TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 38. Father and Other Family


__ADS_3

"Ini Paman Lin Yi, kakak pertama Mama, ini Bibi Yang Zi, ..."


"Paman, Bibi..." Aku memberi salam ke mereka. Kami dirumah Paman Pertama sekarang.


"Adik, wajahnya mirip sekali denganmu." Bibiku langsung berkomentar ketika aku tiba didepannya. "Aku merasa melihatmu 20 tahun yang lalu, lihat kalian ini memanglah Ibu dan anak."


"Kau benar, aku waktu video call dengannya langsung tahu dia mirip sekali denganku, aku langsung yakin dia memang putriku."


"Syukurlah kalian bertemu akhirnya, kami tahu betapa tangisannya ketika dia berpisah darimu, bagaimana dia selalu mencoba mencarimu Sandra, sayangnya saat itu kami sam sekali tidak punya foto liontin itu. Pencarian pasti bisa lebih cepat. Tapi aku juga tak menyangka Ayah bisa sampai membawanya ke Hongkong."


"Nah ini anak-anak kami, berarti sepupumu, ..." Aku dikenalkan ke masing-masing dua sepupuku. Mereka masing-masing memiki sepasang anak pria dan wanita.


Bisa memiliki anak yang kedua, tapi setahuku hanya orang-orang tertentu saja yang bisa membayarnya, karena perbandingannya adalah beberapa kali gaji rata-rata tahunan. Jika mereka tidak bisa membayarnya anak mereka tidak diakui dan tidak dimasukkan ke dalam dokumen negara, tidak mendapatkan jaminan sosial, bahkan tidak bisa bersekolah di sekolah pemerintah.


Walau sekarang sejak 2015 China sudah memperbolehkan memperoleh anak kedua bahkan ketiga karena perlambatan kelahiran yang drastis.


"Kau pasti sangat senang sekali adik..." Paman tertua menepuk bahu Mama. Wajah Paman tertua Mama ini tenang sekali dan banyak senyum. Aku menyukainya sekarang.


"Siang-siang tiba-tiba aku menerima telepon dari Kakaknya adalah hari paling mengejutkan, paling bahagia dalam hidupku Kakak."


"Adik, bagaimana dengan suamimu? Dia tahu?" Sekarang Bibi yang bertanya.


"Kurasa Chen Xin akan mengadu kepada Ayahnya segera, terserah dia. Anak itu selalu membuatku mengelus dada. Kemarin dia meminta uang lagi, dia bertemu dengan Sandra kau tahu apa yang dilakukannya. Dia langsung menyuruhnya pergi tanpa basa basi. Aku tak bisa bicara dengannya lagi... Entah harus bagaimana bicara dengannya."


"Sudah kubilang tak usah memberinya uang lagi. Kau yang tak mendengarku."


"Sekarang aku sudah memantapkan diriku Kakak, aku akan kabur ke Hongkong tak akan berada di rumah lagi jika dia meminta uang."

__ADS_1


"Sandra, kau jangan dengar adik tirimu itu. Satu keluarga ini sudah tahu kelakuannya. Apalagi istrinya setiap kumpul keluarga dia yang merasa paling cantik, paling kaya, paling semuanya. Omongannya setinggi langit...." Aku meringis, aku sudah mencaci adik iparku sendiri.


"Ohh Sandra sudah mencaci makinya sendiri karena dia seperti toko berlian datang di depan Sandra."


"Akhirnya Bibi kau punya pembela .... Sandra bagus. Jika nanti kita berkumpul lagi, sebentar lagi tahun baru, aku ingin lihat apa dia berani berkoar lagi, kau tahu kami muak setiap melihat dia bicara dan memamerkan apa yang dia punya." Salah satu sepupu wanitaku yang kutahu bernama Yang Zi sekarang membelaku. "Ceritakan bagaimana kau mencercanya..." Ternyata bukan aku saja yang muak dengan adik iparku.


"Ahh iya dua bulan lagi tahun baru, ada kumpul keluarga besar di rumah ini, aku ingin lihat apa dia berani pamer lagi di depanmu." Sun Li, satu lagi sepupuku menimpalinya. Umur mereka semua diatasku, dan aku merasa diterima oleh keluarga Mama. Aku hanya tidak diterima oleh adik tiriku dengan alasan klise.


Takut aku merebut harta warisannya.


"Iya, Mama yang awalnya menyuruhku menyindirnya. Tapi saat dia muncul di depanku aku tak tahan ingin mencercanya..." Dua orang sepupuku tertawa sekarang.


"Tapi aku takut nanti bagaimana suamimu akan menanggapi kemunculan anakmu, dia belum muncul saja kau sudah direndahkan apalagi sekarang."


"Jika dia berani macam-macam, akan kukirim pengacaraku membawa berkas perceraian. Aku akan membela Sandra." Ibuku tiba-tiba mengatakan pikirannya.


"Aku yakin. Kami tidak saling menggangu selama ini, jika dia berani menggangu Sandra akan kukirimkan berkas perceraian padanya. Sudah cukup 40 tahun aku bersabar dia meremehkanku kukira. Tapi jika dia meremehkan dan mengancam Sandra aku tidak akan berkompromi."


"Kakak akan mendukung apapun yang kau inginkan. Rasanya aku juga sudah cukup menanggung penghinaan bertahun-tahun sebagai kepala keluarga, bahkan anak dan istri keduanya berani dibawanya ke sini bersamamu." Paman yang bicara sekarang.


"Kau tak sadar Kak, sudah dua tahun sejak dia tahu aku pemilik Ping An dia tak berani melakukannya." Ibu mencibir dan Bibi yang tertawa langsung sekarang.


"Ya-ya kau benar, aku juga menyadarinya. Sekarang sebenarnya gantian dia yang takut padamu adik." Jadi malah Papa tiriku yang takut diceraikan.


"Nampaknya dia tahu kau berguna. Dan tak berani mempertaruhkan reputasinya sebagai suami Nyonya Zhuo, salah satu pemilik saham terbesar Ping An, roda berputar sekarang, bisnis keluarganya juga kalah saing sekarang, dia hanya menunggu kejatuhannya saja. Sebenarnya sudah lama berputar hanya dia terlalu sombong saja buat sadar." Paman berkomentar, ternyata dia juga tak suka adik iparnya itu.


"Kaluarga istri kedua Ayah juga tinggal di Shanghai?"

__ADS_1


"Iya, istrinya seorang penyanyi bar yang cantik pada masanya. Anaknya cuma beda setahun dengan Cheng Xin, kau bisa bayangkan Sandra. Saat Kakekmu sudah tak ada dia membawa istri dan dua anaknya ke rumah ini dan memperkenalkannya kepada kami secara terang-terangan. Rasanya aku sangat ingin mengusirnya tapi bagaimana dia suami adikku."


Nampaknya Mama sudah kebal dengan apa yang dilakukan suaminya, jika dia berjodoh dengan Ayahku setidaknya dia tidak mendapatkan perlakuan itu. Tapi apa boleh buat. Nasib Mama sudah dituliskan.


"Mama aku boleh mengunjungi makan Papa. Apa ada fotonya di makamnya?"


"Boleh tentu saja. Ayo kita kesana."


Kali ini adalah kali pertama aku mengunjungi makam Papa. Mama bercerita dia dulu hanya punya satu foto Papa tapi ditemukan dan kemudian dibakar oleh Kakekku. Sekarang aku bisa mengenalnya dari hanya foto di makamnya.


Kami sampai, pemakaman rapat di pinggir kota itu nampak tenang karena bukan masa ziarah. Mama membawaku menyusuri jalan-jalan yang membawaku ke sebuah nisan tinggi di bagian atas.


Sebuah nama tertulis disana. Liu Zhe Wan.


"Papa-mu meninggal 6 tahun lalu, saat umurnya pas 60 tahun." Aku melihat fotonya, guratan ketampanan masa mudanya terbayang olehku. Nama istri dan dua anaknya tercantum disana. Mataku memanas, akhirnya aku bisa berjumpa dan melihat rupanya walaupun tak bisa bicara lagi dengan Ayahku. Yang penting aku tahu dia dan Mama berusaha untukku, walau mereka harus menyerah karena Kakekku yang kejam.


"Dia pasti tampan di usia mudanya, tak salah Mama jatuh cinta padanya."


"Papamu memang tampan." Mama tertawa kecil. "Zhe Wan, aku menemukan putri kita akhirnya, dia secantik aku bukan. Berkati dia dari tempatmu... Semoga hidupnya bahagia." Mama mengelus foto Papa. Betapa takdir yang menyengsarakan, harus bersuami orang yang meremehkanmu. Orang yang benar mencintaimu harus hidup bersama dengan orang lain.


Tapi takdir sudah takdir, mungkin nanti satu saat di kehidupan lain mereka bisa bersama dan berbahagia.


"Papa, aku akhirnya bertemu denganmu. Tenanglah disana. Aku akan menjaga dengan baik, mengantikanku untuk membahagiakannya." Aku merangkul Mama, membuat Mama tersenyum dan menghapus air matanya. Mamaku harus bahagia sekarang. Apapun yang terjadi, bahkan anak perongrong itu tak boleh membuatnya sedih.


"Dia anak yang berbakti Zhe Wan, putri kita ini sangat baik." Mama berusaha tersenyum.


Aku akan membawanya ke Hongkong. Tinggal bersamaku dan Oliver. Dan Cheng Xin sialan itu tak akan bisa menganggunya lagi dengan rengekannya.

__ADS_1


__ADS_2