
Papa terlihat di hotel tempat diadakannya pemungutan suara siang ini. Dia nampaknya mengobrol dengan beberapa orang yang dikenalnya. Aku dari pagi sudah berada di sana karena punya kewajiban menyambut tamu kami.
Baru sekarang ini setelah beberapa bulan dia menghilang aku melihatnya lagi. Well, dia tampak baik-baik saja kurasa.
"Papamu, kau tak ingin bicara dengannya." Koko yang menemaniku menunjuk ke arah Papa yang sedang berada di restoran hotel.
"Dia sedang dalam pertemuan. Nanti saja, aku akan mengirimkan pesan padanya."
"Kita bisa menemuinya sekarang kurasa?"
"Tidak, di kamarnya saja nanti. Kita juga masih punya tamu."
Aku menunggu dia selesai mengobrol, rasanya dia tak membawa wanita itu kesini, jadi seharusnya kami bisa mengobrol.
Saat sore kami tidak punya acara selain kami harus muncul di makan malam nanti saat itulah aku meneleponnya. Teleponku diangkat setelah deringan ke tiga.
"Papa, kau istirahat?"
"Cherrie, tidak, hanya duduk di kamar." Suaranya biasa saja, tidak nampak dia marah padaku.
"Boleh aku menemuimu?"
"Tentu saja datanglah kemari. Kau tahu nomor kamar Papa."
"Iya aku tahu."
Aku tiba di depan kamarnya kemudian. Tak lama Papa membukakan pintu untukku.
"Masuklah bagaimana kabarmu."
__ADS_1
"Baik." Aku duduk seperti biasa di sofa kamarnya.
"Kau sudah makan?"
"Sudah, masih kenyang."
"Bagaimana kabar adik-adikmu?" Syukurlah dia masih bertanya kabar anak-anaknya.
"Mereka baik, tak ada masalah apapun." Dia diam sebentar.
"Papa hanya tiga hari disini, kau ada perlu bantuan? Papa memutuskan tinggal di Shanghai mungkin kau sudah mendengar dari Pamanmu." Dia mengatakan itu tanpa ada beban. "Besok Papa serahkan jabatan ke Pamanmu, dan kemudian Papa kembali setelah mengurus tandatangan legal."
"Iya aku tahu."
"Kau bisa mengunjungi Papa jika ke Shanghai, nanti Papa berikan alamat Papa, walaupun tetap Papa ke Hongkong nanti." Dia nampaknya tak marah lagi dengan semua perkataanku. Bibi mengatakan kebenaran, semua kata-katanya waktu itu hanya karena dia emosi.
"Apa yang perlu Papa maafkan, papa juga salah. Yang sudah lalu lupakan saja. Wanita itu tidak bersama Papa lagi, hanya satu anaknya yang tetap dalam pembiayaan Papa. Papa harap kau tak membencinya."
"Tidak, aku hanya tak suka pada wanita itu."
"Nampaknya kau dan Anthony akan segera menikah. Kau terlihat akrab dengannya."
"Iya, kami akan segera mengurus lamaran keluarga tak lama lagi dan acara pernikahan tak lama lagi."
"Dia kelihatannya memang laki-laki yang baik, perusahaan yang dipegangnya bagus, dia kebanggaan keluarga Cheng. Nanti Papa akan coba cari waktu bicara dengannya. Jika kalian sudah menyiapkan acaranya, Papa akan datang tentu saja." Mendengar kata-katanya sangat melegakan.
"Iya, pasti akan kuberitahu Papa kapan acaranya." Aku tersenyum padanya.b
"Papa mendengar gosip kau berkelahi dengan Nathan kemarin? Berkelahi dengan pukulan. Benar-benar di ring?"
__ADS_1
Aku menceritakannya dengan semangat untuk bagian yang itu. Papa tertawa mendengarnya, sama sekali dia tak menyalahkanku.
Dari dulu dia tak marah aku membuat masalah, sampai berkelahi pun sihlakan asal jangan dia yang harus datang menyelesaikannya.
Sihlakan kau mau berbuat apapun, tapi jangan menyusahkan orang tuamu. Itu prinsipnya. Dengan didikan itu aku terbiasa terlatih memutuskan banyak hal dengan hati-hati dengan pikiranku sendiri dari awal. Tapi kau boleh meminta saran padanya, dia tak akan marah. Dia terbuka untuk tukar pikiran.
"Dia kalah berkelahi darimu, laki-laki macam apa yang kalah berkelahi dari wanita."
"Dia pertama dipukul Koko, tapi kau tahu Papa, bahkan dari pukulan pertama dia sudah minta ampun meringkuk di lantai. Jadi aku yang gantian menjadikannya samsak." Papa tertawa , rasanya mendapatkan Papa yang dulu lagi.
"Jadi kau memukulnya sampai akhir 10 menit itu?"
"Ohh Papanya menyelamatkannya awalnya, dia sampai membawa pengawalnya, tapi sampai dia ditunjukkan apa yang dilakukan anaknya, mau tak mau dia harus menerima apa yang dilakukan anaknya."
"Kau berkelahi di tempat siapa?"
"Di tempat latihannya orang-orang Philip Leung."
"Kau tak punya hubungan baik dengan keluarga Chow, tapi malah bisa dekat dengan keluarga Leung, itu bantuan yang sepadan untuk Pamanmu." Sekarang dia memujiku. Aku senang mendapat pengakuannya.
Jika aku berani membuat kekacauan seperti yang dilakukan Nathan dimana harus orang tuaku turun tangan menghadapinya, maka akan ada konsekuensi besar yang harus dihadapi. Pernah sekali waktu sekolah uang jajanku dipangkas 90% selama 3 bulan, menderita sekali, aku berkelahi di sekolah dan Mama dipanggil. Plus dapat ceramah panjang lebar dipanggil bodoh.
Sejak itu aku jadi pintar menggunakan tangan orang lain jika ingin berkelahi. Jika kau berani membuat keributan, menangkan sendiri masalahmu atau pastikan dia tidak bisa mengadu dan membalasmu lagi.
Kami bicara panjang lebar, seakan tak ada masalah apapun lagi didepan kami. Sore itu rasanya menyenangkan.
Memaafkan memang selalu baik. Terlebih keluarga sedarahmu sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1