
POV Derrick
“Ada orang mengancamku.” Chin Lai Yee, CEO Orient Energy meneleponku pagi itu. “Aku menerima SMS dari nomor tidak dikenal yang menyuruhku pergi dari Jakarta.”
“Selain diancam apa ada tindakan yang lain?”
“Tidak, ancaman itu tadi pagi.”
“Wong Lee Man sedang berada di Jakarta, kurasa ada seseorang yang diturunkan ke sini, dia pasti berpikir semua keributan yang menjatuhkan SCI kemarin ulahmu. Aku akan mengirimkankan tim keamanan pribadi untukmu. Tenang saja, tapi tetap berhati-hati.”
“Thanks Derrick.” Telepon itu berakhir, aku adalah koordinator pengaman utama bisnis Hong Lung di Semenanjung Malaya, jika ada masalah keamanan begini aku harus turun tangan. Kutelepon tangan kananku. “Andy, Boss Shing Wang, Wong Lee Man di Jakarta, Lai-Yee mungkin kena masalah, dia menerima ancaman, ada pembuat onar sedang berada di Jakarta, aku ingin tahu dia menurunkan siapa ke Jakarta, coba kau ikuti dia hati-hati, kirimkan foto-foto orang di sekitarnya padaku.”
“Mengerti Boss.”
Sebuah telepon kali ini dari Daniel.
__ADS_1
“Dan, tumben, ada apa pagi-pagi?”
“Bro, kukira orang SCI mulai gerah sama kita, semua yang terlibat di tuntutan diancam.”
“Dia baru ngancem, Lai-yee juga dapet ancaman, Boss besar Shing Wang Group turun Jakarta, bawa tukang pukulnya kurasa. Saya lihat dulu keadaannya, belum ada somasi kedua-kan?”
“Belum,tapi boss tetap nuntut biaya yang kita udah keluarkan harus dibayar sama mereka.”
“Oke, buat keamanan, hati-hati aja dulu, kurasa sampai sini dia cuma berani ngancem. Saya akan bereskan.”
‘Boss, ... saya tahu siapa yang difoto ini. Simon Tam, orang di Hongkong bilang baru 3 tahun ini dia naik jadi salah satu tukang pukul kepercayaan Wong Lee Man, masih muda-baru pertengahan 30 tahunan, si licik ini punya latar belakang pendidikan hukum, ini kepala intimidator sekarang.”
“Ohhh bawa kepalanya langsung kesini? Kamu suruh orang ikutin dia, lapor dimana dia tinggal, dia pakai bantuan siapa disini.”
“Oke Boss.”
__ADS_1
Aku tak akan turun kelapangan jika tidak terpaksa, lebih suka berada di belakang layar, keberadaanku sebagai koordinator keamanan tidak pernah diketahui, kecuali oleh kepala bisnis masing-masing perusahaan. Jabatan tidak resmiku ini tidak pernah terbuka kecuali aku membukanya sendiri, dan dengan tidak adanya yang tahu aku lebih leluasa bertindak, tapi semua tindakan kepala pelaksana lapangan seperti Jonny dan Andy akan melalui pertimbanganku tetap.
“Kent, kau tahu siapa Simon Tam.” Kent adalah koordinator utama wilayah Hongkong, dia mengenal seluk beluk di sana, sementara aku sudah belasan tahun meninggalkan Hongkong.
“Simon Tam, maksudmu orangnya Wong Lee Man, bangsat licik itu anak kemarin sore, dia berumur 35tahun, kudengar dia anak seorang kepala geng sekolah seorang di lingkaran Wong Lee Man, masuk ke hukum, selain tukang berantem, dia tahu celah-celah berhadapan dengan hukum di Hongkong sehingga dikatakan paket lengkap, makanya dia cepat naik pangkat di sini. Dia pernah kucobai langsung, biasa saja, hanya pintar menggunakan orang.”
“Kau cobai? Maksudnya?”
“Tony pernah sengaja mencari masalah dengannya, maksudku jika dia bertarung satu lawan satu.”
“Heh, ternyata.” Aku tertawa.
“Harus itu, musuh perlu diukur kekuatan dan kelemahannya.”
“Oke, thanks brothrt buat infonya.”
__ADS_1
Sementara Papa Tata sudah kembali ke Hongkong, Cherrie yang ‘akhirnya’ tidak berusaha membuat masalah lagi. Jika aku terlibat masalah dengan Ayahnya, setidaknya aku bisa tetap berlindung dengan statusku yang hanya ‘direktur perusahaan retail kosmetik’. Dia tidak tahu peran tambahanku, kecuali dulunya aku memang pernah masuk sebuah kelompok gangster di Kowloon dan bekerja pada Philip Leung.