
"Tuan Derrick tampaknya mengenal mereka." Tuan Ryohei bertanya.
"Ada beberapa proyek kami yang berhubungan dengan mereka, tapi bukan ditangani oleh perusahaan di Jepang."
"Ohh jadi rupanya Anda ini bukan bekerja di Nomura sepenuhnya. Saya dari tadi merasa kita pernah bertemu entah dimana, ingatan saya buruk Tuan Derrick, Anda harus memaafkan saya tidak mengingat Anda."
"Tak apa itu sudah lama sekali. Kita lanjutkan saja presentasinya."
Kami mendapat banyak kesimpulan dan jawaban pertanyaan di pertemuan ini. Pertemuan selesai dengan baik.
"Kalau begitu kita akan bertemu di pertemuan selanjutnya lima hari lagi di Hanoi. Tanggal 12, jika Shiori-san dan Derrick-san ada sesuatu yang tidak jelas bisa hubungi saya dan Tuan Takumi. Ini proyek penting bagi kami, kami sangat berharap Nomura bisa membantu."
"Tentu. Kita akan mencari jalan yang terbaik." Aku menyalami Tuan Ryohei, membuang rasa maluku. Kuharap dia tidak membicarakan pertemuan kami lagi untuk selanjutnya.
"Tuan Derrick, Anda harus mengingatkan saya dimana kita pernah bertemu. Kita akan punya waktu bicara lebih banyak di Hanoi."
"Tentu."
__ADS_1
Kami kembali ke kantor.
"Kau pernah bertemu dengan Tuan Ryohei?" Tuan Derrick bertanya di lobby kantor. Aku berhenti, pasti dia akan bertanya soal ini. Mempersilahkan tim ku yang lain berjalan lebih dahulu.
"Ini memalukan, tapi saya akan jujur." Aku menghela napas panjang. Tuan Derrick mengerutkan alis melihat aku harus menghela napas. "Baiklah. Dua hari lalu, saya punya pertemuan perjodohan di Ise, itu restoran yang hanya punya 5 kursi satu slotnya. Dia duduk di sana sendiri. Saya dan kencan buta saya itu di sampingnya... Itu memalukan, .... Apa saya harus menceritakan lengkapnya. Saya bahkan tak tahu kalau dia itu namanya Ryohei." Tuan Derrick langsung tertawa, nampaknya dia mempercayaiku.
"Baiklah...baiklah. Saya tak akan bertanya lagi." Tuan Derrick meneruskan tawanya. Aku lega dia memutuskan aku tak perlu menceritakan detail pengalaman memalukan itu.
"Bagaimana menurutmu Derrick-san?"
"Ternyata begitu, jika saya punya jaminan cukup resiko akan banyak berkurang. Saya sangat terbantu."
Yang menjadi masalah sekarang adalah, kuharap Ryohei-san tidak membicarakan masalah pertemuan pertama kami lagi.
\=\=\=\=\=\=\=
Dalam lima hari berikutnya aku sudah menunggu di antrian luar bandara. Ada enam orang rombongan Tuan Ryohei, Tuan Takumi dan assistennya sementara aku bersama Tuan Derrick dan Kenichi.
__ADS_1
Selama empat hari ini aku mencoba jika terpaksa harus menelepon tidak menyinggung satu kalipun tentang pertemuan kami. Tampaknya dia mengerti, dia juga tidak menyebut apapun lagi soal pertemuan itu. Setidaknya semua percakapan kami berisi hal yang seharusnya.
Aku bertemu dengannya di lorong jalan ke toilet. Aku tersenyum mengangguk padanya. Ryohei ini makan sendiri tanpa partner kemarin. Apa dia punya kebiasaan makan sendiri seperti itu. Sekarang aku bertanya-tanya di kepalaku.
Apa dia tak punya partner. Aku penasaran begitu saja dengan kehidupan pribadinya. Tak mungkin juga, usianya sudah pasti diatas 40.
"Shiori-san, kau tak usah sungkan padaku, aku tak akan mengatakan pertemuan pertama kita pada siapapun. Aku mengerti itu sangat pribadi." Dia langsung bicara soal masalah itu, aku hanya sekali meneleponnya selebihnya Kenichi yang melakukannya dan tidak membicarakan soal pribadi, rupanya dia merasa perlu membahasnya disini.
"Terima kasih kalau begitu. Pertemuan itu memang hal memalukan."
"Sebenarnya itu bukan hal yang memalukan, tapi aku mengerti itu hal yang pribadi."
"Terima kasih kalau begitu. Tapi itu tidak menjadi nilai tambah dalam skor pemberian kredit."
"Ahh kupikir bisa menjadi tambahan beberapa point." Dia melirikku dengan muka serius.
__ADS_1