
Dua minggu kemudian aku berdiri di sebuah klub eksklusif yang hanya bisa dimasuki dengan pendaftaran member khusus di Manhattan, klub ini khusus mengadakan business luncheon, makan siang bisnis yang diperuntukkan bagi para businessman bertukar jaringan.
Beberapa saat aku bisa mendapatkan aksesnya, dan aku dalam tugas kali ini. Bukan tugas yang berbahaya, Kelly hanya ingin aku memastikan bahwa seseorang muncul dalam sebuah pertemuan dan aku mengambil fotonya diam-diam dengan kamera khusus yang disamarkan menjadi jam tangan.
Itu selesai dengan mudah.
Tapi kemudian aku melihat seseorang yang kukenal sebagai Colin Knight di sana. Dia pernah mendekatiku, tapi kuabaikan, dia bergabung dengan orang yang menjadi targetku. Yang menjadi targetku kali ini adalah orang tua bernama Sam Lynch, aku tak tahu siapa dia tapi jika dia masuk daftar buruan berarti dia punya masalah tentu saja.
Sudahlah biarkan saja, aku tak mau mencari masalah. Sayangnya masalah tetap terjadi.
"Julie." Colin memanggilku saat aku baru akan mengajak temanku pergi. Colin ini adalah teman Kakakku. Hanya berbeda dua tahun denganku. Dia sebenarnya baik, kakakku bilang dia orang yang bisa dipercaya, hanya aku terlalu malas dengan istilah kencan saat itu. Terlalu menikmati berkencan dengan duniaku sendiri.
"Ohh Colin, kebetulan sekali kau disini." Dia tersenyum melihatku. Aku tahu dia menaruh hati sejak lama, tapi dalam lima tahun sejak putus dengan Gary hidupku rasanya seperti lintasan kereta cepat, pandanganku hanya ke depan tak punya waktu untuk melihat padanya.
"Kau di NY rupanya."Suara dan wajahnya tenang, dia orang yang terlihat selalu serius, aku beberapa kali bicara padanya saat dia dulu masih sering datang kerumah kami. Tipikal orang yang memikirkan semuanya dulu baru bicara.
"Iya, ada pemotretan brand dan ada yang ingin kemitraan baru di sini."
"Kulihat restoranmu di Manhattan ramai, investasimu berkembang dengan baik."
"Iya, nampaknya ditangani orang yang benar."
"Sedang dengan kolega?"
"Iya, tapi aku sudah akan kembali sebentar lagi."
"Mau makan malam denganku?" Aku ragu menerimanya, tapi mungkin tidak buruk juga. Mungkin aku harus memberi kesempatan untuk diriku sendiri. Lagipula dia memang tampan.
"Baiklah. Kapan?"
"Terserah, aku akan mengikuti jadwalmu." Kali ini dia tersenyum. Baru kali ini aku mengiyakan ajakan makan malamnya. "Kau tinggal di Warren Street bukan?"
"Kau pernah ke sana?"
"Dulu sering." Nampaknya dia dan kakak menang sahabat karib.
"Besok oke."
"Kujemput jam 7?"
"Iya, baiklah."
"Baiklah. Jam 7 aku akan dibawah." Aku mau taj mau tersenyum dengan antusiasmenya.
"Ehm, aku pergi dulu oke. Masih ada yang harus kukerjakan. Sampai ketemu besok." Ini canggung, aku mengenalnya sudah lama sebagai sahabat Kakak, merasa diharapkan seperti ini tidak enak.
"Iya. Hati-hati." Aku pergi dengan merasa diperhatikan dari belakang.
Sebenarnya aku mau bertemu Louis, dia membuatku penasaran. Aku belum sempat meneleponnya karena padatnya jadwal kerja, tak mungkin aku sengaja datang ke kantornya walaupun aku tahu.
Sekarang saat perjalananku ke studio foto aku meneleponnya, ini masih jam makan siang lagipula.
"Julie."
"Hi." Aku mendadak bingung apa yang harus kukatakan.
__ADS_1
"Kenapa kau menelepon?" Tanggapannya datar dan formal, membuatku ciut duluan.
"Ohh aku di NY. Hanya bertanya bagaimana kabarmu. Apa kau sibuk?"
"Baik. Saat ini tidak kurasa. Ini jam makan siang."
"Ehm, mau makan malam denganku." Sekarang dia diam memikirkan ajakanku. Aku bertindak duluan. "Aku menyetujui ajakan makan malammu 2x, setidaknya kau membalas itu. Jangan jangan terlalu jahat padaku, aku yang akan membayar." Dia tertawa kecil sekarang.
"Dan kau perhitungan sekali."
"Aku hanya menawar hutang 2x makan malam." Entah kenapa aku ingin melakukan ini, aku rasa aku sudah gila. Tapi rasa ingin melihatnya lagi membuatku terlalu berani.
"Apa yang kau harapkan sebenarnya Julie.".
"Tidak ada." Aku sendiri tak tahu apa yang kuharapkan darinya. "Aku hanya ingin bicara denganmu. Apa itu salah."
"Baiklah, kapan?"
"Aku akan berada di sini sampai akhir bulan. Apa akhir pekan ini boleh, Sabtu malam."
"Baiklah, kita bertemu di tempat yang kau inginkan."
"Oke aku akan kirim tempatnya nanti."
"Baiklah, Sabtu malam." Dengan itu aku membuat janji temu dengan Louis lagi.
Jika Thomas dan Kelly tahu aku akan di ceramahi panjang lebar soal ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Oh, dia melapor padamu ternyata?" Kakak keduaku, Adam Harris adalah Kakak yang paling dekat denganku. Dia sangat merekomendasikan temannya itu.
"Tentu saja, dia harus melapor padaku jika mengajakmu kencan."
"Itu bukan kencan, hanya makan malam. Jangan berpikir macam-macam."
"Setidaknya aku tahu kau didekati orang yang bisa kupercaya. Dia pria yang baik Julie, hanya dia terlalu bekerja keras untuk bisnisnya, juga punya pengalaman beberapa kali tidak dengan wanita yang salah, sama sepertimu. Tapi sekarang nampaknya dia sudah di tahap stabil dan punya lebih banyak waktu luang."
"Adam, kau senang sekali mempromosikan temanmu itu. Kau menelepon hanya untuk ini, atau kau punya urusan lain?"
"Adik jelek, kudengar kau membuat masalah di Tokyo?"
"Masalah apa yang kubuat di Tokyo?"
"Seseorang mengatakan kau bermasalah dengan Mark Ivanir, Julie kau harus tahu dia tidak mudah dihadapi, kenapa kau bermasalah dengan orang semacam itu." Kuceritakan apa yang dilakukannya, mulai dari memberiku hadiah, tiba-tiba aku tahu dia sehotel denganku dan memaksa memegang tanganku.
"Tak bisakah kau menghindarinya saja, dia orang yang bermain di politik orang seperti itu cukup sulit dihadapi?"
"Adam, tenang saja, dia akan menerima masalah besar nanti. Kau tak usah khawatir. Dia tidak akan punya waktu mengurusku lagi. Kau pikir dia tidak sering mencari masalah dengan orang, musuhnya banyak di luar sana." Andai dia tahu masalah apa yang sudah kubuat dan dengan siapa aku terlibat.
"Maksudmu bagaimana?"
"Sudahlah, anggap saja aku punya intel yang bagus. Jangan khawatir soal Mark Ivanir, dalam beberapa hari ini dia akan tamat. Percayalah padaku."
"Baiklah, kuharap kau benar. Tambahan untukmu, bersikap baiklah kepada Colin."
__ADS_1
"Kau di pihak adikmu atau temanmu? Kau harus pilih satu."
"Kalian akan berdua nanti kenapa aku harus memilih satu. Selamat berkencan." Aku harus meringis geli mendengarnya bicara.
Jika boleh dibilang aku lebih memikirkan pertemuan dengan Louis daripada Colin. Apa yang salah denganku.
Jam 7 aku turun ke lobby, Colin di sana duduk menunggu. Dia terlihat tampan seperti biasa, dengan jas casualnya dan dalam t-shirt gelap, nampaknya dia orang yang memperhatikan olahraga, tubuhnya bagus, setidaknya dari luar kau sudah tahu dia gagah, apa yang salah padaku tidak melihatnya selama ini.
"Kau terlihat cantik seperti biasa." Aku memakai gaun one piece warna kuning pudar dengan siluet A-line. Kurasa tak ada yang istimewa. Ini aku dalam bentuk standart, aman, hampir formal.
"Kau juga terlihat tampan Colin." Aku tiba di depannya. "Kita mau kemana?"
"Manhatta, apa kau suka."
"Ahh skyline restaurant, tempat yang bagus. Tentu saja." Sudah kuduga pilihan yang akan dibuatnya, restoran romantis, skyline atau klasik.
"Kau bebas mengantinya jika kau tak suka."
"Tidak, aku menyukainya tentu saja." Aku harus bersikap baik padanya setidaknya, kalau tidak Adam akan marah padaku.
"Kita sudah lama tak bertemu." Dia mencari pembicaraan saat kami sudah dalam perjalanan.
"Iya, sudah lama. Kupikir kau sudah menikah, tapi rupanya kau masih betah single. Terlalu banyak yang mengejarmu sekarang sehingga kau betah melajang?" Aku tertawa dengan pertanyaanku sendiri.
"Apa kau pikir aku seseorang yang seperti itu?"
"Entahlah, aku tak tahu, banyak yang kukenal seperti itu. Jadi mungkin itu tak terlalu mengherankan."
"Aku bertemu beberapa orang tentu saja. Tapi mungkin bukan orang yang tepat."
"Mencari yang tepat itu memang sulit."
"Kau sendiri? Apa yang membuatmu kesulitan? Kau menunggu George Clooney melajang lagi?" Aku tertawa, dia ternyata ingat dulu aku tergila-gila dengan Clooney.
"Hmm...aku sudah pernah bertemu dengannya, setelah bertemu, aku jadi biasa saja, masih banyak temanku yang lebih tampan darinya."
"Kau terlalu banyak dikelilingi pria tampan ternyata."
"Kurasa iya..." Aku tertawa.
Pembicaraan berkembang lebih menyenangkan. Dia tidak seperti yang kuingat, walaupun dia masih tetap dengan ketenangannya, tapi sekarang dia lebih lepas, tahu membuat candaan, mungkin karena lebih banyak pengalaman bergaul, setiap orang berkembang kurasa. Kami punya waktu yang menyenangkan, makan malam yang enak, pemandangan cantik kelap kerlip Manhattan, diluar dugaan aku menikmati pembicaraan dengannya malam ini.
"Kau masih lama di NY."
"Ehm, sampai akhir bulan kurasa. Lebih kurang dua minggu."
"Jika kau di London mungkin kita bisa bertemu lagi?"
"Ya, baiklah."
"Apa kau terpaksa menyetujuiku."
"Tidak. Kenapa aku harus terpaksa. Ngobrol denganmu menyenangkan." Kurasa aku ingin mengenalnya lebih jauh. Dia menyenangkan lagipula. Dia terlihat lega nampaknya dengan jawabanku.
"Baiklah, kita nanti bisa bertemu jika kau di London lagi."
__ADS_1
"Oke."
Malam itu berakhir. Kurasa aku ini langkah awal selesai dengan masa laluku.