TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 30. Awkward Start 4


__ADS_3

"Shiori, kau semalam pulang malam, ada acara?" Jumat pagi, Mama sudah bertanya, karena belakangan biasanya jam delapan sudah sampai kerumah.


"Ryohei-san mengajak makan malam."


"Ryohei? Dia dan anaknya sering mengajakmu keluar. Kalian punya hubungan khusus."


"Ehmm, sekarang anggap saja teman baik."


"Sekarang teman baik? Maksudmu Ryohei mengatakan sesuatu padamu?"


"Dia tidak meyakinkan Mama. Kurasa kami berteman saja dulu."


"Apa maksudmu tidak meyakinkan. Dia orang yang sopan, menyayangi anaknya. Apa dia mengatakan sesuatu padamu dan kau menolaknya?"


"Aku tidak menolaknya, aku hanya bilang kami jalan saja dulu."


"Kau itu orang sebaik itu, kau mau yang seperti apa. Sayang keluarga, baik padamu, sopan ke orang tua, tampan, mapan. Shiori, jika kau mencari yang sempurna itu tidak ada. Semua orang ada kekurangannya." Mama mulai menceramahiku sekarang.


"Mama, sudah kubilang aku tak menolaknya. Hanya kami berjalan dulu saja, tidak perlu terburu-buru."


Mama sekarang menghela napas.


"Mama, tak usah khawatir oke. Semuanya akan baik-baik saja."


"Ryohei sudah sebaik itu, kau tetap mempersulitnya."

__ADS_1


"Aku tak mempersulitnya Mama, aku hanya membiasakan diri bersamanya." Mungkin Mama tak mengerti karena tak menjalaninya. "Aku pergi dulu Mama sayang." Dan aku meninggalkannya dengan sebuah kecupan sayang.


Hari ini ada penilaian kredit baru. Kami pergi ke sebuah kantor dekat dengan kantor Ryohei. Sebuah perusahaan mengajukan nilai pinjaman cukup besar untuk perluasan pabrik mereka. Faselitas produksi yang sudah berjalan biasanya dengan mudah diluluskan, tapi ini dengan nilai cukup besar sehingga aku harus ikut.


"Ini direktur kami, Nona Shiori Tanaka." Seorang manager mengenalkanku pada klien yang akan mempresentasikan proyek mereka. Beberapa pria melihatku dengan cukup takjub sebelum mengenalkan dirinya, seperti yang kukatakan melihat wanita di posisi tinggi cukup sulit di Jepang.


"Sihlakan mulai presentasinya."


Ternyata yang memimpin delegasi adalah direktur produksi, seorang pria American berusia mungkin sekitar akhir 40 tahunan kurasa, tapi karena mungkin keterbatasan bahasa Jepangnya dia digantikan assistennya menjelaskan kepada kami.


Presentasi berjalan dengan baik sebenarnya, kami mendapatkan point-point yang ingin kami tanyakan. Tapi beberapa nampaknya kurang terjelaskan dengan baik. Yang bisa mengerti bagaimana menjelaskan secara detail hanya pimpinan delegasi.


"Kau tahu pertanyaanku tadi Tuan Helmer, tolong jelaskan padaku, aku bisa mengerti dengan sempurna apapun yang kau katakan." Dia melihatku dan mulai menjelaskan dengan lebih rinci dan menjawab beberapa pertanyaan lagi selanjutnya dariku.


"Tuan Helmer, aku 25 tahun hidup di USA dan Eropa, bahasa Inggrisku sudah seperti bahasa Ibu."


"Benarkah. Pantas saja Anda bisa mengerti begitu lancar."


Kami diundang makan siang bersama tim kemudian. Pembicaraan kami beralih cukup lancar karena dia ternyata kelahiran Massachusetts, tempat aku belajar di Universitas.


Tak disangka aku melihat Ryohei-san kemudian, dia hanya tersenyum padaku, karena dia juga nampaknya sedang menjamu tamunya. Jadi aku meneruskan mengobrol dengan Tuan Helmer seperti biasa. Dia orang yang penuh selera humor jika kau bisa mendengarnya bicara. Sayangnya hanya aku yang cukup bisa menangkap dengan sepenuhnya.


Di akhir aku pamit ke toilet dan Ryohei nampaknya sengaja melakukan hal yang sama.


"Klien baru?" Dia menatapku dari kaca wastafel. "Kau terlihat akrab sekali dengan gaijin itu, dia hanya bisa bicara dengammu?"

__ADS_1


"Iya. Gaijin klien baru, bahasa jepangnya agai buruk, jadi yang bisa diajaknya bicara memang cuma aku.." Aku sengaja menggodanya, karena dia sensitif soal gaijin manapun yang kutemui. Sepertinya dia sangat tersaingi dengan gaijin itu.


"Begitu, pantas kau bersemangat sekali." Sekarang dia muncul dengan sindiran lagi


"Kau cemburu?" Aku meringis geli. Gaijin itu sudah hampir 50, apa dia tidak lihat rambutnya yang sudah botak di depannya. Dia diam saja tidak membalasku.


"Mungkin kau mengajarinya makan sushi kali ini bukan." Dia tak serius dan menyindirku, aku tertawa.


"Makan sushi tak perlu diajari Ryohei-san."


"Hmm begitu. Baguslah berarti tebakanku salah." Aku menghadap ke arahnya, merapikan dasinya yang sedikit agak miring. Dia melihatku dengan mata penasarannya, parfumnya itu tercium lagi olehku.


"Kau manis sekali, apa kau cemburu dengan kakek-kakek botak. Dia gaijin, tapi standarku nampaknya sangat jauh. Kau lebih tampan darinya. Kau puas?" Sekarang bibirnya mengulaskan senyum tipis karena kupuji. "Aku pergi dulu oke,..."


"Besok aku kerumahmu." Dia bicara sehingga aku harus kembali melihatnya lagi.


"Hmm terserah padamu. Bersama Sayuri bukan."


"Kau lebih mengharapkan bertemu Sayuri daripada aku?" Aku tertawa.


"Jadi sekarang kau cemburu ke anakmu sendiri?" Aku tersenyum lebar. Dia kelihatannya kehabisan kata menjawabku, aku memang gadis yang sulit dihadapi nampaknya. "Datanglah, aku menunggumu tentu saja." Wajahnya nampaknya terlihat lega dengan jawabanku.


"Nanti kutelepon oke." Aku memberinya tanda oke dan dengan kata-kata itu aku berbalik meninggalkannya.


Nampaknya dia benar serius tentang kami. Kali ini tanpa anaknya harus terlibat.

__ADS_1


__ADS_2