TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 32. Wanna my Hug?


__ADS_3

“Ko,  udah kenal berapa lama? Koko di Indo berapa lama?”


“7 tahun. Kenal dia mungkin sekitar baru 4 tahun kemarin.” Dia cerita juga akhirnya.


“Single parent ya Ko.”


“Iya.” Jawaban Koko singkat saja. Semoga Kak Lisa baik-baik saja, tapi mungkin mereka hidup cukup, mereka sudah punya penghidupan bagus.


“Kenapa? Kamu ngangep Koko jelekkah?”


“Engga. Ya cuma kasian  aja ada yang patah hati. Cinta bertepuk sebelah tangan kayanya. Tegaan lu emang Ko...” dia senyum.


“Saya udah ngomong di depan, sebenarnya sampai kami tak punya masa depan. Bukan kasih harapan palsu ke dia.”


“Ya-ya-ya, aku cuma ngomong kasian aja, sebenarnya aku simpati ke semua single parent kaya Mamaku, mereka semua wanita hebat. Temenku di kantor juga ada yang single parent. Jadi Ayah dan Ibu sekaligus, mereka hebat Ko.”


“Iya, mereka hebat.”


Sepanjang jalan kami diam dengan pikiran masing-masing. Aku tak masalah duduk tanpa bicara begini, jika kau sudah terbiasa dan nyaman dengan seseorang, maka duduk  tanpa bicara tidak akan terasa canggung. Kupikir aneh juga aku bisa mencapai tahap ini dengan Ko Derrick, padahal kami jarang bertemu, tapi aku percaya padanya begitu saja.

__ADS_1


“Kamu beneran gak mau pindah ke HK?”


“Gak. Papa nyuruh Koko ngomong ke aku kan.”


“Papa kamu khawatir. Mungkin jika ditanya ke Mama kamu, mungkin dia akan bilang supaya kamu ikut Papa, seumur hidup dia berusaha agar kamu baikan dengan Papa.”


“Entahlah mungkin sekarang belum Ko. Mungkin nanti, gak tahu liat aja ntar. I’m just  fine. Thanks Ko. Aku gak pernah punya Koko, tapi Ko Derrick udah kaya keluarga gini,aku jadi hutang budi ke Koko.”


“Wanna hug mui-mui (adik perempuan)?” Dia  tersenyum. Koko tidak pernah menyentuhku, hanya paling memegang tanganku, tapi sekarang dia menawarkan pelukan.


“Tar Lisa marah, aku peluk-peluk properti dia.”


“Thanks Ko.” Rasanya nyaman punya seseorang yang bisa  menawarkan pelukan. Terlalu nyaman bahkan, bertahun-tahun ini hanya Mama yang memelukku, sekarang Koko yang baik hati ini.


*******###********


Andrew berusaha mengajakku ngobrol karena dia punya nomor ponselku. Tapi aku tak bisa menghilangkan perasaan aku ditargetkan. Ditambah ada seorang lagi yang juga ternyata memintaku mengerjakan iklan perusahaan mereka karena mengenal Papa. Yang ini bernama Benny.


Berlawanan dengan Andrew yang cukup sopan, Benny ini flamboyan dan tanpa tedeng aling-aling.

__ADS_1


“Nita, kita pernah ketemu di rumah duka. Masih ingat saya?” Seusai pertemuan tim aku diundang bicara di ruangannya secara pribadi. Yang ini  case-nya lebih ganteng dari  Andrew kalo dibandingin, gak heran  gayanya PD.


“Tamu banyak sekali Pak Benny, saya banyak yang lupa.”


“Panggil Benny saja, harusnya umur kita beda tidak terlalu jauh, saya  34.”


“Ohh sama...”


“Oh ya, saya pikir kamu masih sekitar 27 atau 28.”


“Jauh tebakannya ya.”


“Artinya kamu awet muda.” Aku tersenyum saja menanggapinya. “Mau makan malam gak. Ngobrol? Nonton? Jalan-jalan.” Langsung ngajak jalan, yang ini sangat PD dia tidak akan  ada yang menolak.


“Saya harus balik ke kantor masih ada kerjaan abis ini  di produksi. Mungkin lain kali ya Ben...”


“Ohh ya udah lain kali ya. Nanti kita contact lagi, oke? Nampaknya kamu sangat sibuk.”


“Iya. Lain kali.” Aku entah kenapa selalu otomatis menolak dengan alasan yang sama. Rasanya ada ketakutan untuk mengiyakannya. Sesuatu yang membuatku tak aman dan enggan. Mungkin pengalaman buruk hampir diberikan obat oleh Marcello mempengaruhiku.

__ADS_1


Akhirnya aku harus mengiyakan sebuah janji makan siang demi kelancaran proyek, kupikir makan siang  paling ya dua jam gak sampai aku masih tetap bisa kabur. Kali ini dengan Andrew yang sepertinya lebih kalem. Sepertinya dia tidak berbahaya.


__ADS_2