. Tapi nampaknya Colin tahu lebih banyak dariku.


"Iya, dia dari awal terlibat. Kasus ini sulit sudah berjalan tahunan. Gadis itu informan bagi kita, walaupun dia juga terlibat secara personal di kasus ini, Emma itu FBI. Tapi ini bukan kasus FBI. Target yang kita selidiki sekarang membunuh Ayah dan Ibunya. Itu alasannya dia bisa terlibat." Thomas menjelaskan lebih lanjut.


"Ohh begitu." Nampaknya banyak hal yang dilewati gadis itu. Pembunuhan itu harus ditanggung olehnya tanpa bisa membalas. Mungkin tak cukup bukti untuk menyeret orang sekuat Herron.


Setelah bicara dengan gadis itu wajah Colin tampak kusut. Padahal kami belum memulai pertemuan. Gadis itu menjauhinya dan nampak tak ingin lagi bicara dengannya.

__ADS_1


"Bertengkar heh." Aku menyindirnya sambil meringis.


"Wanita itu keras kepala." Dia mendengus kesal. Dua-duanya tampaknya kesal.


"Kudengar dia terlibat secara personal, itu yang menyebabkan dia keras kepala mungkin."


"Dia terlalu berani mengambil resiko. Keras kepala, kadang dia menggunakan perasaannya lebih dulu dari logikanya." Colin masih mengerutu.


"Bagaimanapun orang tuanya yang dibunuh. Jika dia tidak mengambil resiko siapa lagi yang akan melakukannya. Mungkin itu yang dia pikirkan, dia akan mengambil resiko apapun untuk bisa membalas kematian mereka." Aku hanya menjelaskan sudut pandang umum dan logis apa yang wanita itu lakukan.


Colin diam. Dia tahu itu kebenaran. Tapi kurasa ada yang terjadi diantara mereka berdua sebelumnya, jika tidak dia tidak mungkin seperhatian itu pada gadis itu. Tapi sudahlah aku tak ingin mencampuri urusannya.


"Jadi bagaimana aku bisa membujuknya." Colin bertanya padaku.


"Membujuknya ntuk mendengarmu?"


"Iya, untuk mendengarku."


"Memastikan tujuannya lebih cepat tercapai dengan caraku." Dia mengatakan itu pada dirinya sendiri. "Terima kasih untuk sarannya Julie."


"Kapanpun kau butuh. Kita teman."


Ternyata kemudian Louis datang menjemputku ketika pertemuan hampir selesai.


"Senang bertemu dengammu. Julie pernah menyebutkanmu." Louis tidak masalah menyapa Colin duluan.


"Ohh kau pacarnya Julie? Senang bertemu denganmu juga.Kau tinggal di LA atau NYC? Julie rasanya pernah menyebutkan kau di NY."

__ADS_1


"Aku memang di NY, sekarang kebetulan aku punya pekerjaan di sini. Jadi bisa menjemputnya di sini."


"Jadi kau juga seorang ... agen." Colin menyimpulkan karena Louis muncul di sini.


"Iya. Beberapa kali aku bekerja sama dengan Thomas."


"Ternyata begitu."


"Baiklah, kalau begitu aku harus pergi dulu." Aku melihat wanita bernama Emma itu sudah keluar duluan tadi. Mungkim bicara dengan Thomas di ruangan lainnya. "Mungkin lain kali jika ada waktu santai kita bisa mengobrol lagi.


"Sampai jumpa jika begitu." Kami berpisah.


"Kau kesini juga, aku sudah selesai, ayo kita kembali saja."


"Dia orang yang ramah."


"Siapa?


"Colin." Aku meringis.


"Ayo kita kembali saja. Jalan-jalan, makan malam."


"Operasinya sulit?"


"Tidak kurasa. Banyak pendukung kali ini."


"Ya sudah, ayo kita pulang saja. Mau jalan-jalan?"

__ADS_1


"Boleh."


Louis datang dan tidak banyak bertanya soal Colin. Dia tidak cemburu dan seperti katanya dia percaya saja padaku. Melegakan bagiku, semoga tidak banyak ombak di hubungan kami ke depan.


__ADS_2