TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 31. Blooming Hanami 1


__ADS_3

"Shori, Mama dan Papa mau mengunjungi Bibimu di Osaka besok pagi naik shinkasen (bullet train) . Mungkin Senin sore baru kembali."


"Ohh baiklah. Bibi ada acara?"


"Ahh tidak, Mama merindukannya, Bibimu tadi siang menelepon, Sakura sudah mekar sebagian lebih awal di Koriyama kata Bibimu, sebelum terlalu banyak turis Mama mau kesana duluan. Dulu masa muda Mama Mama selalu melihat Sakura di sana."




"Ahh kenapa lebih awal? Biasanya Tokyo lebih dulu."


"Entahlah, tapi itu lebih bagus. Kau mau ikut?"


"Tidak Mama. Mungkin lain kali. Senin aku ada meeting, tidak bisa kubatalkan, jika Mama bilang lebih awal aku bisa menyesuaikan jadwalku."


Aku ingin ke Osaka, sudah lama tak ke Osaka. Sakura di Koriyama, aku cuma dua kali ke sana. Andai Bibi punya perkiraan tepat dan mengatakannya seminggu yang lalu, aku bisa sedikit mengambil cuti sehari yang tahun ini belum pernah kuambil. Jadilah aku tinggal sendiri di Tokyo sementara Mama dan Papa yang bersemangat sudah mengejar jadwal shinkasen pertama jam enam pagi.

__ADS_1


'Mamamu mau dibelikan makanan apa kira-kira?' Jam 9 pagi Ryohei mengirimkan pesan padaku.


'Tidak, mereka sudah di Osaka untuk melihat sakura.'


Shinkasen Tokyo ke Osaka hanya perlu 2.5 jam untuk menempuh 500km yang biasa ditempuh dengan mobil 6.5 jam.


'Ohh melihat Sakura di Osaka. Awal sekali. Kenapa di sana malah duluan.'


'Hanya di Koriyama yang duluan. Biasanya memang Tokyo duluan, entah kenapa bisa duluan di Koriyama, di tempat lain belum atau mungkin hanya sebagian kecilnya.'


Biasanya awal dan akhir di setiap daerah punya jendela waktu 2 minggu antara pertengahan Maret sampai Mei mulai dari wilayah paling selatan yang lebih ke utara yang lebih dingin.



"Masuklah." Dia hanya memakai tshirt panjang polos dengan celana jeans, penampilan berbeda dari sehari-hari aku melihatnya dengan kemeja rapinya. Wanginya tetap sama tentu saja.


Dia tiba di depan pintu dengan bungkusan makanan, aku senang dia suka sekali membawa makanan.

__ADS_1


"Kau membawa ramen." Aku tersenyum melihat isinya.


"Kenapa kau tak ikut ke Osaka?" Dia membawa ramennya ke meja makan dan duduk disana. Kupikir dia akan mengajak makan di luar, aku juga sudah lapar.


"Aku ingin sekali ke Osaka. Tapi itu mendadak, Senin aku ada meeting yang tidak bisa dibatalkan." Bagaimanapun Osaka adalah tempat paling indah untuk merayakan hanami. Tapi tentu saja bagi kami yang bekerja di kantor juga ada acara pesta khusus untuk merayakan hanami, aku harus hadir, jika dibilang semuanya harus hadir di pesta hanami.


"Minggu depan kita bisa ke Osaka beberapa hari di akhir pekan mungkin sampai Seninnya. Kau mau?"


"Kau serius?"


"Tentu saja aku serius."


"Dengan Sayuri? Bukankah dia ada libur hanami?" Aku belum terlalu yakin untuk pergi berdua dengannya sebenarnya. Dia tersenyum melihatku.


"Pergi berdua juga tak apa." Dia menawar.


"Dengan Sayuri saja." Aku juga menawar. Kenapa malah aku yang takut dan tidak nyaman jika pergi berdua dengannya? Entahlah mungkin karena kami memang masih zona perkenalan.

__ADS_1


"Kau penakut untuk ukuran gaijin." Dia langsung menyindirku sambil makan dan tertawa. Aku mengulum sumpitku dan memikirkan ucapannya.


"Aku bukan Yuna Aize yang melemparkan diri padamu." Sekarang dia diam mendengar aku menyinggung Yuna Aize, apa aku membuatnya tersinggung, apa aku kelewatan. Mungkin aku harus minta maaf." Aku minta maaf. Aku tak bermaksud mengingatkanmu seperti itu." Sekarang kami sama-sama diam.


__ADS_2