TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 57. The Real Dinner


__ADS_3

Dari pagi, aku sudah tak dirumah. Bukan tanpa alasan aku hanya ingin tak ingin Koko mengecekku di rumah. Jadi dari jam 10 pagi aku sudah di jalan-jalan ke mall. Sebenarnya cuma beli beberapa keperluan rumah. Aku tak akan menjawab kemana aku jelasnya jika Koko mencariku, akan kujawab saja keluar sama teman nanti.


Aku penasaran dia nyari aku apa engga, atau dia akan tetap sok cool, dan tak melakukan apa-apa. Sudah kupesankan staff dirumah jika dia mencariku, beritahu lewat pesan.


Jam 1, sebuah pesan masuk.


‘Non, tadi Pak Derrick masuk cari Non. Saya jawab seperti yang Ibu pesan, sudah pergi dari jam 10 gak tahu kemana.” Aku tersenyum lebar. Well, akhirnya  dia mencariku juga. Biarkan saja, aku tak akan pulang sampai sore nanti. Biarkan saja dia mencariku. Nanti kubawakan dia makanan saja,  sayuran dan buah mungkin, dia kan kambing. Kulewatkan waktu dengan membeli beberapa pakaian, nonton sendiri, beli buku, pokoknya aku tak akan kembali sebelum sore.


Lama aku menunggu dia tidak menelepon atau mengirimkan pesan. Ya sudah, sebodo  amat. Marah juga sebenarnya, udah nyari kerumah bukannya nanya langsung sama aku. Apa dia mungkin nyangka aku pergi kerja di akhir pekan? Karena aku memang kadang-kadang bekerja di  akhir pekan. Sudah hampir putus asa nungguin pesan dia. Akhirnya sebuah pesan masuk jam  tiga sore.


‘Tata, Koko punya makanan banyak dirumah. Kalau makan kerumah ya, makan sama-sama aja.”



Aku senyum-senyum langsung, akhirnya dia ngajak makan versi dia juga. Kubiarkan saja dia menunggu, jam 4 baru kujawab.

__ADS_1


‘Iya,nanti aku mampir.’


Pulang dengan gembira sekarang, ada hasilnya juga  ngerjain dia dengan kembang mawar dari penggemar. Dapet makan malem walaupun dirumah aja, ya biarpun makannya sayur hijau kaya kura-kura ama chinese food lagi ya sudahlah. Dia mah ngomong aja susah.


Jam enam kurang aku sampai kerumahnya dengan membawa pokchoy,brokoli,kailan, sawi dan buah-buahan. Sudah kaya bibi yang habis belanja ke pasar. Tapi masih tetap cantik karena baru dari mall. Touch up!


Kubuka pintu pagar yang ternyata cuma diselot, tapi pintu pertama dikunci.


“Bibi!” Biasanya bibi ada di dapur jam segini, harusnya mendengar panggilanku.


“Mana Bibi? Kok Koko yang buka pintu?”


“Ohh lagi keluar ke rumah sodaranya.”


“Ohh.”

__ADS_1


“Bawa apa?” Dia melihat kantung  yang  kubawa.


“Ohh sayur dan buah.” Aku menaruh kantong belanjaan di meja makan.


“Sayur? Kamu bawa sayuran hijau?” Dia heran aku membawa sayuran.


“Lah koko kan makannya sayur.” Dia tersenyum.


“Kamu ini ada-ada saja.” Dia melihat isi kantong yang kubawa dan membawanya ke kulkas. Menyusunnya sendiri seperti dia juga tahu  dimana tempatnya, well kurasa dia  memang tahu.


Bau panggangan. Dan bau seperti saus tomat di dapur, ada satu kompor induction yang menyala nampaknya.


“Koko lagi masak ya.”


“Iya.” Dia masak? Maksudnya untuk makan malam ini dia yang masak? Hah? Aku melongo sekarang. Dia memakai celemek  masak gelap yang ditinggalkannya di dapur. Udah  kaya koki. What?

__ADS_1


“Kamu udah lapar?” Dia bertanya  sambil tersenyum. Dia memasukkan spaggetti yang berulir-ulir ke air panas, setelah mengeluarkan sayuran yang  dicelup dan tahu sutra yang ditaruh ke piring. Satu pan lagi keluar, mengambil sesuatu yang nampaknya itu saus untuk sayuran, sudah ada bumbunya tinggal dipanaskan. Kerjanya cepat sekali.


__ADS_2