TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 3 Part 36. I Love You 2


__ADS_3

"Pasti saat aku bilang aku bersedia di jodohkan denganmu kau ketakutan." Koko meringis lebar sekarang.


"Aku bilang aku butuh waktu." Dia mengelak dengan diplomatis. Aku mencibir.


"Bilang saja iya, tak usah menyalutnya dengan kata-kata manis." Dia malah tertawa ngakak.


"Cherrie sayang, aku takut padamu, mencari masalah denganmu adalah sebuah bencana."


"Bagus. Jangan cari masalah denganku." Dia tersenyum saja melihatku. Aku melihatnya dengan senyum dikulum. "Katakan sesuatu yang manis untukku. Kumohon..."


"Katakan apa..."


"Apa saja." Dia menatapku yang bersandar di lengannya, menatap matanya dengan senyum di bibir.


"Aku mencintaimu." Aku kehilangan senyumku ketika dia mengatakannya dengan pandangan memuja. Seseorang berkata dia mencintaiku, apa adanya aku, dengan segala kekuranganku dan latar belakangku yang kacau. Mataku memanas tapi akhirnya aku berhasil mengembalikan senyumku kembali.


"Terima kasih." Tiba-tiba aku tak tahu bagaimana membalasnya. "Aku juga mencintaimu,..."


Dan dia mengecup keningku membuat kataku tambah panas dan akhirnya tak bisa membendung air mataku.


"Hei...hei, apa yang salah, kenapa kau menangis." Aku tertawa kecil dalam tangisku.


"Tidak tahu, aku bodoh bukan." Sekarang Koko tersenyum dan memelukku, aku melekat begitu saja padanya.


"Aku senang kau menangis bahagia, bukan menangis sedih." Koko tersenyum padaku. Aku menghapus air mataku dan mencoba membalas tersenyum.


"Aku memang aneh." Menertawakan dirimu sendiri saat ini adalah pembelaan yang benar.


"Kau adalah kau, tidak ada yang aneh." Aku terlalu bahagia malam ini kurasa, hanya karena dia bilang dia mencintaiku.


"Ada satu lagi, sebentar..." Dia tiba-tiba beranjak pergi.


"Hah? Apa yang satu lagi."


"Tunggu disana." Dia masuk ke kamar dan kemudian kembali tak lama kemudian. Aku melihatnya dengan binggung.

__ADS_1


"Apa?" Aku tak melihat apapun. Dia duduk kembali di sampingku. Dan merangkulku kembali dalam pelukannya.


"Pejamkan matamu."


"Pejamkan mata?"


"Iya. Ayo..." Aku terpaksa memejamkan mata. Sebuah suara kecil terdengar aku tak yakin itu apa, lalu tanganku diambil dan sebuah benda terselip ke jari manisku. Aku langsung membuka mataku.


"Ini apa?" Aku terbelalak melihat cincin solitaire indah yang sudah melingkar di jariku.


"Cincin-mu." Koko tersenyum dengan tak berdosa.


"Kenapa begitu?"


"Apa yang kenapa begitu?!"


"Kau tak mengatakan kata-katanya, kau tak berlutut, kau tak menyiapkan apapun?" Dia mengaruk kepalanya.


"Bukannya kau sudah setuju?" Dia dengan enteng mengatakannya.


Dia diam, sadar dia sudah salah.


"Ya sudah ku ulangi, kembalikan cincinnya, kita ulangi." Dia memegang tanganku. Kupuntir saja jarinya karena kesal. Dia meringis ke sakitan.


"Enak saja ambil kembali."


"Baiklah aku salah, kupikir kemarin kau sudah bilang iya. Maafkan aku oke."


"Kapan aku bilang iya?" Aku tak merasa bilang iya.


"Saat kau di Shanghai, kita sudah akan membuat bayi. Kau bilang mau anak dariku."


"Itu tak bisa dibilang iya!" Aku masih kesal.


"Ohh begitu? Baiklah, apapun katamu, ini sakit sayang. Kau tega padaku?"

__ADS_1


"Kau juga tega padaku. Cincinmu? Kalimat apa itu? Memangnya aku beli cincin padamu?! Cincinmu... Astaga, satu kata? Kau tega." Masih kupelintir tangannya.


"Kau membeli hatiku sayang. Cincin itu hanya tanda... aku milikmu." Aku meringis.


"Kapan kau memikirkan kata-kata seperti itu."


"Terpaksa karena tanganku kesakitan ..." Dia yang gantian meringis. Tapi ternyata dia tak benar-benar terkunci. Dengan cepat dia membalik kuncian tanganku dan mengunci lenganku di belakang. Aku melihatnya dengan kesal dan mencoba melepaskan diri.


"Maaf, aku salah. Jadilah istriku Cherrie Wong. Kumohon karena aku sudah jadi tawananmu, bahkan sudah berjanji membesarkan anak kita dengan bahagia. Cincin itu sudah jadi milikmu sebelum kau memintanya. Jadi terimalah aku..."


Sekarang kata-katanya lebih baik.


"Kau memang pintar negosiasi Anthony Cheng." Dia tertawa.


"Aku sedang menegosiasikan masa depan anak-anak kita. Sayang, terimalah aku... katakan iya padaku. Kumohon padamu."


"Cincinmu. Akan kuingat itu seumur hidupku."


"Kau jadi mengingatnya kan. Itu akan jadi kata-kata kita, will you marry me sudah terlalu biasa."


"Kau memang pintar bicara." Dia tersenyum lebar padaku.


"Iya, aku terima saja apapun katamu..." Dia menciumku tiba-tiba dengan tanganku masih terkunci. Aku ingin memeluknya tapi dia masih tak mau melepaskanku. "Jadilah istriku?"


"Lepas dulu."


"Katakan iya dulu." Dasar pemaksa.


"Iya." Jawabanku membuatnya tersenyum dan melepaskan kuncian tanganku, menarik aku kepangkuannya, memeluk pinggangku membawaku dekat sekali padaanya.


"Aku mencintaimu. Terima kasih sudah mengatakan iya."


Kali ini aku yang membalas menciumnya kembali.


๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Komen dan hadiahnya yaaa


__ADS_2