TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 4 Part 53. Please Go Away


__ADS_3

Kurasa aku sudah mengemasnya dengan bahasa sedemikian rupa sehingga dia tidak tersinggung.


"Kalian ini begitu baik, baiklah. Semoga makan malam ini bisa kalian nikmati. Terima kasih sekali lagi sudah menerima kami di sini." Akhirnya kami bebas dari makan malam tiap hari.


"Cucuku ini memang sangat sopan dan pintar, dia bercita-cita kuliah di Harvard, dia sedang belajar keras untuk bisa kuliah di sana."


"Ohh benarkah, kau pasti sangat pintar. Harvard, itu sangat sulit."


"Asal kita berusaha dengan keras pasti bisa. Itu yang semua orang yang sudah berhasil masuk ke sana katakan." Aku tak suka mendengar dia mengatakan itu sulit. Sayuri saja tak pernah mengatakan kerja keras yang dia lakukan sulit.


"Jika kau ingin masuk kedokteran seperti Kakak, kakak bisa membantumu. Keluarga Kakak punya beberapa saudara di Tokyo University dan Kyoto University, dua fakultas kedokteran terbaik di Jepang."


"Ahh iya, Yumi kesini juga karena dia membuka cabang klinik kecantikannya di Tokyo. Dia akan sering berada di Tokyo. Itu ide bagus Sayuri, menjadi dokter juga pilihan yang bagus." Ibu menanggapi obrolan antara Sayuri dan Yumi. Nampaknya dia mendorong gadis ini ke sini.


Aku harus memberi tahu tentang aku dan Shiori secepatnya. Jika tidak gadis ini akan mencoba menawarkan dirinya.


"Tidak, aku tak suka darah. Aku sudah punya pilihanku sendiri." Sayuri tersenyum.


"Tapi bayangkan kau tak usah bersusah payah diantara kurang dari 5% yang diterima, di University of Tokyo kau pasti diterima. Lagipula dokter itu profesi mulia, jika kau masuk keluarga manapun kau pasti lansung diterima." Yumi ini sangat suka mengutarakan sudut pandangnya. Sayuri diam, dia sudah malas nampaknya menanggapi Yumi.

__ADS_1


"Apa yang menjadi pilihannya, aku sebagai Ayahnya mendukungnya. Tujuannya ke Harvard jelas bukan untuk masuk ke keluarga manapun. Dia ingin melihat dunia. Orang-orang yang dia kenal di sana bukan lagi level Jepang, levelnya ekonom dunia, mungkin salah satunya akan menjadi menteri, president, penentu kebijakan negara. Bukan hanya level keluarga ternama di Jepang, tapi berbagai belahan dunia." Sayuri tersenyum padaku, aku memberinya semangat untuk tidak mendengarkan seseorang yang bukan siapa-siapa ini.


Masuk ke keluarga manapun di Jepang, jika itu tujuannya, jelas bukan tujuan Sayuri. Seperti Sayuri, aku jelas langsung tidak menyukainya dalam pertemuan pertama. Dia terlalu memaksakan idenya, tidak tahu tempat bicara.


"Papa yang terbaik." Sayuri ganti merangkulku. Siapa kau bisa menyuntikkan ide dan cita-cita, masuk ke keluarga manapun di Jepang. Jika kau punya kemampuan mungkin harus kau buktikan dengan masuk keluarga sekelas Hisao Yamada. Seperti Sayuri aku lansung tidak menyukainya di pertemuan pertama. Wanita ini tak tahu tempat mengungkapkan idealismenya. Dia berpikir idealismenya paling benar.


"Benar bukan Sayuri, ayo kita makan, setelah itu istirahat, besok kita masih banyak pekerjaaan dilakukan." Aku melempar tatapan tidak enak padanya. Jika dia tidak merasa melewati batas itu kelewatan.


"Setuju Papa." Kami berdua memang sudah kompak, keputusanku untuk menunggu sampai sekarang dan menemani Sayuri melewati masa-masa sulit kepergian Ibunya terbayarkan sekarang. Kami berdua bisa layaknya teman dekat bukan sekedar Ayah dan anak lagi. Dia tumbuh dengan dukungan yang dia perlukan.


"Ahh sudahlah, ayo kita makan saja." Ibu menengahi kami.


"Terima kasih untuk makan malamnya. Saya dan Sayuri pamit untuk istirahat, besok ada sopir dan mobil yang tersedia untuk mengantar Ibu, Bibi dan Yumi-san kemana pun kalian ingin."


"Sobo, aku pamit istirahat di kamar, ada sedikit pekerjaan sekolah yang belum aku selesaikan. Bibi dan Kakak, aku pamit istirahat." Aku dan Sayuri minta diri dengan sopan.


"Sihlakan..."


Akhirnya kami terbebas dari beramah tamah di meja makan. Sayuri mengandengku ke kamar atas untuk bicara.

__ADS_1


"Papa kau lihat sendiri bukan. Astaga, dia menganggap dia yang paling benar, dia menasehati semua orang, apa kau menyukainya." Sayuri langsung mengomel begitu pintu kamar tertutup. Dia sudah tak sabar mengeluarkan pikirannya.


"Kau benar, dia menganggap dirinya hebat." Aku menggelengkan kepalaku."


"Papa benar, dia menyangka dirinya sangat hebat."


"Tapi begini saja, dia tamu Sobo kita tidak bisa menyinggungnya, jika Sobo tersinggung kita akan ganti dimarahi, tapi kita bisa berusaha mengabaikannya oke. Kau setuju..."


"Oke. Tenang saja, jika dia berusaha mendekati Ayah di rumah ini aku akan menganggunya." Aku tersenyum lebar sekarang.


"Setuju. Bantu Papa , sepertinya dia akan berusaha mendekatkan diri. Papa belum bisa mengenalkan Kakak Shiori sekarang, lagipula Kakak Shiorimu ada di Hongkong, kita masih punya masalah Yuna Aize belum kelar, dengan masalah rumit yang kita hadapi, Papa akan berusaha menyelesaikan Yuna dulu."


"Aku mengerti Papa. Tenang saja kita akan kerjasama. Yang jelas dalam seminggu ke depan kita tidak usah makan masakan hambar."


Aku mau tak mau tertawa. Kau benar setidaknya kita tidak makan masakan hambar.


Jalan kami masih panjang nampaknya.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2