
Aku selalu punya pikiran aku harus memberi wanita selingkuhan Ayahku itu pelajaran pedas, dia masih suka wira-wiri di tabloid membicarakan kehidupannya yang tertindas bersama anak-anaknya.
Ayah akan segera mendapatkan pelajaran segera tinggal wanita ini. Provokator yang membuat semua kekacauan dan mempermalukan Ibuku.
Teman-teman Ibuku akhirnya tahu bagaimana cerita yang sebenarnya tentu saja, walaupun dia sekarang sudah berstatus Nyonya segera setelah perceraian Ayah dan Ibu di sahkan, tapi komunitas tak pernah menanggapinya, mereka tahu siapa yang membuat drama dan pura-pura jadi korban.
Jadi sekarang aku merencanakan tindakan balasan. Setelah kupikir sekarang tugasku menghandle para pemegang saham jauh lebih ringan.
Jadi sore ini aku mengatur sebuah pertemuan dengan seorang private investigator.
"Aku ingin mengetahui apa yang dikerjakan, keburukannya, hal-hal yang di tutup-tutupi, skandal, kau bisa memdapatkan bukti-buktinya dengan foto, video, susupkan orang ke rumahnya, terserah apa yang kau mau lakukan laporkan padaku. Jika kau perlu biaya tambahan untuk tindakan suap untuk memperoleh informasi berutahu aku, aku akan mengiyakan jika memang dia punya informasi bagus..." Aku bicara pada seorang private investigator hari ini.
"Saya sangat mengerti apa yang Nona inginkan."
"Semangkin busuk skandalnya semangkin baik, semangkin banyak daftar kejahatannya yang kau dapatkan semangkin bagus, kau bisa menjualnya ke wartawan tabloid, dia orang terkenal di Hongkong."
"Maksudmu aku bisa menjual informasinya?"
"Benar." Pria di depanku tersenyum senang.
"Anda baik sekali Nona, tenang saja serahkan pada saya. Akan saya bongkar dengan tuntas semuanya. Anda tinggal duduk dan menonton."
"Bagus, kutunggu kejutannya. Aku ingin ini jadi berita besar di tabloid. Jika perlu berbulan-bulan, tapi lebih baik kau bisa menemukan skandal dibawah dua bulan."
"Saya mengerti."
Tinggal menunggu hasilnya, jika aku berhasil membuat kekacauan sebelum rapat umum pemegang saham itu akan lebih baik.
Aku mengunjungi Paman, untuk melihat keadaan kantor juga. Dengan tak adanya Nathan kurasa keadaan menjadi jauh lebih tenang.
"Paman." Aku menyapa Paman begitu memasuki ruangan.
"Cherrie, sudah Paman bilang kau dapat cuti seminggu, kenapa kau tak ke Shanghai saja." Paman malah mengelengkan kepala begitu melihatku masuk ke ruangannya.
"Paman, aku tak apa, kenapa mesti cuti. Shanghai sudah ada yang mengurus, laporannya kulihat tiap hari. Aku kesana tiap akhir bulan." Duduk di depannya, aku sudah punya perhitungan kekuatan yang baru.
"Kurasa kita sudah menguasai 54-sampai 57% dengan perubahan kemarin kan Paman."
"Paman dari kemarin kesal, bagaimana jika kita lanjutkan saja ke polisi. Rasanya membiarkan mereka pergi itu menyebalkan." Aku meringis.
"Paman, tak apa. Ini hasil instan yang kudapat. Paman pikir mereka akan selurus itu, kita harus menghadapi counterattacknya mereka, menurutku mereka akan berusaha melepaskan sejumlah saham mereka dalam beberapa hari kedepan. Paman harusnya menelepon mereka dan mengingatkan mereka agar jangan macam-macam sekarang."
"Menjual saham?"
"Iya."
"Aku tak memikirkan itu."
"Lebih baik kau ancam mereka sekarang Paman, daripada dia mencari alasan, mungkin dengan mengatakan dia punya keperluan dana investasi atau 1001 macam alasannya. Jika perlu kunci dia dengan perjanjian bahwa dia tak boleh melepas sahamnya sekaligus nanti, jika tidak dia akan memberikan kita kesulitan."
"Baiklah, aku akan meneleponnya."
"Mr. Chow,..." Paman mulai bicara dan mengancam Ayah Nathan itu tanpa basa-basi. Mumpung dia masih memiliki kasus hangat untuk di hadapi.
"Aku akan mengirim perubahan perjanjiannya padamu." Dia menyelesaikan pembicaraan dengan cepat dan menjadikannya perjanjian tertulis sebagai bukti.
"Selesai, benar juga, jika dia tidak mendapatkan sesuatu disini lagi, mungkin dia akan berusaha membuatnya goncang."
__ADS_1
"Bagaimana reaksi Ayah? Dia pasti sudah tahu masalah ini."
"Dari yang kudengar, banyak yang terkena ledakan amarahnya beberapa hari ini. Kau tahu bagaimana Ayahmu itu bersikap jika ada ada masalah yang menganggunya. Biarkan saja, tak ada yang dapat kita lakukan sampai tiga bulan kedepan, yang penting perusahaan tetap berjalan."
"Bagaimana jika tiba-tiba Ayah menarik semua sahamnya? Paman sudah memikirkannya?"
"Hmm... Dia tak akan sebodoh itu, laporan kita bagus, penurunan akan dimanfaatkan investor untuk membeli kembali, biarpun dia membuatnya anjlok, dalam waktu singkat akan pulih. Aku malah senang karena itu berarti tak ada dualisme di perusahaan ini. Tapi dia tak akan melakukannya, kau pikir di usianya membentuk perusahaan baru akan mudah? Dia tak akan sebodoh itu. Lebih bagus aku menendangnya ke Malaysia atau Singapore daripada dia menaruh uangnya di meja judi bernama perusahaan baru."
"Ternyata Paman berpikir begitu. Baiklah, kurasa aku tinggal follow up pekerjaanku kemarin. Aku berkantor di sini saja Paman mulai minggu depan. Sudah tak ada Chow bangsat itu lagi di sini. Coba saja dia berani datang, aku akan menghajarnya sendiri."
"Laki-laki ba*nci itu memang perlu dihajar oleh wanita. Tapi kau tahu siapa yang sering datang sekarang ke sini."
"Siapa?"
"Nyonya CEO, ..." Aku langsung tertawa.
"Kau serius Paman."
"Besok ada pesta untuk para level manager ke atas, dia yang membuat pestanya. Mungkin dia berpikir itu dapat membantu suaminya mempertahankan jabatan CEOnya, para Direktur melapor dia memberi mereka hadiah khusus. Dia sedang berlaku seperti malaikat di sini."
"Itu sungguh lucu."
"Dia merencanakannya saat dia masih diatas angin kemarin, entah dia sudah tahu atau belum perkembangan beberapa hari ini. Kurasa belum, tadi aku bertemu dengannya masih dengan muka malaikat." Aku meringis lebar, langsung merasa menemukan kegiatan menyenangkan.
"Dia masih ada disini?"
"Keponakan licik, aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu." Aku langsung tertawa ngakak, ketika Paman mengatakan aku licik.
"Ayolah Paman, kau bilang aku masih libur, aku perlu sedikit kegiatan menyenangkan. Aku besok akan berkantor disini, hari ini memang aku tak ada jadwal pertemuan, tapi besok sudah ada. Tapi sebagai anggota keluarga Chan yang baik, hari ini aku tetap bekerja, sedang dalam tugas provokasi."
"Dasar tukang berkelahi." Pamanku tertawa kembali mengataiku dengan bercanda, tapi dia lalu mengangkat teleponnya.
"Baiklah Paman, aku mau pergi membuat kekacauan dulu. Nanti aku langsung pulang sehabis membuat Nyonya kesal, telepon saja jika aku punya jadwal tambahan, awas jangan coba berpapasan dengan kucing pemarah, dia nanti mencakarmu."
"Sana pergilah, lakukan sesukamu. Akan kusiram air biar kepalanya dingin jika bertemu." Aku tertawa mendengar jawaban asal paman. Yiyi assisten Paman menunjukkan padaku dimana ruangan sang Nyonya.
Dasar Nyonya baru naik pangkat, yang bisa dia kerjakan cuma pencitraan. Dia bahkan punya meja sekertaris dadakan di depan ruangannya.
"Nona Cherrie,..." Ternyata sekertaris itu mengenaliku biarpun aku hanya kadang-kadang muncul di sini.
"Nyonya ada? Kau disuruh menungguinya di sini."
"Iya Nona, kepala sekertaris bilang, aku disuruh disini karena meja saya paling dekat, jika dia minta apa-apa aku harus membantunya, tapi kebanyakan yang saya lalukan hanya memesankan makan siang atau menulis kartu ucapan. Sisanya saya membantu bagian lama saya."
"Hmm...aku mengerti, bilang padanya Nona Cherrie ingin bertemu, aku tak akan menyusahkanmu." Keadaan kantor yang split dua bagian membuat semua orang di lantai direksi ini harus hati-hati menjaga tindakan mereka. Bisa kubayangkan beberapa saat ini betapa tidak nyamannya suasana kantor ini.
"Baik Nona." Dia mengankat intercomnya ke dalam.
"Nyonya, ada Nona Cherrie ingin bertemu denganmu." Dia mendengarkan. "Iya, Nona Cherrie Wong, Nyonya."
"Nona sihlakan masuk." Akhirnya aku diperbolehkan masuk juga, mungkin dia penasaran apa yang ingin kukatakan.
"Wow, Nyonya, ruanganmu sangat indah." Aku mendapatkan ruangan itu didekorasi hampir seperti ruangan artis wanita, ada patung-patung giok indah, lukisan sang Nyonya, foto-foto dia sedang menyanyi, tamu-tamu negara di panggungnya, sampai ke bunga-bunga yang berada di sudutnya sebagai pemanis. Dia pikir ini ruang pamer atau kantor.
"Apa yang kau inginkan? Kau iri dengan ruanganku? Atau kau kurang kerjaan berkeliaran disini."
"Nyonya, kau tak sopan sekali pada tamu. Setidaknya tawari aku minum.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak omong kosong denganku, katakan apa maumu?" Dia nampaknya tak sabar lagi mendengar aku berbasa-basi dengannya.
"Ckckck, kau ini menawarkan aku teh pun tak mau. Harusnya kau baik hati padaku, misalnya mengundangku ke pestamu besok. Mungkin aku juga berbaik hati menempatkanmu di Singapore, daripada aku menendangmu ke Vietnam sana nanti." Dia tertawa.
"Kau mimpi bisa menendangku ke Vietnam."
"Ohhh mimpi? Benarkah? Daripada kau mengatakan aku bermimpi coba kau pakai telingamu untuk mendengar. Menyiapkan pesta untuk Direktur dan Manager, dasar bodoh, kau pikir mereka dapat mempengaruhi siapa yang menjadi CEO." Sekarang dia menjadi waspada.
"Memangnya apa yang kau bisa lakukan, kau bahkan bersikap sombong menolak Ayahmu sendiri dan lebih memilih keluarga Cheng, kau pikir apa yang dapat dilakukan keluarga Cheng. Keluarga Chow jauh lebih berkuasa dan kaya."
"Ahh dasar Nyonya bodoh, masih saja membela calon menantu yang sudah melarikan diri." Aku tertawa ngakak.
"Melarikan diri? Apa maksudmu melarikan diri."
"Kau pikir kenapa Nathan Chow tidak muncul di kantor dua hari ini. Keluarga Chow jauh dibawah Keluarga Leung- pemilik Hong Lung, dan aku tak perlu menjual diriku seperti kau menjual anal gadismu untuk mendapatkan keluarga Leung. Nyonya bodoh, kau rupanya belum tahu keluarga Chow mendukung Pamanku sekarang, diatas kertas kau sudah kalah telak."
Aku yang gantian tertawa sekarang. Rasakan bagaimana rasanya dipermainkan. Dia mematung mendengarku.
"Kau hanya mengarang semua ini." Dia masih berusaha menyangkal kenyataan dan menyangka aku berbohong.
"Aku mengarangnya? Coba nanti kau telepon Nathan Chow, tanya apa dia berani datang kesini, dia datang ke sini harus meminta izin dariku Nyonya. Astaga kau itu benar-benar kerjanya cuma naik panggung, hura-hura dan pesta Nyonya, diberi sedikit politik tingkat tinggi langsung tak bisa mengikuti."
"Aku tak percaya padamu, tidak satu katapun."
"Terserah padamu Nyonya, jadi apa aku diundang ke pesta buang-buang uang besok? Kau sudah selesai berlagak seperti Santa Claus disini. Tak apa itu uang suamimu, kau habiskan untuk menyenangkan karyawanku sihlakan, malah aku sangat berterima kasih padamu." Aku tertawa ngakak, nampaknya dia sudah tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri bahwa berita yang kubawa tak mungkin bohong.
"Jadi kau mau tinggal di Vietnam atau Thailand? Aku hanya punya dua pilihan untukmu. Kalau kau tak mau ya sudah, jangan berlagak punya kantor disini, karena setelah ini suamimu hanya jadi pemegang saham, keluarga Chan yang menentukan kebijakan utama Shing Heng bersihkan ruangan ini segera, atau dalam beberapa bulan ke depan patung giokmu itu akan kulempar ke lelang dan uangnya kuberikan ke karyawan untuk makan makan. Dan bye-bye untuk anakmu, kukira Nathan Chow hanya memakainya sedikit kemarin. Dasar bodoh, malah bangga dimanfaatkan oleh si bodoh itu." Aku tersenyum lebar sambil memperhatikan ekspresi pucatnya.
Kukira istri tercintanya ini tak akan mau ke Vietnam atau Thailand . Jadi pilihannya adalah jelas. Ayahku hanya akan jadi pemegang saham, karena Paman juga tak mau dualisme dan konflik internal di kantornya.
"Kenapa kau menyesal menghabiskan uang suamimu untuk pesta keluarga Chan. Sudah di bayar bukan? Teruskan saja, sayang jika jadi Santa Clause nya gagal. Setidaknya kau memang punya bakat bersandiwara dengan baik bukan." Jika Mama ada disini dia akan bertepuk tangan dan tertawa bersamaku. Nanti akan keceritakan padanya supaya sakit hatinya selama ini terbayar.
Aku masih duduk di depannya, menikmati raut muka kekalahannya dan kesombongannya yang biasa di perlihatkannya.
"Ini belum semua, di depan ada saat aku akan mengajarimu lebih. Kau sangka kau cantik, kau hebat bisa merebut Ayahku dan mempermalukan Ibuku. Tapi kau akan tahu apa yang bisa anak Wong Lee Man lakukan."
"Kenapa kau dendam padaku karena Ayahmu mencoret kau dan adik-adikmu dari daftar warisan?"
"Jadi kau mengakui itu karena idemu." Aku menentang matanya.
"Itu memang ideku." Aku tersenyum sinis mendengar pengakuannya.
"Kau sangat berani mengakuinya. Kau sendiri yang mengatakannya. Baiklah, aku percaya memang kau yang melakukannya. Kau merasa menang?"
"Aku memang menang."
"Bagus, kau memang sudah melewati batasmu. Aku akan mengurusmu dengan baik. Tapi kuingatkan saja mimpimu jadi istri dari CEO Shing Heng cuma tinggal dua bulan. Jadi jangan terlalu bermimpi tinggi."
"Masih panjang waktu dua bulan, masih banyal hal yang bisa terjadi."
"Kau sangat benar, masih banyak hal yang bisa terjadi Nyonya."
"Suamiku tak akan kalah darimu. Anak tak tahu diri." Dia mencercaku dengan pedas.
"Aku akan membuatmu pindah ke Vietnam."
"Seperti kau bisa melakukannya saja. Aku tak akan kalah darimu. Ibumu saja bisa aku tendang dengan telak. Anak tak berguna."
__ADS_1
Sudah cukup aku mendengar semua kata-katanya. Tak akan kuberikan ampun perempuan ini, dia akan pindah ke Vietnam karena di Hongkong dia tak akan punya wajah lagi.
Dia pikir hanya dia yang bisa bermain drama. Akan kutunjukkan drama yang sebenarnya.