
Minggu, hari bebas.
Jarang ada dalam kamusku berbulan-bulan ini, ada satu pertemuan dengan teman Mama, makan siang. Mama yang sudah lama tak tak bergabung dalam bisnis profesional mengharuskan aku bergabung dengan mereka.
Untunglah ini pertemuan makan siang, karena aku masih mengantuk sampai ke rumah jam dua pagi. Di ponselku yang ku silent ada jejak panggilan Papa lagi. Aku bangun dan melemparkan dengan tak perduli.
Tak lama intercom unit berbunyi. Kulihat layar yang memperlihatkan Papa. Astaga, dia mengejarku kesini. Nampaknya aku pindah ke rumah saja ke tempat Mama nanti.
"Ya Papa?"
"Papa ingin bicara. Kau tak mau mengangkat telepon Papa lagi sekarang?"
"Aku baru bangun Papa. Sudah kubilang aku tak terlibat dengan kesepakatan Philip, tanya saja ke Mama dan Paman, Papa mau kesepakatan berundinglah dengan Mama dan Paman."
"Papa mau bicara!"
"Tidak, aku yang tak mau, tak akan kuberikan aksesnya. Papa pergilah aku tak akan bicara apapun dengammu soal Philip..." Aku memutus intercom itu sekarang.
Dia hanya berani menekanku sekarang, tak berani ke menghadapi Mama sendiri. Lucu sekali, kenapa sekarang dia memutuskan mendesakku sedemikan rupa.
'Buka pintunya Papa mau bicara.'
'Aku tak mau bicara dengan Papa dulu, Papa mau kesepakatan ke Mama dan Paman saja. Selesai.'
'Papa coret kau dari ahli waris jika kau tak menemui Papa.'
'Terserah Papa, mungkin memang itu yang Papa inginkan untuk anak-anak selingkuhan Papa."
Kubalas dia dengan tak perduli. Harta, dia pikir aku akan tertarik dengan warisan, apa dia tak perduli dengan hati kami. Dia punya banyak tindakan bijak yang bisa dilakukannya tapi dia malah memilih yang terburuk yang bisa dilakukannya.
Mama meneleponku kemudian.
"Papamu meneleponmu?"
"Iya, dari semalam dia sudah berteriak marah-marah. Kau tahu Papa jika dia tidak suka sesuatu. Dan pagi ini dia muncul dibawah, mengancam akan mencoretku dari daftar ahli waris jika aku tak bicara dengannya."
__ADS_1
"Dia tahu sekarang dia terpojok." Mama bicara dengan tenang.
"Kurasa dia menyerah sekarang. Tak ada lagi telepon dan intercom. Aku nanti ke rumah Mama saja. Malas jika dia muncul lagi disini."
Dua jam kemudian aku sudah berada di restoran tempat Mama akan bertemu temannya, pertemuan berjalan lancar seperti yang kuharapkan dengan bergabungnya salah satu orang terkuat di Hongkong pembicaraan jauh lebih menarik bagi siapapun.
"Kalau begitu kami menunggu kabar baik kepastian dukungan Anda Bibi Cheung."
"Tentu-tentu, aku akan bicara pada suamiku oke. Tenang saja, dia pasti mendukung kalian. Putrimu ini sangat menyayangi Ibunya." Kami baru beranjak mengirim tamu kami pergi, ketika tiba-tiba....
"Kalian berdua memang sangat sibuk belakangan." Papa berdiri di depan kami. Ternyata dia mengirim orang untuk membuntutiku. Aku dan Mama berpandangan dengan binggung, apa yamg dilakukannya di sini.
"Nampaknya ada urusan keluarga di sini. Janice, Cherrie sayang Bibi pergi dulu."
Bibi Cheung pergi tinggal aku dan Mama yang menghadapi Papa. Mama duduk lagi di meja di ruangan private itu.
"Ada apa? Kita sudah tak ada urusan selain di pengadilan."
"Kau ingin menendangku dengan membawa musuhku kedalam perusahaan? Kau benar-benar bermain kotor, dan kau yang tahu rivalitas Papa dengan Philip Leung benar-benar akan melakukan ini? Kenapa kau harus terlibat ini."
"Aku yang membawa Philip Leung, kau pikir hanya kau yang bisa meremehkanku. Kenapa kau menunjuk Cherrie, kau berhadapan denganku sekarang."
"Kau akan lihat apa aku mampu melakukannya atau tidak, kau akan lihat siapa yang terjungkal sekarang."
Aku diam saja mendengar perdebatan tak berujung itu. Bagian seperti ini kurasa lebih baik membiarkan Mama yang menjawabnya.
Karena Papa tak menjawab Mama melanjutkan.
"Kau takut kalah rupanya, selama ini bukannya kau selalu menghinaku?" Mama tersenyum menang. "Kau ingin jabatan apa? Kita bisa bicara sekarang, memohonlah dengan benar. Semua bisa diatur, bahkan aku bisa mengembalikan jabatan CEO untukmu jika kau bersikap baik dan bertindak sebagai bawahanku yang baik."
"Aku kesini bukan untuk memohon padamu. Jangan mimpi Janice."
"Ohh begitu. Kalau begitu kita adu pengaruh saja, yang akan menang orang terkuat di Hongkong atau Keluarga Chow mu itu. Yang menang nampaknya mendapatkan semuanya bukan. Lebih tepatnya kau yang akan kehilangan semuanya, lihat saja akan kutendang kau ke Malaysia. Bawa selingkuhanmu kesana juga, Hongkong sudah penuh untuk kalian."
Wajah Papa mengelap, kata-kata Mama membuatnya sangat kesal, baru kali ini dia tahu Mama bisa membalikkan keadaan.
__ADS_1
"Kakakmu itu yang akan kukirim ke Vietnam, dan aku mencoret anakmu dari daftar ahli waris sebagai tambahannya." Dia menambahkan kata-kata anak-anak berarti juga dua adik laki-lakiku. Tega sekali Papa, sampai membawa kami semua.
"Anak-anakku tak mengharapkan apapun darimu. Kau mau membuang anakmu? Jadi itu yang ingin kau katakan hari ini. Kau dengar Cherrie, apa yang Ayahmu katakan."
"Ya, Papa mau membuang kami. Aku mendengarnya dengan jelas Mama." Aku hanya mengumamkannya, Papa Lam saja tak pernah membuangku, walau aku sudah membencinya begitu rupa. Ironisnya Papa kandungku malah tega melakukannya. "Terserah saja...." Aku lelah mendengarnya kata-kata kejamnya.
"Mama bisakah kita pulang saja." Aku bersuara pelan sudah tak ingin mendengar apapun lagi dari Papa kandung yang mengatakan ingin membuang kami.
"Ayo sayang, sudah tak usah dengarkan apapun lagi. Ini terlalu menyakitkan untuk di dengar. Wong Lee Man, kau sangat ... tak pantas dipanggil Ayah."
"Apa dia pantas dipanggil Anak!" Papa menunjukku. Sekarang aku meradang.
"Aku memang tak pantas! Yang pantas cuma anak wanita terkutuk selingkuhan bejatmu itu! Kau puas!" Sebuah tamparan yang tak kuduga melayang membuatku pipiku panas.
"Cherrie! Kau ban*gsat! Berani sekali kau memukulnya." Mama mendorong Papa menjauhiku sambil merangkulku.
Aku melihat Papa dengan mata berkaca-kaca, dia sangat membela selingkuhannya itu. Mungkin otaknya susah dicuci oleh wanita itu.
"Berani kau mengatakan sepatah kata lagi... Jangan panggil aku Papa lagi."
"Aku membencimu!" Kutinggalkan ruangan dengan kata-kata itu. Tapi dia menyusulku dengan kemarahan yang sama.
"Bagus! Pergi sana! Anak tak tahu diri! Aku juga tak mau melihat mukamu lagi!" Semua orang di restoran sekarang melihat aku yang pergi dengan berlinang air mata. Aku sudah menunduk tak melihat jalanku sehingga aku menyenggol seseorang.
"Cherrie, kenapa..." Ternyata Bibi Yu Lan istri Papa Lam. Dia kaget melihatku berjalan sambil berlinang air mata.
"Bibi Yu Lan, maaf, aku pergi dulu."
"Cherrie...!" Ku tinggalkan dia dan restoran itu, Mama menyusulku dengan terburu-buru setelah menyelesaikan pembayaran. Aku menangis sendiri di mobilku di depan restoran.
"Cherrie, kau mau kemana? Pulang saja bersama Mama, biar sopir yang membawa mobilmu." Tapi aku hanya mau sendiri sekarang.
"Aku hanya ingin jalan-jalan Ma. Nanti aku pulang. Tak usah khawatir."
Aku menutup pintu mobil dengan cepat dan melaju ke jalan dengan berlinang air mata.
__ADS_1
Sekali lagi aku merasa dibuang. Trauma yang sama! Rasanya sama menyakitkannya, tapi yang ini benar-benar dikatakan langsung padaku.
Di depan mukaku telak!