TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 25. Berjalan dengan Waktu 2


__ADS_3

“Halo, saya dokter Ridwan, Mamanya Anita, ditemukan meninggal dalam tidurnya...”


“Dokter Ridwan? Meninggal?! Maksudnya  di rumahnya?!”


“Iya, maaf saya harus menyampaikan ini, tapi Anita  mungkin butuh dukungan disini, dia sendirian di sini. Tapi saya akan menunggu sampai ada keluarga di sini, dan melapor ....” Aku tak mendengar lagi  apa yang dibicarakan. Aku hanya melihat wajah Mama yang sudah tertidur selamanya. Kenapa aku harus pulang malam semalam, jika aku tahu, aku tak  akan pulang malam. Aku akan punya kesempatan  bicara dengannya setidaknya.


“Nita, Koko  yang tadi bilang, dia akan kesini sebentar lagi...” Aku tak perduli, hanya ingin sama-sama Mama. Memegang tangannya, memeluknya, karena mungkin aku tak punya kesempatan lagi. “Minum dulu.” Dokter Ridwan  berbaik hati mengambilkanku minum  dan membiarkanku sendiri.


Tak lama seseorang datang kesampingku, aku yang  berlutut berbaring di bawah bed Mama, memegang tangannya, menghangatkannya, tak ingin melepaskannya, hanya merapikan  rambutnya.


“Ta...” Aku tahu siapa yang datang.


“Mama  janji mau ke HK sama-sama Ko, dia yang cerewet banget ngingetin aku ambil cuti. Kenapa...” Koko juga gak bisa menjawabku.


“Sudah takdirnya. Mama sudah tenang.” Saat kau disana, kau akan tahu kata-kata  penghiburan apapun tak bisa menghilangkan sakitnya. Hanya waktu  yang bisa, tidak ada apapun lagi yang bisa menawarkan rasa sakit kehilangan.“Papa kamu sudah tahu, dia kesini hari ini. Mungkin sore atau malam sampai.”


“Makasih Ko...”


“Kamu ada yang harus di telepon? Keluarga terdekat?”


“Cuma Tante Yuni. Udah telepon...”


Hari itu adalah mimpi buruk, aku masih tak percaya, ketika Tante Yuni datang, memelukku ikut menangis  bersamaku kurasa aku sudah hampir tidak bisa menangis lagi, rasanya kebas. Beberapa jam kemudian ambulan datang, Mama harus dibawa ke rumah duka. Koko yang atur semuanya hari itu, ada seorang staff yang bersamanya, mengatur semuanya, kurasa aku sama sekali tak bisa berpikir  lagi. Tak tahu apa yang  harus dilakukan.


“Ta, Mama harus dibawa ke rumah duka.” Tante yang sekarang bicara padaku.


“Nanti aja Tante.”


“Ini sudah jam dua...”

__ADS_1


“Nanti.” Aku tak ingin Mama  pergi ke tempat yang tidak dia kenal.


“Ta...”


“Ga pa-pa, tunggu aja dulu gak pa-pa sebentar lagi, nanti saya bilang ke ambulan rumah duka dan petugasnya.” Suara Ko Derrick membuat Tante bersedia menunggu. “Alan bilang mereka nunggu sebentar.”


“Iya Pak.” Tante keluar membiarkanku sendiri bersama Mama. Koko ganti duduk bersamaku.


“Mama gak  bakal pulang lagi,... “


“Mama pulang ke tempat Tuhan. Udah bahagia Ta. Orang bilang orang yang meninggal dengan tenang itu jalannya lancar. Tapi kalau kamu gak bisa melepas dia begini, kasian Mama.”


“Aku nyesel semalem gak pulang cepet Ko. Gak ngomong apapun sama Mama...”


“Bukan salah  kamu. Itu sudah jalannya begitu. Kalau kita tahu kapan meninggalnya, kita udah bikin pesta perpisahan semalem Ta. Kamu udah bisa  mandiri, udah baik ama Papa kamu,  Mama kamu juga udah ngerasa tenang. Orang tua itu kalau anak-anaknya sudah mandiri merasa sudah berhasil, merasa sudah selesai tugasnya.”


“Iya, Koko tahu. Tapi semua orang juga gak ada yang siap, ...”


“Mama-Papa Koko udah gak ada?” Aku lelah menangis,  mencari teman bicara sekarang.


“Udah 10 tahun yang lalu, Mama 5 tahun yang lalu.” Jadi Ko Derrick juga sudah pernah di titik ini.


“Gimana ngelewatinnya.”


“Gimana ngelewatinnya?” Dia diam berpikir. “Tetap berjalan ikut waktu. Coba say goodbye, percaya mereka sudah bahagia, say thanks ke mereka, coba let it go by the time. It’s never easy. Jalan aja selangkah demi selangkah. Perlu waktu buat lupa sakitnya, itu  saja...”


“Begitu?”


“Semua orang begitu.”

__ADS_1


Aku masih duduk di samping Mama,memandang wajahnya,  jika diberikan 1 menit saja waktuku. Aku hanya ingin bilang, aku mencintainya, terima kasih buat semuanya. Tapi aku tak diberikan kesempatan itu, aku hanya percaya dia sudah bahagia. Tapi dia tahu aku sangat sayang padanya.


“Aku harus apa?”


“Mama akan dibawa ke rumah duka, dipersiapkan harus di mandikan, formalin segala, kamu bisa temani disana, disana ada tempat tidurnya. Nanti ada yang urus semua. Papa kamu sampai jam 5 ke Jakarta. Kamu siapin yang pengen kamu bawa, baju Mama yang kamu ingin dia pakai...”


Aku beranjak, rasanya membuka lemarinya pun mencari bajunya bisa membuatku menangis. Tante Yuni membantuku memilih, aku berhasil  melewatinya dengan  hanya berkaca-kaca. Waktu jenasahnya dibawa, aku tak sanggup tidak menangis. Karena aku tahu dia tak akan pernah kembali lagi, tak ada pelukan yang bisa meredakan rasa sakitnya. Benar-benar tak ada...


Aku harus melangkah sambil menahan sakitnya. Mau tidak mau, siap atau tidak...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💜


Catatan yang dilakukan dokter untuk menentukan kemat*ian.



Memeriksa respon rasa sakit dengan menekan tulang dad*a.


Memerika apakah ada reflek dari pupil mata yang mengikuti cahaya


Meriksa denyut nadi


Memeriksa ada atau tidaknya denyut jantung


Memeriksa napas.


__ADS_1


__ADS_2