
Aku kembali dari Shanghai dan langsung mencari private investigator yang kupercaya sebelumnya. Kubeberkan saja apa yang kutemukan secara kebetulan itu.
"Dan yang Nona inginkan adalah?"
"Aku ingin kau mengambil sample DNA anak laki-laki ini. Temukan dimana dia, ambil sample darah atau swab mulutnya. Aku ingin melakukan tes DNA kepada Ayahku dan anaknya untuk membuktikan ketidakcocokannya. Bisakah kau melakukannya."
"Mengambil sample DNA, agak riskan Nona, jika bisa pun kau bisa dituntut dengan pasal pelanggaran privasi. Kurasa tidak bijak mengambil tindakan seperti itu Nona."
"Ohh aku mengerti." Otakku berputar, jika ini pelanggaran privasi berarti aku harus membuat Ayahku melakukan tes paternity sendiri. Lebih mudah begitu, dan juga lebih seru! Ini akan jadi tontonan yang melebihi film action.
"Jika begitu, bagaimana jika kita mengatur berita gossip. Sehingga Tuan Wong curiga sendiri."
"Anda sangat pintar! Itu malah lebih baik, saya akan menghubungi teman di sebuah media, Anda akan di setting menjadi informan anonim." Tuan Man private investigatorku tertawa sekarang. "Jika berita sebesar ini siapapun akan berlomba menerbitkannya jadi headline entah di Hongkong ataupun China daratan, karena baik Camilla maupun Chen Ye Zhuan adalah orang terkenal.
"Baiklah, kabarkan aku jika sudah keluar di tabloidnya, usahakan kalian memburu foto terakhir Jonathan Wong. Dan menbandingkannya dengan foto di masa muda Chen Ye Zhuan."
"Tentu Nona. Saya pastikan itu." Di kondisi seperti ini paternity test pasti akan menbuktikan Jonathan Wong bukan anak Papa, akan sangat menyenangkan melihat mereka bertengkar hebat karena muslihat perempuan ular itu.
"Pastikan di headline, supaya aku bisa mempermalukan wanita ular itu."
"Saya mengerti Nona. Dan soal skandal, saya menemukan kemungkinan besar dia terlibat penggelapan pajak, namun sayangnya ini sulit dibuktikan, saya hanya tahu firma hukum yang pernah dia datangi diketahui punya cara menanggani penggelapan seperti ini. Satu-satunya cara membuktikannya adalah menyebarkan rumor dan membiarkan orang pemerintah yang menginvestigasi pelanggarannya."
"Ohh kita bisa lakukan itu nanti, tapi ini kau jadikan prioritas dulu. Kau mengerti, lebih cepat kau membuat beritanya semangkin baik."
"Baik, saya mengerti Nona."
💚💚💚
Aku sepulang dari Shanghai mulai masuk kantor. Senang rasaya sudah berada di Hongkong lagi. Sejak kejadian terakhir di pesta itu si Nyonya nampaknya tidak menampakkan dirinya lagi di kantor ini, aku tak pernah melihatnya.
Kantor berjalan dengan lebih sedikit gesekan karena setiap orang sudah tahu siapa yang akan menang dan kalah. Dan Paman berusaha menenangkan situasi. Dan nampaknya Ayah mau bekerjasama, dia tak membuat masalah tambah runyam. Dia belum tahu akan ada hal runyam lagi yang akan terjadi di hidupnya sebentar lagi.
Sementara aku menunggu private investigatorku mengatur segalanya sore ini Koko ini mengajakku makan malam. Dia cukup sibuk kurasa, jarang aku bisa mengajaknya makan malam di hari kerja.
"Koko kau tak sibuk hari ini." Aku masuk mobil dan mencium pipinya dengan gemas, dia melihatku seperti aku wanita tak normal. "Kau tak suka kucium?" Aku masih memeluk tengkuknya tak perduli dia sedikit kaget meĺlihatku. Mungkin istrinya yang dulu tipe yang sopan dan pemalu sepertinya.
"Aku hanya kaget, bukan tak suka. Kau kenapa? Nampaknya kau senang sekali." Koko yang melihatku nampak senang jadi heran, sementara dia melajukan mobil kami.
"Kantor tak begitu rumit lagi. Aku ketemu berita gosip besar di Shanhai, tentang anak laki-laki Papaku yang kemungkinan besar bukan anaknya..." Kuceritakan padanya apa yang kutemukan di Shanghai dan bagaimana aku mendapat kesimpulan itu. "Wanita itu sangat berani, dia mengakui anak orang lain sebagai anak Papa."
"Kenapa kelihatannya cerita keluargamu sangat rumit." Koko mengelengkan kepalanya.
"Jika aku boleh memilih aku juga tak mau kelarga yang rumit." Aku meringis. "Tapi inilah hidupku yang membentuk siapa aku sekarang. Kadang aku juga berharap hidupku lebih sederhana. Setidaknya Ayah dan Ibu yang rukun di hari tuanya. Kami anak-anaknya bisa mengunjungi mereka yang hidup bahagia dan damai.Tapi nampaknya harapan sederhana itu sulit sekali." Aku menyandarkan diri pada Koko.
__ADS_1
"Maaf aku tak bermaksud membuatmu sedih."
"Tidak, kurasa ini memang sudah karma hidupku. Aku harus menjalaninya. Aku hanya binggung kenapa Ayahku harus mengkhianati Ibuku, mereka punya cerita cinta yang sulit, kalau kau sudah memperjuangkan bersama melawan keluarga, ketika akhirnya berhasil kenapa Ayah berkali-kali berkhianat ke Mama. Apa itu sebanding dengan pengorbanan mereka. Aku benar-benar tak mengerti apa yang Ayah pikirkan."
"Mungkin ego, mungkin juga semacam pria bisa dikatakan berbeda dengan wanita, kami mungkin lemah jika di sanjung-sanjung, diperlakukan seperti pahlawan, merasa dibutuhkan, intinya selingkuhan Ayahmu itu adalah orang yang tahu memgekploitasi kelemahan Ayahmu. Banyak hal yang bisa dimainkan oleh wanita jika dia tahu."
"Kenapa kau tahu hal-hal seperti itu." Dia tertawa.
"Para wanita perayu itu pintar, dulu di masa SMA dan kuliah aku banyak menghadapi wanita seperti itu jadi bisa dibilang aku sudah cukup kenyang jatuh ke pengaruh mereka. Itulah kenapa aku menerima pengaturan perjodohan Ibuku. Tapi ternyata endingnya juga tidak seperti yang kuharapkan juga."
"Jadi kau semacam sudah kebal nampaknya."
"Entahlah, semacam tidak tertarik mencari masalah semacam itu lagi. Bukan kebal." Dia tersenyum melihatku.
"Maksudmu aku yang akan membuat masalah untukmu bukan." Sekarang dia tertawa dan merangkulku.
"Cherrie, jika aku tidak mau mencari masalah denganmu, aku tak akan di sini bersamamu. Aku akan ikut apapun masalah yang ingin kau buat. Kita akan berjalan bersama, apapun masalahnya, asal kita berdua bisa duduk tenang dan tidak memakai emosi kita bisa menghadapinya."
Serius sekali. Apa romantisnya dia adalah menganggap semua hal serius begini.
"Banyak orang yang tak menyukaiku Koko. Katanya aku pedas, tukang berkelahi. Bagaimana kau yakin aku tak mengedepankan emosi."
"Kau memang tukang berkelahi tapi kau tidak menggunakan emosi, kau mempermainkan emosi orang itu, kecuali orang itu lebih pintar membalik kata-katamu kau akan kalah."
"Aku tak bisa merayu." Dia tertawa. "Aku bahkan belum pernah membelikanmu bunga. Apa kau merasa aku pacar yang buruk."
"Aku juga bukan pacar yang manis. Menurutmu kita akan cocok dalam kerjasama jangka panjang ini?"
"Kurasa aku belum punya keluhan." Dia meringis. "Kenapa kita membicarakan ini seperti kita membicarakan kesepakatan bisnis?"
"Entah sepertinya kita pasangan yang aneh." Kami akhirnya bisa tertawa.
"Aku membelikanmu sesuatu." Dia memberikanku sebuah kotak kecil yang diikat dengan pita. Ini nampaknya perhiasan. Aku membukanua ternyata itu kalung couple dengan ring nama kami. Ada sebuah tanggal tertulis.
"Kalung couple, manis sekali, tanggal ini? Tanggal jadian kita kemarin." Sekarang aku senang. Dia ingin kami mengingatnya.
"Kau suka. Ini hadiah hari jadi kita. Apa ini konyol?" Dia membuatku tertawa. Dia tidak bisa berkata sesuatu yang romantis tapi dia tahu menghargai moment istimewa kami.
"Aku suka tentu saja ini manis sekali." Aku mengambil kalung itu, "Kupakai sekarang?"
"Boleh." Aku emakaikan liontin titanium hitam itu padanya dan memakaikan white titanium pada diriku sendiri.
__ADS_1
"Ini bagus sekali. Terima kasih." Aku mencium pipinya sebagai ucapan terima kasih. Dia membalasku dengan senyumnya seperti biasa. Bersama dengan Koko ini rasanya seperti bersama teman, tak ada yang rasa melambung terlalu bahagia. Hanya kau tahu dia ada untukmu.
Aku membalas senyumnya dan menggengam tangannya.
"Aku tak ingin kita berakhir seperti Ayah dan Ibuku saat kita punya anak, jika kita merasa kita tidak cocok lebih baik kita berpisah sekarang. Aku ingin seperti Papa Lam dan Tante Yun Lan. Mereka terlihat bahagia, anak-anak mereka senang melihat mereka bahagia. Pulang ke rumah mereka adalah sebuah hal yang ditunggu karena hangat dan menyenangkan... Jika kita punya anak nanti, mereka akan bahagia pulang ke rumah kita. Kita akan dirindukan oleh anak dan cucu. Bukankah itu sebuah kehidupan yang penuh."
Anak mana yang tak sesak melihat orang tua mereka berpisah. Bahkan aku masih tak habis pikir kenapa Papa begitu tega menyingkirkan kami demi wanita itu.
"Kita tak tahu apa yang akan terjadi, tapi kalau bukan karena orang ketiga kurasa semua masih bisa dibicarakan."
"Benar, orang ketiga tidak bisa ditoleransi." Dia setuju.
"Kau masih pernah bertemu mantan istrimu Koko?"
"Tidak, buat apa?"
"Tidak mengucapkan selamat ulang tahun misalnya."
"Tidak, kita sudah jalan masing-masing kenapa harus saling mengingatkan hal yang tak perlu lagi. Lagipula kami belum punya anak. Tak ada gunanya kami tetap mengontak satu sama lain."
"Koko, aku belum pernah ke apartmentmu." Dia melihatku dengan wajah yang tak bisa kubaca apa artinya.
"Nanti Ibumu bertanya kenapa kau belum pulang semalam ini. Hari Sabtu saja,..." Kenapa dia malah yang tak mau aku ke apartmentnya.
"Kau takut sekali dengan Ibuku. Ku tak ingin aku ke sana? Ada apa di sana?" Sekarang aku penasaran.
"Tak ada, ini hanya sudah terlalu malam. Aku menjaga perasaan Ibumu, dia sedang tak baik-baik saja, jika dia merasa aku tidak melakukan hal yang agak ...ekstrim, dia mungkin akan sedikit khawatir. Kau harus pulang tak terlalu malam saat tinggal bersamanya, mungkin dia butuh kau temani, bagaimana mengatakan pada Ibumu aku membawamu malam-malam begini. Aku hanya tak ingin Ibumu mengatakan aku tak sopan."
"Kau memang anak berbakti yang sayang pada orang tua."
"Aku dekat dengan Mamaku. Jadi aku sedikut memahami perasaannya di banding kakak atau adikku kadang."
"Berikan aku nomor unitnya jika begitu. Nanti aku ke sana Sabtu siang " Aku tahu dimana apartmentnya, hanya aku tak tahu nomor unitnya. Dia menyebutkannya padaku.
Baiklah anggap saja dia memang tak enak dengan Mama, karena belakangan aku sedang tinggal bersama Mama.
"Kau sudah memberitahu Mamamu soal anak Ayahmu itu?"
"Tidak, akan kuberikan sebagai hadiah kejutan begitu beritanya keluar. Aku akan bersedia di wawancara oleh wartawan untuk meluruskan tuduhan Mamaku ingin membunuh anaknya. Akan kubongkar kedoknya dan membersihkan nama Mama. Dalam sebulan ini sebelum aku benar-benar aktif bekerja di bawah Paman setelah dia mengambil alih posisi CEO."
"Nampaknya kau masih punya banyak pekerjaan untuk diselesaikan."
"Iya, masih banyak yang harus kuselesaikan."
__ADS_1