
Daerah yang kami tuju itu dengan hampir 3 jam perjalanan itu masih penuh dengan vegetasi semak belukar dan hutan hujan tropis walaupun 2 km di depan ada jalan aspal tembus tapi aku yang terbiasa dihadapkan dengan hutan beton melihat daerah ini tak terbiasa juga.
Geologists surveyor yang bekerja sudah membuka jalan perintis terlebih dahulu, ditambah dengan daerah ini sudah dibeli oleh investor, medan yang agak mendaki itu tak terlalu sulit ditempuh harusnya. Tapi sialnya ada hujan lebar ternyata sebelum kami datang.
"Astaga, jalan yang kita buka menjadi jalur air sekarang." Aku menyumpah panjang pendek dari tadi.
Nguyen memang sudah menyiapkan boot tapi kami harus berjalan pelan sekarang, harusnya maksimal setengah jam kami mencapai lokasi tenda tapi sekarang kami seperti semut melawan air yang datang dari atas.
"Hati-hati dengan semua pijakan Tuan Oliver, pakai kayumu..." Kami semua membawa kayu dan menancapkannya ke tanah sebagai pijakan. Jika dia terguling ke bawah aku tak yakin Nguyen yang jauh lebih pendek dari dia itu bisa menahan lajunya di belakang.
"Masih jauh?"
"Kita baru setengahnya... Dan langit sudah gelap lagi. Tapi lebih baik kita basah daripada terguling ke bawah."
"Setuju, ayo jalan saja pelan-pelan ..."
Aku terlalu cepat naik di sebuah jalan curam, sudah hampir sampai harusnya. Pijakan licin dan meleset sebelum aku sempat berpegangan tongkatku yang belum tertancap sempurna
"Awas!" Dia menahanku di belakang, ternyata untuk hal hiking dia pijakannya lebih kuat dari padaku. Kali ini dia yang menolongku bukan aku yang menolongnya.
"Gosh! Thanks!"
"Usahakan kau punya pegangan dulu, ini curam sekali."
Tak lama kami sampai, kemarin mereka membangun sebuah bangunan semi permanen untuk pelindung genset, selain dua tenda besar yang bisa menampung 10-16 orang sekaligus untuk surveyor lahan.
__ADS_1
"Ahhh pondoknya sudah jadi." Kami jadi punya listrik dan air disini. Tidak buruk.
"Oh mereka bahkan sudah mengebor sumur disini."
"Pantainya di depan sana." Aku menunjuk arah, dia melihat arah kompas di jamnya. Sampai disini aman, dia mulai bekerja bertemu surveyor lokal, melihat foto dan data yang mereka ambil, dia bekerja dibantu Nguyen membantu menerjemahkan untuknya, sementara aku membereskan bawaan kami , untungnya cuma hujan gerimis kemudian, matahari menunjukkan dirinya kemudian, membuat cuaca lebih bersahabat untuk kami.
"Sir makananmu, ..." Orang Nguyen ternyata sudah mengantarkan makanan kesini. Nguyen mengatur orangnya untuk membuat kami tak usah khawatir soal makanan.
"Terima kasih." Dia sedang ngobrol dengan para surveyor, aku dan Nguyen membagikan makanan dari restoran lokal ke mereka, orang yang jumlahnya tidak lebih dari 10 semuanya mulai makan siang.
Dari perjalananku tadi aku sempat meriset tentang Oliver Russell ini, selain firmanya adalah firma arsitek kenamaan, baru kutahu karya-karyanya, bahkan namanya ada di mesin pencari, pantas saja Bos Besar Philip menghargai arsiteknya ini, mungkin dia mengagumi rancangannya.
"Sandra, ayo temani aku kita ke bawah, ..." Dia mengajakku ke pantai. Sambil membawa map kertas, yang nampaknya sudah agak lusuh dipindah tangankan. Entahlah itu mungkin laporan contour tanah dari surveyor.
"Oke." Aku menerobos jalan menurun ke bawah, melalui semak-semak belukar sambil berpegangan ke sana. Untuk sampai ke sebuah pantai berpasir putih yang masih belum tersentuh sebuah teluk kecil yang indah dengan laguna biru jernih.
Pantai kami menghadap ke barat, matahari mengenai kami, aku membayangkan tempat ini akan jadi tempat melihat matahari terbenam dengan balkon-balkon menghadap lautan seperti di Six Sense.
Aku menungguinya dari jauh dengan tenang. Dia duduk dipasir pantai membuka tabletnya disana, aku juga duduk, menungguinya bekerja dengan pikirannya. Mungkin satu saat setelah selesai aku bisa kembali ke sini dan melihat apa hasil akhirnya.
Dua jam kemudian matahari sudah memerah, dia berjalan ke arahku nampaknya pekerjaannya sudah selesai.
"Sudah Sir, kau mau kita kembali? Jika terlalu gelap kita akan cukup kesulitan naik ke atas." Aku tetap memanggilnya Sir.
Dia tak menjawab hanya duduk disampingku, masih cukup terang kurasa, jika dia mau duduk aku bisa menunggu.
__ADS_1
"Kau tahu semalam aku berpikir tentang apa yang kaukatakan. Membawa dendam masa laluku ke depanmu, hanya kau yang bisa mengatakan itu. Yang lainnya mengatakan aku playboy kaya. Nampaknya kita sama bukan,..."
"Aku bukan dendam, hanya mungkin lingkunganku tidak memberiku kesempatan, aku punya banyak pengalaman buruk soal hubungan, aku lebih suka sendiri tak menyentuh api. Tapi kau, kau punya segalanya, mungkin seseorang mengecewakanmu begitu dalam sehingga kau menyamakan semuanya, kau tak pernah memaafkan satu orang, lalu kau menyalahkan semua orang. Kau dan aku di wilayah yang berbeda Tuan Russel." Aku tersenyum padanya lalu mengalihkan pandanganku ke pemandangan pantai di depan kami lagi.
"Itu memang salah, aku minta maaf." Aku tersenyum untuk pertama kalinya secara tulus padanya.
"Dimaafkan. Aku juga minta maaf sudah menceburkanmu ke kolam." Dia tertawa.
"Aku memang bangs*at, ... kau menanggapiku dengan tegas, tapi gadis lain biasanya bertindak berbeda." Aku mengangguk. Bisa kubayangkan apa yang dikatakannya.
"Hmm... ya sudah ku katakan aku bukan species yang sama."
"Ckckck... baiklah species pertapa, kau memang berbeda denganku." Sekarang aku yang tertawa. "Jadi bagaimana kita sudah saling memahami satu sama lain, ayo kita kencan." Aku tak percaya apa yang kudengar.
"Kau memang bangsat sejati, aku menyesal kasihan denganmu!" Kukibaskan pasir yang melekat di celanaku dan berjalan menjauh darinya.
"Ohhh ayolah Sandra...." Aku menatapnya dengan sebal dan mengacungkan jari tengahku ke belakang tanpa melihatnya.
"Cepat kembali ke atas, atau ada harimau melahapmu disini. Semoga ada yang menghampirimu." Kukatakan itu sambil berjalan menjauh.
"Kau bercanda mana ada harimau disini."
"Yang lebih tahu kau atau aku?! Semoga kau sudah menyiapkan wasiatmu jika begitu."
Kutinggalkan saja dia, nampaknya dia berhasil kutakuti juga karena dia menyusulku ke atas. Bodoh juga, mungkin belum mau mati muda. Petualangan cintanya nampaknya belum selesai.
__ADS_1
Dasar playboy dari bakat dari lahir.
Tak usah mencapnya baik, dia pure badboy! Evil! Don Juan Bastard!