
Sandra datang ke kantor menemuiku. Aku tahu dia sudah menyelesaikan semua urusannya dengan pekerjaan lamanya.
"Apa yang kau lakukan beberapa hari yang lalu?" Aku menyembunyikan senyumku sekarang.
"Aku melakukan apa? Tak ada..." Sekarang dia melipat tangan di depan dadanya.
"Jadi kau benar punya foto por*no Simon?! Aku mendengar gosipnya dari beberapa anak buah lama..." Aku tak menjawabnya. "Kau memang penjahat murah*an boss!" Sekarang aku tertawa. Hanya Sandra yang bisa mengatakan aku murahan.
"Adek tak tahu diuntung!" Baru aku ingin memarahinya dia sudah angkat tangan.
"Ya oke oke...sudah terserah kau saja, ... Jadi itu yang menyebabkan Simon resign dari pekerjaannya. Luar biasa, lain kali aku akan memikirkan sesuatu seperti itu untuk mengancam orang." Sandra yang tertawa sekarang.
"Tiket dan akomodasi di Bali sudah di tangan Andy, tanggal 9 kerjaan pertama you, berangkat ke Hanoi, survey pekerjaan di sana, ada arsitek boss mau kemping di antah berantah tempat resort bintang lima boss yang mau dibangun."
"Hanoi? Kemping di antah berantah?"
"Iya data klien belum datang, mungkin nanti dekat-dekat tanggalnya, dia meminta pendamping wanita, jangan tanya aku alasannya, aku tak tahu. Tapi nanti disana ada partner boss juga yang akan bantu jadi you tidak sendiri."
"Pria, minta pendamping wanita, pasti punya uang, brengsek, aku harus mencarikan wanita peneman tidur untuknya. Arsitek andalan, ...pria, tak diragukan lagi. Penghubungku harus tahu dimana mendapatkan wanita cantik..."
"Aku tak tahu itu urusanmu, yang penting penuhi segala permintaannya, jangan berniat membunuhnya, dia tamu boss, dan terutama jangan memasukkan obat pencuci perut ke makanannya!" Aku memberinya peringatan karena wanita ini sering melakukan hal seperti itu untuk mengerjai orang.
Sandra langsung tertawa.
"Aku memang memikirkan itu jika dia menyebalkan, aku bisa berdalih itu keracunan makanan lokal. Setidaknya dia bisa belajar hukum karma jadi menyebalkan itu ada..." Aku menatap Sandra, nampaknya dia benar-benar akan melakukannya. Dia meringis lebar didepanku.
"Kau, jika aku menerima laporan dia masuk rumah sakit karena keracunan makanan, gajimu kupotong biaya rumah sakitnya." Sandra ngakak dengan ancamanku.
Aku jadi takut menyuruhnya mengambil pekerjaan ini.
"Astaga Boss, kau pikir aku semenakutkan itu ya?" Dia masih tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Ohh tidak? Aku juga pernah kau masukkan obat pencuci perut. Bagaimana aku tak tahu kelakuan mu. Itu kan jurus andalanmu..."
"Itu pertama kali kita bertemu, sudah belasan tahun yang lalu. Kau masih saja mengingatnya." Dia nampaknya mengerjaiku. Tapi aku tak main-main mengancamnya, kadang dia punya 1001 maam cara mengerjai orang yang dia tak suka.
"Pokoknya awas saja jika kau mengerjai tamu boss nanti."
Telepon intercomku berbunyi.
"Pak Bu Tata datang?"
"Ohh ya suruh dia naik."
"Kau ada tamu? Aku bisa kembali saja, aku hanya melapor aku sudah siap liburan karena aku kebetulan dekat dengan kantormu."
"Oh tak apa, ini hanya Tata kekasihku, dia barusan tadi menelepon dia disini dan ingin mengajakku makan siang, kita makan siang bersama saja, kukenalkan kau dengannya." Tadinya aku ingin mengajak Sandra makan siang karena dia sekalian sudah mampir. Tapi kebetulan Tata datang jadi sekalian saja.
"Ohh begitu, apa aku tak menggangu kalian?"
"Dia pernah melihatku? Dimana?"
"Dulu pas kita makan siang pertama kali dia pernah melihatmu. Tapi tak menghampiri kita,..." Dan setelahnya Tata matah-marah karena cemburu buta, kupikir aku akan mengenalkan mereka, supaya Tata tidak curiga lagi, kami hanya teman kerja.
"Ohh, begitu. Baiklah akan senang berkenalan dengannya.."
Tak lama Tata masuk, dia nampaknya langsung mengenali siapa wanita di depanku, wanita yang pernah dia cemburui.
"Ehhh Hallo Kakak Sandra,..." Syukurlah dia mau menyapa Sandra duluan, nampaknya kesalahpahaman sudah usai.
"Hallo Sandra Lai, senang bertemu denganmu."
"Tadinya dia mampir untuk melapor dia sudah bisa bekerja, kupikir kita bisa makan siang, kebetulan kau datang jadi ya sudah kita makan siang bersama saja?"
"Oh ya boleh, senang bisa berkenalan dengan Kakak Sandra juga, maaf Cantonku baru belajar, aku bicara bahasa Inggris saja dengan Kakak Sandra..."
__ADS_1
"Ohh tak apa bahasa Inggrisku lancar, jangan kuatir. Bahasa Indonesiaku juga baru belajar, tidak seperti Derrick sudah fasih."
"Kau masih ingat Tuan Arnold Lam, dia putrinya Tuan Arnold."
"Ohhh putri Tuan Lam. Ya aku ingat Tuan Lam ..."
Kami makan siang di sebuah restoran makanan Indonesia kemudian. Tata terlihat ramah, nampaknya dia mempercai perkataanku bahwa Sandra itu teman. Mereka nampaknya cukup bisa menyesuaikan diri.
"Kak Sandra susah berapa lama kenal dengan Ko Derrick?" Tata yang bertanya sekarang.
"Kurasa entag 13-14 tahun yang lalu mungkin, sudah lama sekali. Aku tak ingat lagi."
"Ternyata begitu, cukup lama ya, makanya kelihatannya kalian akrab sekali." Aku melihat ke Tata. Cara bicaranya nampaknya aneh, dia fokus ke makanannya kemudian. Sandra melihatku, dia tampaknya juga merasa kata-katanya Tata agak sedikit aneh. Apa dia masih cemburu.
"Ahh kami memang sudah layaknya saudara, sudah lama berteman. Dulu teman satu geng yang sama-sama menghadapi bahaya di jalanan Kowloon, makanya sudah terbiasa satu sama lain." Sandra menjelaskan.
"Ahh iya Koko juga pernah bilang begitu Kak Sandra." Tapi kemudian Tata biasa lagi, terlihat mencoba menjadi ramah.
Sandra kemudian pamit pulang, aku mengambil kesempatan untuk bertanya padanya.
"Kamu kenapa?"
"Aku kenapa?" Dia balas bertanya padaku.
"Kamu masih cemburu ke Sandra, dia hanya teman lama. Kok nanyanya agak aneh tadi, kita akrab karena hanya teman." Tata tersenyum kecil.
"Engga aku biasa aja, perasaan Koko aja. Udah aku pulang juga oke, masih ada kerjaan di kantor."
Dan sekarang dia pergi. Aku penasaran apa dia nanti marah-marah lagi dirumah.
----- bersambung besok.
dikit dulu besok banyakan 😁
__ADS_1