TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
SEASON 2.Part 20. Day Three - You're Right, I'm Fool


__ADS_3

Aku melihat siapa yang memanggilku dengan lantang. Oliver memasang wajah waspada.


"John Shum! Kau mengagetkanku saja. Bro, bagaimana kabarmu." Astaga kupikir Kent, ternyata hanya teman lama yang tak kutemui.


Senyum lebarnya membuatku ikut tersenyum. Salah seorang teman satu geng dulu. Kali ini aku tak takut yang ini mengadukanku ke Kent karena Shum memutuskan untuk meninggalkan geng dan menjalankan restoran kecil orang tuanya tak lama sebelum Derrick pergi ke luar Hongkong.


"Brother aku merindukanmu. Kenapa kau terlihat begitu gemuk sekarang?" Dia ngakak dan memelukku.


"Kau merindukanku tapi tak pernah memberi kabar. Kau ini memang adik tak tahu diri..." Aku satu-satunya anggota wanita di geng. Brother-brother di sana tak pernah memperlakukanku tidak baik. Aku adalah adik bagi mereka satu-satunya adik perempuan tukang berkelahi tomboy yang mereka sayangi. Aku memeluknya. Tapi aku melihat wanita di belakangnya, aku langsung melepas pelukanku.


"Brother, maaf. Dia istrimu, cece maafkan aku memeluk Brother Shum." Aku membungkuk meminta maaf dan menyalami wanita yang dibelakangnya.


"Ah tak apa, nampaknya kau teman satu geng-nya dulu kan, rasanya aku pernah melihatmu. Berapa lama kalian tak bertemu." Istrinya ternyata cukup ramah.


"Ahhh mungkin delapan tahun atau sembilan. Lama sekali rasanya,..." Kali ini Brother Shum yang menjawab.


"Brother liat dirimu. Betapa maju perutmu itu, nampaknya Cece memasakkanmu banyak makanan enak." Semua orang tertawa sekarang.


"Ahh maaf apa aku menggangu kalian,..." dia melihat Oliver. Oliver berdiri sekarang. Aku hampir lupa mengenalkannya. "Adik Sandra apa ini kekasihmu?" Brother Shum sekarang bertanya padaku.


"Aku Oliver Russell kekasihnya. Senang bertemu denganmu Brother Shum." Dia mengakui dirinya kekasihku dengan tiba-tiba, sesaat aku terpaku menatapnya. Dan dia tak keberatan bicara walaupun agak terbata dengan Cantonese.


"Ahh rupanya kekasih Sandra. Kau beruntung sekali rupanya, menghilang dari Hongkong dan menemukan pria tampan ini. Halo Sir, aku teman lama Sandra, panggil saja John Shum. Kau ternyata bisa bicara Cantonese?"


"Iya, tak terlalu fasih, tapi aku mengerti jika mendengarmu, mari sihlakan duduk, bergabunglah bersama kami. Sandra akan senang sekali mengobrol, kami bahkan belum menyelesaikan hidangan utama." Bahkan dengan baik hati menawari duduk bersama mereka.


Brother Sum dan istrinya akhirnya menerima tawaran Oliver. Aku jadi senang bisa mengobrol dengannya lagi.


"Kau bekerja dimana sekarang. Yang lain mencari tapi tak menemukanmu, sebenarnya kenapa dulu kau tiba-tiba pergi dari Hongkong, semua orang mencarimu saat itu. Kent juga nampaknya mencarimu , tapi semua orang tak tahu kau kemana, kau padahal saat itu manager salah satu klub di Kowloon bukan, kenapa kau meninggalkan posisimu tiba-tiba, seseorang melihatmu pergi katanya tapi tak tahu kau pergi kemana?"


Dulu Kent sengaja memisahkan 3 orang teman yang lain tidak bekerja di dekatku. Sambil mengancamku jika aku menyebarkan soal hubungan kami dia akan mencelakai orang yang kumintai bantuan. Walaupun aku punya teman-teman di Hongkong, aku tak berani menaruh nyawa mereka dalam bahaya.


Kuceritakan semuanya ke Brother Shum. Dia dan istrinya mendengar ceritaku sambil mengertakkan gigi.

__ADS_1


"Ban*gsat Kent itu memang bangsat ternyata. Jadi selama ini itu alasannya kau menghilang, kenapa kau begitu takut padanya, pasti ada cara menolongmu lebih awal jika kau cerita pada kami Sandra. Kita semua saudara, kita akan menemukan caranya jika kau cerita pada kami ..."


"Kakak jika melihat itu bagaimana mungkin aku membahayakan kalian." Aku tak bisa membiarkan mereka yang masih berada di bawa Kent menjadi korban.


"Kudengar Kent ini orang penting di Hongkong, dia menguasai banyak kekuatan di bawah Hong Lung?" Sekarang giliran Oliver bertanya.


"Jadi kekasihmu juga tahu."


"Kemarin aku tak sengaja bertemu dengannya di Jakarta, dia masih berusaha..." Aku tak melanjutkan kata-kataku.


"Bangsat tetaplah bangsat, pantas saja dia tidak menikah sampai sekarang. Siapa yang mau menikah dengan psycho seperti itu. Masalah itu memang nampaknya benar, dia menguasai territori Hongkong. Tak ada yang berani melawannya di Hong Lung Pusat untuk sekarang." Brother Shum melanjutkan.


"Kecuali Derrick yang turun, itupun mungkin cukup sulit, masalah pribadi tak akan mempengaruhi keputusan Boss Besar, harus mengumpulkan bukti untuk menjatuhkannya, jika ada ketidakpuasan dari bawahannya secara umum itu baru bisa diperhitungkan oleh Boss Besar. Dia pernah menyelamatkan istri Philip yang sekarang, Philip berhutang padanya, tambahan lagi sudah lama bersama Philip bahkan dari sejak Philip masih muda, menjatuhkannya tak akan mudah. Tapi membuat dia tidak menggangumu lagi harusnya itu bisa dilakukan jika Ko Derrick turun tangan mengancamnya, kurasa walaupun dia tidak akan mencari masalah dengan Derrick yang sudah masuk delapan kepala bisnis global Hong Lung."


Aku termenung dengan kata-kata Brother Sum, itu benar perlakuan masa lalunya padaku tidak akan berhasil membuat Kent jatuh dari posisi kuatnya sekarang.


"Lain kali dia mencoba aku sendiri yang akan menghajarnya." Oliver nampaknya juga kesal dengan kenyataan ini.


"Jika aku bisa dihajarpun bukan berarti aku kalah Brother Shum."


"Maksudmu apa?" Aku malah takut sekarang apa yang ada dalam pikirannya.


"Sudahlah, cukup kita bicarakan Kent itu. Brother Shum dimana restoranmu, izinkan kami berkunjung nanti." Dia menolak membicarakan Kent lagi dan mencari pembicaraan lain. Kami menyelesaikan makan siang dengan pembicaraan menyenangkan kemudian dan melupakan Kent.


"Kau tinggal disini lama?"


"Aku hanya sedang menemani Oliver disini, nanti aku akan kembali ke Jakarta lagi."


"Jika dia berani menganggumu lagi, kau harus bicara dengan Derrick, kau dibawah dia secara langsung sekarang, jangan tunda lagi. Kent belum punya keberanian begitu besar melawan Derrick yang sekarang kurasa..."


"Iya baiklah, aku akan menuruti nasehat Brother." Kami berpisah kemudian dan bertukar nomor telepon.


"Kenapa kau mengakuiku sebagai kekasihmu. Kau harusnya tidak perlu melakukan itu." Kami sudah duduk di mobil saat aku menanyainya dengan serius.

__ADS_1


"Tadinya aku berpikir dia mungkin saja mata-mata Kent, jika Kent tahu kau sudah punya kekasih mungkin dia akan berpikir 2x untuk menyentuh kekasihku, dia akan menyelidiki siapa aku sebelum bertindak. Apa itu menganggumu?" Ternyata itu maksudnya.


Menggangu, itu kata yang tidak tepat nampaknya. Bagaimana aku terganggu dengan orang yang ingin menolongku.


"Aku hanya takut kau celaka Oliver. Tidak, bukan aku merasa menggangu, aku hanya tak ingin kau terbeban. Bukan aku yang melindungimu malah kau yang nampaknya melindungiku sekarang. Kau memang teman yang baik hati... Terima kasih sekali lagi Oliver."


"Itu manis, kau ternyata mengkhawatirkan temanmu ini. Terima kasih. Jadi jangan khawatir lagi, selama ada aku kau akan aman." Aku tersenyum padanya.


Kami hanya bersama 30 hari sebagai catatan, aku aman untuk 30 hari. Jika aku kembali nanti aku akan cerita ke Ko Derrick. Ko Derrick akan mengancamnya untukku. Benar kata Brother Shum, dia tak akan berani melangkahi kewenangan Derrick di wilayah berbeda.


"Baiklah terima kasih lagi Oliver, kau teman yang baik. Terima kasih sekali lagi. Tapi jangan mengambil resiko untukku oke. Nanti setelah pulang ke Jakarta, aku akan menuruti saran Brother Sum untuk melapor ke Ko Derrick, dia pasti bisa menemukan jalannya untukku.


Dia diam saja setelah mendengar perkataanku, entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.


"Oliver, kenapa kau diam saja?" Dia menghela napas panjang dan melihatku.


"Tidak, aku hanya merasa dikalahkan sebelum bertanding."


"Maksudmu? Dikalahkan siapa?" Oliver tertawa dengan pertanyaanku. "Jangan mencoba melawan Kent Oliver, kau melawanku saja kalah, jangan mencoba melawan Kent, dia berani mengirimku seorang perempuan ke rumah sakit, kau pikir dia akan segan padamu, berjanjilah padaku kau tak akan mencoba mendatanginya. Itu berbahaya." Dia kembali tak menjawabku hanya menatap lurus ke jalanan.


"Oliver? Kau dengar aku. Jangan coba-coba menantang Kent. Biar Ko Derrick yang mengurusnya. Kau jangan membahayakan dirimu sendiri." Aku menguncang bahunya sekarang. Tapi dia tak menjawabku.


"Kita pergi menonton saja bagaimana...."


"Kau belum berjanji." Aku takut dia mencoba hal-hal bodoh.


"Aku tak akan mati, paling terluka dan masuk emergency semalam. Apa kau akan menangisiku kalau aku di emergency." Dia malah mengajakku bercanda.


"Oliver kau jangan bodoh! Kenapa kau harus melakukan hal yang tidak masuk akal seperti itu." Aku sekarang tak mengerti apa yang dipikirkannya.


"Kau memang benar, aku bodoh."


Astaga para pria ini, apa mereka selalu berpikir kekerasan adalah hal baik untuk menyelesaikan masalah?!

__ADS_1


__ADS_2