
“Kamu akhirnya datang.” Papa ternyata sudah ada di rumah saat kami sampai. Dia memelukku dengan hangat.
“Papa sehat?”
“Papa sehat, ayo masuk ke dalam, adek-adekmu juga juga nunggu.”Papa melihat Ko Derrick yang masuk bersama kami. “Derrick, makasih sudah jaga dia.” Papa menepuk pundak Koko.
“Bukan apa-apa Brother.” Kami masuk ke ruang keluarga. Dua orang anak muda umur dibawah 25 kukira terlihat.
“Ce-ce (Kakak perempuan 姐姐 [ze2 ze2] ), ...” Mereka berdiri menyapaku duluan secara bersamaan. Mereka sangat sopan.
“Nahh yang ini Daniel.” Tante Yun memperkenalkan kami, aku tersenyum pada pemuda tampan itu.
“Hallo, senang ketemu kamu.” Aku menyalaminya.
“Yang ini Roland.”
“Mereka ganteng-ganteng.” Mereka berdua tertawa atas pujianku.
__ADS_1
“Cece kami juga ternyata sangat cantik. Harusnya cece datang lebih awal.” Sesi pertemuan pertama yang menyenangkan. Mereka tidak menampakkan aura permusuhan karena cece yang baru mereka ketahui ini, mengajakku ngobrol, walaupun kami benar pertama kali baru bertemu. Pembawaan mereka mungkin karena Ibu mereka yang juga ramah.
“Hi Ko Derrick, lama gak liat ...” Anak-anak Papa juga mengenalnya ternyata.
Makan malam berjalan meriah. Perasaan diterima ini membuatku senang tentu saja, mereka berusaha membuat suasana meriah, bersedia melakukan pembicaraan di bahasa yang kumengerti, menemaniku ngobrol, sementara kadang Papa dan Ko Derrick bicara dengan bahasa Canton yang tidak kumengerti sama sekali.
Makan malam berakhir dan Ko Derrick harus kembali ke hotel.
“Nanti Koko telepon kapan bisa jalan. Besok masih harus kerja...”
“Oke. Kayanya Tante Yun udah sibuk dengan acara jalan-jalan versi dia. Thanks Ko, pas Koko sempet aja.”
“See you...” Aku melihat kepergiannya yang diantar oleh Daniel, hotelnya tak begitu jauh dari rumah ini.
“Papamu kalau gak ada Kokomu itu gak mungkin kasih kamu sendiri di Jakarta.”
“Iya Tante, Koko yang banyak bantu pas hari Mama gak ada.” Tante Yun memperhatikan ekspresiku. “Kenapa Tan?”
__ADS_1
“Kamu suka sama Koko?” Pertanyaan pelannya langsung membuat mukaku langsung memanas.
“Tante Yun, kita cuma adik-kakak. Mana mungkin...” Tante Yun senyum-senyum.
“Yakin kamu tidak suka?” Jika Tante Yun tahu aku yakin dia tidak bisa menjaga mulutnya. Aku tak mau mengambil resiko Koko tahu aku suka dia sekarang. Dia kemungkinan besar akan langsung mengambil jarak.
“Tante, aku anggep dia Koko aja. Jangan bilang macam-macam, nanti dia terganggu Tante.”
“Baik-baik. Dia memang ganteng, kelihatan masih muda. Tapi dulu gila kerja, males ngadepin cewe, ya gitulah pengalaman hidupnya memang agak keras. Pemilih, yang ngejar dia banyak, termasuk itu Cherrie itu.”
“Cherrienya tahu dia bukan anak Papa Tante?” Aku tertarik dengan nama Cherrie ini. Bagaimana jika dia benar-benar muncul di Jakarta nanti.
“Tadinya gak tahu, pas umur 12 gitu dia pernah kecelakaan, dari situ tahunya, Papa tirinya ngomong itu anak dia. Ya sudah akhirnya Papa sampai tes dna ke dua anaknya, heboh waktu itu walau mereka sudah cerai kira-kira 7 tahun, sampai sekarang akhirnya ketahuan cuma Liam yang anak Papa. Sampai dua keluarga ribut besar, akhirnya anak lakinya ikut Papa kamu, pas itu masih kecil Liam, baru 10 tahun, waktu itu Tante yang ngerawat, sampai sekarang dia panggil Tante, dia gak tahu apa-apa sampai binggung, kasihan, makanya Liam orangnya agak serius, jarang bercanda. Dia punya masa kecil yang agak kacau...”
Aku baru tahu masalah keluarga ini, hidup Papa juga ternyata penuh pergolakan.
“Ini kamar kamu, istirahatlah, besok kita jalan-jalan berdua.” Tante Yun menunjukkan kamarku. Bajuku malah sudah disusun di lemari oleh staff rumah.
__ADS_1
“Terima kasih Tante.”
“Ini rumahmu juga, jangan berterima kasih.”