TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 5 Part 31. Pretty Nurse 2


__ADS_3

"Kau sudah sembuh nampaknya, sudah bisa membantah." Dia meringis.


"Kau melihat Kimberly? Apa dia datang hari ini?"


"Belum, nanti kutelepon saja."


"Tommy juga belum terlihat, kemarin katanya mereka menemukan sesuatu tapi mereka belum mengatakan apapun padaku."


"Aku tak tahu mungkin sedang di usahakan, atau mereka sedang menyelidikinya, proses investigasinya mungkin tak sesederhana itu. Nanti kuteleponkan untukmu. Kau tak diberikan ponselmu?"


"Kemarin Kimberly semalaman menungguiku saat operasi, tambahan dia masih harus ke kantor aku tak mau mengganggu istirahatnya. Aku melihat ada peristiwa pengejaran di berita, entah orang dalam berita itu terkait atau tidak aku tak tahu."


"Dan kau lebih baik tak memikirkan untuk mengejar penjahat yang tak bisa kau lakukan sama sekali, istirahat yang benar dan biarkan yang sehat yang memikirkan menangkap penjahatnya."


"Kau memang paling bisa membantah dan menyuruh orang juga, kau tak pernah dapat surat peringatan dari Thomas."


"Tidak, bossku baik padaku. Makanlah jangan banyak tanya, urusanku dengan Thomas jelas bukan urusanmu."


"Kalau aku jadi Thomas, sudah tak kugaji kau."


"Cerewet sekali, kemarikan kentang gorengku. Kau makan sup saja. Kutarik kentang gorengku dari tangannya dan kubiarkan dia makan sendiri."


"Kau penunggu pasien terburuk yang pernah ada." Sekarang aku tak memperdulikannya, aku duduk di sofa dan menghabiskan kentang gorengku sendiri dengan cepat.


"Kau tega sekali itu satu-satunya makanan padat disini." Sekarang dia mengiba. Aku meringis.


"Katakan padaku, ...Julie kau yang terbaik dan tercantik. Dengan sungguh-sungguh." Aku menawar harga kentang gorengku.


"Pemeras orang sakit."


"Kumakan lagi."


"Julie kau baik, Julie kau cantik." Dia menyerah karena kentang goreng.


"Pakai perasaan. Tidak tulus. Ulangi."

__ADS_1


"Kau nenek sihir penindas." Aku ngakak mendengarkan balasannya. Dia meringis melihatku tertawa begitu rupa. Kukembalikan kentang gorengnya.


"Kau memang kejam." Aku menyuapinya lagi karena kasihan. Antara sup dan kentang goreng yang bisa diambilnya sendiri. Kenapa aku lemah hati ke orang pria ini . Dia sama sekali tidak ada bagus-bagusnya.


"Kau tidak seharusnya ada di sini." Dia ingin mengusirku lagi.


"Makanlah, jangan bawel. Obatmu harusnya sebentar lagi datang."


"Aku hanya orang profesional, bukan pemilik perusahaan. Kadang pekerjaanku berbahaya, kau harus tahu. Keluargamu tak akan setuju." Aku sama sekali tak ingin mendengarkannya sekarang.


"Aku tak ingin pemilik perusahaan, aku sudah punya perusahaanku sendiri. Jangan menganggapku anak kecil yang bisa kau suruh. Aku tahu bedanya menerima apa adanya. Aku juga pernah hampir bangkrut. Aku menjadi agen selama 5 tahun, kau pikir aku tak tahu bahaya, aku sudah melewati nerakaku sendiri dan kembali dengan selamat, kau tak perlu menguliahiku seakan aku anak umur 20 tahun yang belum tahu dunia, aku sudah pernah bertunangan dengan anak pemilik perusahaan. Kau pikir aku tak tahu rasanya di nilai dari saham perusahaan. Anak pemilik perusahaan itu membuangku karena nilai sahamku anjlok, kau tahu aku mendendam bertahun-tahun karena itu."


Sekarang aku marah, dia masih membahas itu, seakan aku tak tahu pilihanku sendiri, dan aku anak 17 tahun yang memutuskan hanya karena menganggap cinta itu indah berbunga-bunga berwarna merah hati.


Setelah perkataan panjangku aku diam. Dia juga diam. Perawat memecah keheningan kami.


"Ohh Tuan Allen sudah makan?"


"Dia kelaparan, aku membawakannya sup kirim ayam dan roti. Tapi dia menghabiskannya tanpa merasa mual. Nampaknya pencernaannya sudah kembali ke fungsinya."


"Iya, terima kasih."


Kami berdiam tidak melanjutkan perdebatan.


"Kau mau makan lagi. Kusuapi, ini ada pasta, kau boleh makan pasta non dairy ternyata." Kupinggirkan perdebatanku tadi dengannya, bagaimanapun aku sedang menjaga orang sakit.


Dia menerima pasta yang kusuapkan tanpa protes. Aku bicara hal lain, berusaha melupakan pertengkaran kami yang terjadi tadi. Dia minum obat oralnya yang sudah diantarkan suster. Keadaannya jelas lebih baik dari kemarin.


"Terima sudah kesini." Dia mengatakan hal yang tidak perlu rasa terima kasih sebenarnya. Untuk apa berterima kasih padaku untuk sebuah hal yang tidak perlu di sebutkan.


"Tak perlu mengatakan terima kasih." Aku tak mau melihatnya saat mengatakannya. Dia menggengam tanganku.


"Aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Maaf aku mungkin berusaha mengusirmu lagi. Aku hanya tak mau kau menyesal bersama denganku. Banyak di luar sana yang lebih baik dari padaku." Aku menatapnya dengan kesal saat dia mengulangi kalimat yang sama.


"Bisakah kau diam saja. Aku tak perlu semua kata-kata itu."

__ADS_1


"Baik aku diam."


Sekarang aku tak tahan mendengarnya. Aku menjauh darinya, duduk di sofa dan menjauhkan diri darinya. Mengambil ponselku sendiri, sementara dia melihatku marah.


Dia membuat suara kesakitan karena ingin mengambil ponselnya yang terletak di meja di sampingnya.


"Kenapa kau tak memanggilku." Aku bergegas mengambilkan untuknya.


"Terima kasih."


Aku jadi tak tega mendiamkannya lagi. Dia sedang sakit, walaupun dia masih senang membuatku kesal, dia tak bermaksud melakukannya dengan sengaja.


"Kau perlu bantuan apa lagi? Katakan saja padaku. Kau perlu semacam catatan? Atau memanggil Henry, dia ada di ruang tunggu di depan. Kau jangan bekerja atau bergerak terlalu banyak lagi nanti kau tak sembuh-sembuh." Aku menarik kursi ke sampingnya.


"Iya, aku hanya ingin mengirim pesan ke Tommy, bukan sesuatu yang membahayakan. Jangan khawatir. Mereka belum mengabarkan apapun dari kemarin aku penasaran ada kabar apa." Dia mengetikkan pesan di ponselnya. "Maaf membuatmu khawatir." Sekarang dia terlalu banyak meminta maaf.


Dokter memeriksa kondisinya tak lama kemudian. Aku menanyakan bisakah dia makan yang lebih berat. Jawaban dokter dia harus menunggu dua hari lagi. Ternyata dia masih harus tersiksa. Nampaknya dia cukup kesal menerimanya. Aku akan melapor ke Bibi soal dia masih belum diperbolehkan makan berat.


"Patuhlah pada nasihat dokter jangan membantah. Jangan mencoba meminta Henry membelikanmu makanan dari luar. Itu cuma dua hari. Nanti akan kukatakan pada Henry." Aku membaca pikirannya.


"Kenapa kau tahu..." Aku meringis, dia pikir aku tak tahu otak culasnya.


"Kentang goreng saja. Aku tak minta apapun sekain kentang goreng." Sekarang dia mengaku kesalahannya padaku, menawar makanan seperti dia minta mainan. "Nona perawat, katakan boleh untuk kentang goreng, porsi kecil saja."


"Baik-baik, hanya boleh 2x, sarapan tak termasuk." Dia tersenyum lebar padaku.


"Kau yang terbaik." Siang itu akhirnya kami tidak bertengkar lagi.


Dia tertidur kemudian, karena mungkin dokter memasukkan istirahat siang melalui obatnya. Aku melihatnya yang tertidur.


Teleponku berbunyi. Colin meneleponku. Aku jadi merasa bersalah padanya berada di sini. Dia harus tahu cepat atau lambat. Tapi tidak dari telepon.


"Kau dimana? Tidak ada di London?"


"Aku ada di NY, klien memintaku datang cepat. Aku baru tiba kemarin, maaf tidak memberitahumu lebih awal. Tapi nanti aku akan kembali lagi dalam dua minggu."

__ADS_1


"Ohh baiklah, aku harus ke Madrid dan Milan besok. Nanti kapan kau kembali ke London kabari aku." Colin percaya padaku, dia baik, sangat baik, dia tidak boleh menghabiskan waktunya untukku yang tidak bisa sepenuhnya berada di hatinya. Seseorang yang lebih pantas akan ada untuknya.


__ADS_2