TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2 Part 9. Hanoi 7


__ADS_3

Hari yang sibuk, dalam dua hari berikutnya, Oliver memulai mode full bekerja dia hanya berhenti untuk meregangkan badan, istirahat sebentar dan makan. Dan kali ini aku melihat Oliver yang bisa serius sepenuhnya bahkan bisa marah-marah jika apa yang dia minta tak dipenuhi.


Tuan Nguyen kali ini juga terbawa ikut marah-marah karena si boss marah-marah. American, they always have tendency to loud. Aku menjauh darinya. Dan di hari terakhir kami baru akhirnya menyelesaikan sampai jam dua siang sebelum kembali ke Hanoi. Tugasku akhirnya selesai, besok pagi aku akan kembali ke Jakarta.


"Tuan Russell, boss bertanya apa kau bisa makan malam, kita mungkin sampai jam 6, restorannya dekat dengan hotel." Nguyen mengingatkan jadwal makan malam dengan bossnya.


"Ohh iya, tentu." Ohh ya aku harus mengantarnya makan malam mungkin. Tidak bersamanya, hanya mengantarnya.



Kemping dengan tidur di alam terbuka itu melelahkan, aku ingin bertemu kasur empuk ranjang hotel malam ini, untunglah penerbangan besok tak terlalu pagi. Aku bisa istirahat di kamar malam ini.


Kami sampai kemudian di hotel. Nguyen pulang, aku dan Oliver harus check in lagi.

__ADS_1


"Aku akan mengantarmu ke restorannya Sir Russel, jam 7 kurang 15 oke." Kami sampai ke kamarnya, kali ini kamar kami standard, dia bilang tak usah suite, jadi mengambil bersebelahan.


"Kau tidak memeriksa kamarku?" Alisku langsing berkerut mendengar pertanyaannya.


"Ada apa dengan kamarmu?" Dia senang sekali mencoba segala sesuatu, tentu saja itu hanya akal-akalannya saja.


"Entahlah mungkin ada pembunuh berdarah dingin bersembunyi disana."


Kurasa dia bicara tentang dirinya sendiri kalaupun itu ada. Dialah pembunuh hati wanita berdarah dingin. Kapan dia berhenti penasaran padaku? Besok dia kembali ke HK, kenapa tak menunggu semalam sesampai di HK jika ingin pelampiasan. Aku membencinya yang memanfaatkan segala kesempatan yang ada. Padahal kami bicara panjang lebar, apa dia tidak bisa melabeliku sebagai teman saja. Lalu bersikap normal.


"Ayolah kau harus memeriksanya." Aku berkacak pinggang sekarang melihatnya yang masih berusaha mengundangku masuk.


"Sudah kupasangi kertas mantra dari peramalnya Nguyen. Aman dari roh jahat maupun manusia siluman jadi jadian." Aku tersenyum kecil sendiri, ingin rasanya kutempel kertas mantra di keningnya seperti scene film vampire di masa lalu.

__ADS_1


"What?" Dia mengerutkan alisnya mendengarkan perkataanku, dia tak mengerti apa itu kertas mantra tentu saja? tapi aku tak berniat menjelaskannya.


"Aku kembali ke kamarku, mau mandi, aku menunggumu di lobby jam 7 kurang 15. Okey."


Aku berbalik meninggalkannya tak mengindahkan pertanyaan lainnya lagi. Tak usah memberinya kesempatan terlalu banyak, tambah ditanggapi dia akan tambah senang, langsung saja aku berjalan ke kamar sebelah san kututup pintuku tak mungkin dia masuk ke dalam.


Dalam 18 jam kedepan permainan ini akan berakhir. Species XXXL itu akan belajar tak semua permainan bisa dia menangkan.


Tapi ini menyenangkan juga, rasanya menggelitik saat dianggap cukup menarik oleh species XXXL nan tampan itu. Setiap wanita ingin dirayu, tapi bukan seperti dia merayuku. Itu menyebalkan...


Mungkin permainan membuat otak kreatifnya tetap berjalan beberapa hari ini, tapi aku bukanlah subjek yang bisa dia menangkan, entah dengan uangnya ataupun sizenya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2