TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 15. Troubled Spy 3


__ADS_3

"Kau tak akan membocorkan indentitasku pada orang lain bukan?" Aku merasa takut dan salah langkah sekarang. Dia tersenyum kecil.


"Selama kau dan penghubungmu tak membocorkan indentitasku kau aman. Karena hanya kalian yang tahu." Ternyata Louis menukarkan perlindungan ini dengan kesepakatan. Kurasa aku akan dimarahi habis-habisan Thomas dan Kelly saat aku cerita, tapi bagaimanapun mereka masih butuh aku.


"Aku mengerti maksudmu." Jadi dia memancingku untuk ini.


"Nampaknya kau sekarang menyesal." Dia meringis, aku sudah mendapat konsekuensi dari perbuatanku sendiri.


"Tidak, itu sebanding, lagipula aku bukan agen sebenarnya. Aku agen khusus pengintaian lapangan untuk menerobos level atas, aku tidak menangani kasus, lebih menghargai pertemanan. Kita teman bukan?"


Dia tidak menjawabku untuk kata-kata ini. Menaruh nasibmu di tangan orang lain itu memang tidak e*nak. Hanya bisa mengandalkan kepercayaan. Semoga aku tak salah menilainya.


Kami kemudian sampai di sebuah townhouse besar tiga tingkat di Upper Manhattan. Sopir sekaligus keamanan itu juga ternyata tinggal disini. Dia punya pengamanan 24 jam ternyata, dia memang orang penting.


"Ini kamarmu. Di lemari ada baju un*ise*x yang bisa kau pakai. Perlengkapan mandi semuanya ada di sini. Di kulkas ruang duduk, selalu ada makanan dan minuman. Jika ada yang kau perlukan telepon aku." Dia membawaku ke sebuah kamar di lantai dua. Aku tak membawa apapun ke sini. Tapi besok pagi barang-barangku akan dipi*nd*ahkan ke hotel.


"Ehm baiklah. Terima kasih. Kurasa ini cukup."


"Kutinggalkan kau dulu. Jika kau mencariku aku ada di lantai tiga. Telepon saja."


"Iya terima kasih." Dia membiarkanku sendiri, aku bisa memberi perintah ke assistenku sekarang. Yang keheranan apa yang terjadi tapi tetap menyiapkan semuanya.


Giliran Kelly yang meneleponku kemudian.


"Julie kau bersama siapa? Dia bisa mengenyahkan orang yang membuntutimu? Apa latar belakangnya." Sekarang apa dia akan marah padaku. Aku cerita padanya sekarang.


"Bagaimana kau bisa, astaga Julie..." Aku tahu dia akan marah karena aku membuka indentitasku.


"Dia menolongku, aku percaya padanya."


"Dia menolongmu karena ingin membongkar indentitasmu. Bagaimana kau bisa terpancing seperti itu." Julie punya pendapat lain, tapi aku tetap percaya penilaianku sendiri.



"Dia sudah tahu sebelum menolongku, tapi dia tidak membalasku atau mengerjaiku jika dia mau. Aku tak akan salah dengan ini, bukankah kau bilang kalian memang punya perjanjian tak membuka indentitasnya setahun yang lalu."

__ADS_1


"Bagaimana jika dia ingkar janji?"


"Kau juga bisa mengancamnya. Dia juga tak ingin indentitasnya terbuka."


"Ya Tuhan Julie, kau membuatku sakit kepala sekarang, tunggu jika Thomas tahu ini. Dia akan memarahimu habis-habisan, ya Tuhan kau sengaja mengaku, lebih baik kau menghindarinya tapi kau malah ingin menemuinya, sebenarnya apa yang kau pikirkan?!" Aku sudah duga dia akan mengatakan itu.


Tapi aku percaya aku tak rugi apapun disini, aku merasa bisa mempercayai Louis. Ya mungkin mereka yang kehilangan kartu as sekarang, mereka bisa mendapatkan informasi dengan mengancam membuka data Louis tapi sekarang mereka juga harus menanggung resiko kehilangan agen.


"Aku memang bukan agen yang baik. Maaf Julie."


"Sudahlah semua sudah terjadi, aku harus cerita ke Thomas, kau siap-siap saja, semoga dia benar-benar memegang kata-katanya, jadi kau aman sekarang disana?"


"Iya aku aman." Kuceritakan pengawal yang dia punya dan sistem kerja mereka. Dia punya pengawal tersembunyi, itu mengagumkan. Dia juga bisa mengakses data Sam Lynch, dan mengatakan padaku bahwa Sam Lynch bukanlah orang yang punya sumber daya besar.


"Ya nampaknya dia memang orang penting bagi sebagian orang. Hotelmu sudah kudapat. Kukirimkan alamatnya padamu, atau kau mau dijemput oleh pengawalmu besok terserah."


"Aku kesana saja dengan taxi."


"Baiklah, istirahatlah kalau begitu. Jangan lupa kunci pintumu. Nanti dia masuk ke kamarmu tengah malam." Aku tertawa, tidak kurasa. Entah kenapa dia bersikap baik padaku aku tidak tahu, tapi kurasa dia tidak selicik itu.


Setidaknya aku memperoleh sudah memperoleh dukungan Julie untuk sementara ini. Dia tidak akan membuangku karena terbukanya indentitasku.


Aku tak tahu apa yang akan kulakukan. Aku sudah menghubungi assitenku dan dia akan mengatur memindahkan semuanya.


Bagaimana dengan ide mengobrol dengan Louis. Aku tergoda melihatnya lagi. Maju mundur dengan pikiranku sendiri.


Ketika aku ingin naik ke lantai tiga, tapi kakiku tertahan , tapi rasa penasaranku ingin membuatku mengetuk pintunya. Aku tahu aku tidak logis lagi sekarang, sekarang aku berbalik dan membatalkan niatku.


Aku jadi berjalan-jalan lantai dua itu. Menemukan sesuatu untuk kulihat. Interior lantai dua ini lebih nyaman, di bawah semua dominan berwarna putih di sini berwarna lebih gelap.


Aku duduk sebuah ruangan yang merupakan ruang duduk cozy itu sambil menyalakan televisi, sudah jam 11, sambil membalas pesan dari beberapa teman.


Seorang wanita, tiba-tiba naik ke atas. Dia melihatku dan aku melihatnya.


"Kau siapa?" Ini pasti wanita yang di bilang oleh Louis, teman dekatnya.

__ADS_1


"Ahh aku hanya teman yang kebetulan harus tinggal di sini? Besok pagi aku akan pergi."


Louis turun dari lantai tiga dan melihat kami. Untunglah tadi aku mengurungkan niat ke atas.


"Kim, kau sudah sampai. Dia temanku dari London. Ada darurat dia sementara malam ini tinggal di sini." Louis menyambutnya, aku jadi canggung berada di sini.


"Kenapa aku sepertinya pernah melihatnya? Apa kita pernah bertemu?"


"Ohh dia artis terkenal, Julie Harris."


Julie Harris? Julie Harris yang itu, filmmu sedang hits, model terkenal itu?"


"Iya, aku hanya menumpang di sini. Aku hanya teman Louis, jangan salah paham. Besok pagi-pagi akan akan pergi." Tiba-tiba ada rasa tersisih yang kurasakan, mungkin Louis sengaja menyuruhnya ke sini untuk mengatakan padaku dia dan aku tak akan ada hubungan apa-apa, dan supaya aku tak mendekatinya. Apa perlu mempermalukanku begitu?


"Ohh aku juga hanya temannya. Cuma agak dekat. Namaku Kimberly, senang bisa bertemu denganmu Nona Harris." Wanita cantik itu tertawa sekarang. Sesaat perasaanku lebih baik. Tapi kemudian aku sadar tempatku bukan di sini.


"Aku akan ke kamar dulu jika begitu. Tadinya aku hanya ingin duduk sebentar disini. Selamat malam." Aku tidak melihat ke mereka lagi dan masuk ke kamarku. Ini memalukan atau ini hanya perasaanku yang merasa Louis sengaja membuat kekasihnya datang ke sini.


Sebuah pesan masuk dari asistenku bahwa dia sudah selesai me*minda*hkan barang-barangku ke hotel.


Aku membayangkan kondisi besok pagi jika aku harus berada di dekat mereka. Kuputuskan pergi malam ini juga. Kuganti lagi bajuku, kupakai lagi lipstickku. Lebih baik aku pergi dari sini.


'Louis, barang-barangku sudah di hotel. Keamananku sudah ada untuk besok, aku harus kerja pagi besok, aku pergi saja sekarang. Maaf menggangu dan terima kasih sudah menolongku.'


Tom yang tadi menjadi sopir sekaligus keamanan ternyata masih duduk di sofa dibawah.


"Nona? Kau mau kemana?" Dia heran tiba-tiba melihatku turun dengan tas sudah tersandang.


"Taxi-ku sudah diluar, hotelku sudah di urus, aku sudah mengirim pesan ke Louis, dia sedang bersama dengan wanitanya. Lebih baik aku tak menganggu mereka. Terima kasih Tom."


"Kau yakin, biar aku antar saja. Hotelmu dimana?"


"Tidak apa. Tenang saja aku bisa menjaga diriku. Terima kasih sekali lagi. Aku pergi Tom."


Dengan kalimat itu aku keluar dari rumahnya. Dia tak perlu bersikap seperti itu, mengangkatku terbang ke langit lalu melemparku ke bumi.

__ADS_1


__ADS_2