TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 58. Mawar Yang Seadaanya.


__ADS_3

“Ko, mau bantu?” Aku sebenarnya tidak tahu bagaimana membantunya.


“Gak kamu usah duduk aja. Ini cepat, bukan pekerjaan susah.” Baiklah bukan pekerjaan susah. Dia menuang saus panas di pan ke sayuran. Wanginya bawang putih dan saus tiram dengan daging cincang kurasa, aku tak tahu bagaimana membuatitu. Selesai satu, dia menaruhnya ke meja marmer ditengah. Ada panci yang ternyata isinya wanginya semacam kuah spagetti creamy gantian dipanaskan, dia mencuci pan yang tadi, sembari menunggu spagetti yang direbusnya matang. Aku melihatnya bekerja seperti sudah terbiasa, rapi sekali.


“Kita makan makanan Italian, plus Chinese food. Ini memang agak menyimpang.” Mau tak mau aku tertawa juga. Dia memasak untuk kami, aku tersanjung, aku bahkan tak tahu bagaimana mengerjakan semua ini. Tapi Koko terbaik ini melakukannya seperti koki profesional. Aku senang dia melakukannya untukku, tak bisa kukatakan rasanya mendapatkan sesorang memasak untukku. Hanya Mama yang melakukannya, tapi sekarang Koko terbaik ini, dia melakukannya untukku. Mama dulu tahu nampaknya tahu dia bisa diandalkan.


Spagettinya sudah matang, dia menuangnya ke ayakan dapur, memasukkannya ke kuah cream jamur, mengaduknya. Dan done... masakan kedua jadi. Aku  melihatnya dengan kagum.


“Comot aja, cobain rasanya, ...” Dia mendorong tempat sendok dan garpu mengambilkan sebuah piring kecil untukku, aku yang sudah kelaparan dengan aroma krim jamur itu sekarang tak ragu mencobanya. “Enak?”


“Enak.” Aku mengangguk sambil tersenyum lebar, jantungku berdebar terlalu bahagia sekarang. Mukaku panas saat dia menatapku mencoba masakannya.


“Ohh ya ada ayam garlicnya.” Apalagi itu. “ Ini buat makan bersama spagetinya, jadi ada protein. Masih di oven tadi dipanaskan low heat, biar ada smokenya  dikit.” Dia memang koki profesional,...”Pernah kerja di restoran ya  Ko.”


“Pernah, dulu sekali, jadi tukang cuci piring tiga hari.” Dia ketawa. Aku gak tahu dia serius apa engga.


Tapi yang dikeluarkannya bukan ayam saja, ada lasagna, dan steak. Astaga, banyak sekali.


“Wow...” Aku takjub semua makanan melihat meja marmer dapur itu. Dia melepas celemeknya, tanda dia sudah selesai


“Done. Kalo  lasagnanya beli. Saya gak bisa bikinnya. Ribet, yang simple-simple kaya gini bisa....” Dia jujur juga ternyata. Tetap saja yang dia siapkan ini luar biasa.


“Ini  keren banget. Thanks Ko.”

__ADS_1



“Ohh ya kurang satu.” Apa lagi yang akan dilakukan Koko ganteng ini. Dia mengambil sebuah vas kecil, dari ujung sebuah lemari. Pergi ke belakang yang kutahu adalah dapur kotor dengan area lebih banyak jendela. Dia mengambil mawar pink, kurasa itu dibeli di tukang bunga di pasar dekat sini. Ada lima mawar munggil, kau tahu mawar lokal yang dibeli bibi mungkin. Dan memasukkannya ke vase ya diisinya dengan air.


Aku langsung tertawa geli sekarang. Astaga dia benar-benar berniat membuat makan malam ini karena aku mendapatkan bouquet mawar. Aku tertawa sampai keluar air mata.


“Baiklah-baiklah, aku mengerti.”


“Apa yang kamu mengerti?” Dia berdiri di dekatku. Sekarang jantungku berdebar-debar tak menentu, sambil menghapus air mataku dari tertawa tadi  aku menatapnya.


“Bunganya bagus...” Aku tak bisa bertahan untuk tak tertawa lagi. Sekarang dia duduk didepanku dan menungguku berhenti tertawa.


“Kata Cecil, ini candle light dinner.” Aku mengangguk.Nampaknya Cecil  berjasa untuk ini, entah bagaimana aku memberitahunya.


“Gak ada lilinnya.” Sekarang aku tertawa lagi. Terlalu gembira  kurasa. Mukaku sudah panas, perutku sudah sakit. “Sorry ko, ini bagus. Sorry aku ketawa kaya gini...”  Aku berhenti sekarang,  aku  tahu aku merusak suasana ini. Tapi yang dilakukannya tak bisa membuatku berhenti tertawa.


“Bunganya cuma lima,...” Aku meringis lebar.


“Buat apa banyak-banyak, gak bisa dimakan.” Aku tertawa, dasar aki-aki old school. Tapi kenapa aku begitu menyukainya.


“Iya, aku bakal bilang nanti, aku sudah ada yang ngajak makan malam setiap hari, walaupun kadang  makannya cuma sayur sama nasi merah pun aku sudah seneng. Puas Koko...”


“Kamu yakin, yang kamu tolak itu, anak konglomerat, saya cuma profesional, tidak sebanding deretan angka di rekeningnya dengan mereka.” Sejak kapan dia melihatku silau dengan uang dan jabatan, bahkan berada di Hongkong bersama Papa kutolak.

__ADS_1


“Yakin.” Dia menarikku berdiri dan mendekat sementara dia tetap duduk, memeluk pinggangku, menatapku begitu dekat,  mata kami sejajar,aku hampir tak bisa menahan diri untuk memeluknya.


“Oke kamu menang, Koko punya kamu sekarang.” Sekarang dia menarikku lebih dekat lagi dan memelukku. Aku begitu bahagia berada dalam pelukannya sekarang, seperti  mimpi yang jadi kenyataan. Aku balas memeluknya, pelukannya milikku, hanya buatku gak ada yang lain lagi.


“Tata sayang Koko.”


“Koko juga.” Tapi kemudian dia menyudahi pelukannya. “Tadi siang kamu kemana. Kencan sama penggemar kamu itu?”


“Engga cuma nonton sendiri...”


“Nonton sendiri?”


“Iya, Koko kan menyebalkan.” Dia tertawa.


“Sorry, Koko memang  nyebelin. Sampai Cecil saja bilang Papanya payah. Tapi kita harus makan, kalau engga, makanannya dingin, gak enak lagi. Bawa ke meja makan apa disini aja?”


“Sini aja....”


“Ya sudah ayo makan.”


Aku yakin ini makan malam terindah yang pernah terjadi dalam hidupku.


\=========================

__ADS_1


Uhuyyyy, jadian .


Jangan lupa vote,gift, komen dan likenya ya


__ADS_2