
"Shiori, aku boleh minta nomor telepon Richard itu?" Sebelum dia besok pergi lebih baik aku meneleponnya.
"Nomor telepon Richard, kau tak akan mengajaknya berkelahi bukan?" Shiori langsung khawatir dengan niatku.
"Tidak, dia temanmu. Aku harusnya menjadikannya teman juga. Aku benar-benar penasaran bagaimana dia menangani Yuna. Aku ingin mengajaknya makan malam jika dia bersedia." Sekaligus menghindari lebih jauh tamu di rumah yang merepotkan.
"Begitu."
"Baiklah, kukirim padamu nomornya. Sayuri baik, aku akan meneleponnya malam ini bertanya jika dia mau dibelikan sesuatu dari Hongkong."
"Dia sudah memulai sekolah malam lagi seţelah libur Hanami. Biasa dia baru kembali hampir jam 10."
"Dia memang bekerja keras. Baiklah, aku ada meeting sebentar lagi. Jangan mengajak Richard bertengkar oke."
"Iya aku tak akan mengajaknya bertengkar, kau tenang saja. Ini juga agar semua masalah cepat beres. Dan kita bisa bertemu lagi. Aku merindukanmu."
"Kau kadang-kadang manis juga." Dia tertawa di seberang sana.
"Aku serius." Kuharap dia ada di depanku sekarang.
"Aku juga merindukanmu. Besok penerbanganku pagi-pagi sekali. Besok malam aku baru meneleponmu lagi."
"Hati-hati oke. Istirahatlah cepat malam ini."
"Hati-hati dengan Yuna oke. Jaga dirimu."
Tak lama kemudian nomor telepon Richard sampai padaku. Aku mencoba meneleponnya sekarang.
"Siapa ini?" Dia tak mengenal nomorku masih untung dia mengangkatnya.
__ADS_1
"Ini Ryohei, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu karena sudah membantu Shiori. Bagaimana jika aku mengundangmu makan malam." Diam diujung sana, mungkin dia menyangka aku mengundangnya makan malam karena aku tak menyukainya.
"Bukan sesuatu yang besar. Sebenarnya aku tak menyangka kau mengundangku makan malam."
"Kau teman baik Shiori. Di sisi lain kau melakukan banyak hal untuknya. Aku mungkin cemburu, tapi kau benar, aku tak melakukan hal yang terbaik untuk menyelesaikan masalah Yuna Aize, jadi mari kita lupakan pertemuan pertama kita."
"Baiklah, ehm... besok malam."
"Besok malam, kau mau aku memilihkan restoran?"
"Iya, mungkin restoran sushi yang menurutmu enak, di Shinjuku saja, aku menginap di dekat sana."
"Baiklah, kita bertemu besok."
Aku pulang sudah lewat jam 10 hampir jam 11. Sayuri tadi sudah pulang duluan. Kasumi sudah melapor Sayuri Seharusnya mereka yang dirumah sudah beristirahat. Tapi tampaknya tak semudah itu aku lolos dari Yumi.
Mereka ternyata masih duduk di ruang tengah, Mama, Bibi, dan Yumi nampaknya sengaja menungguku.
"Ohh kalian belum tidur?" Aku menyapanya mereka sebagai tuan rumah.
"Ini belum terlalu malam. Sayuri sudah pulang juga tadi." Ibu membalasku. Aku terpaksa duduk sebentar, jika aku langsung naik aku akan di cap tidak sopan oleh Ibu.
"Aku tahu. Kasumi sudah melapor setiap jam 9.45 dia sudah melapor seperti biasa."
"Kau besok pulang malam. Bisa makan malam bersama."
"Aku masih ada acara makan malam dengan kolega tak bisa kubatalkan Ibu. Mungkin Kamis aku bisa mengajakmu makan malam dengan yang lain."
__ADS_1
"Ohh Kamis, boleh. Dimana kau yang tentukan tempatnya, nanti Mama pergi kesana." Kurasa ini akal-akalan Mama untuk menjebakku makan malam dengan Yumi, tapi aku punya cara untuk mengatasinya.
"Restoran biasa kesukaan Mama,..."
"Ahh boleh. Itu bagus. Sayang Sayuri masih harus les."
"Iya. Tak apa kita bisa membungkuskan untuknya. Kasumi bisa memanaskannya untuk sarapan." Aku sudah ingin pergi. Tapi ternyata Ibu yang pergi duluan.
"Mama sangat mengantuk, kami banyak jalan-jalan hari ini. Mama dan Bibi naik dulu. Selamat istirahat." Mereka sengaja pergi meninggalkan aku dan Yumi. Tapi akupun langsung beranjak dari dudukku.
"Kalau begitu aku naik istirahat dulu. Aku juga sudah lelah. Selamat malam Yumi-san."
"Apa kau menghindariku?" Astaga, sudah tahu aku menghindarinya masih bertanya. Aku terpaksa berbalik.
"Aku ada meeting pagi masih berlanjut sampai malam besok dengan kolega? Kau ingin aku menemanimu dan melewatkan waktu istirahatku?" Aku ketus saja sekarang.
"Kau ketus sekali, apa kau membenciku?"
"Astaga. Bagian mana yang mengatakan aku membencimu. Kau perasa sekali. Aku hanya ingin istirahat kerena lelah, kutinggalkan kau oke. Selamat malam Yumi-san." Aku tak akan meladeninya lagi langsung kulangkahkan kakiku. Tapi dia mengikutiku ke lantai atas.
"Kau mau kemana, kamarmu di bawah bukan." Kali ini aku terpaksa berbalik lagi.
"Kau lelah. Kau mau kupijat? Aku tahu cara menghilangkan lelah dengan pijatan khusus." Aku menaikkan alisku, dia bahkan bersedia menawarkan dirinya, bertekad sekali rupanya.
"Tadi sudah ada yang khusus memijatku, dua orang, aku kelelahan setengahnya karena mereka memijatku dengan sangat ... menyeluruh. Aku tak sanggup menerima pijatan lain, tenagaku sudah terkuras kurasa... oleh dua orang gadis pemijat berpengalaman. Kau pasti tahu maksudku bukan... " Seketika mukanya memerah, menjadi pria bangsat menyenangkan juga, dokter kulit cantik terhormat ini tak bisa berkata-kata lagi.
"Selamat malam." Dia memutar tubuhnya pergi dari depanku dengan cepat. Aku meringis lebar.
Aku naik ke kamarku. Hampir tak bisa menahan tawaku. Ternyata gadis itu tahu malu juga.
__ADS_1