TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 55. Mawar dari Para Pengagum.


__ADS_3

Koko bilang dia khawatir? Dia tanpa sadar mengatakannya, mengusahakan banyak hal untukku. Bahkan tidak keberatan aku menyenderinya begitu. Semalaman kemudian aku tak bisa tidur karena bahagia. Bodoh! Aku merasa bodoh kerena cinta, tersenyum-senyum  sendiri seperti orang gila memasuki lobby kantorku. Sepanjang minggu ini rasanya hariku lebih berwarna, walaupun dia tetap masih belum mengatakan apapun kejadian malam itu setidaknya membuktikan sesuatu, bahwa kesabaranku selama ini membuahkan hasil.


“Nita,...”  Boss-ku rupanya datang pagi hari ini, dia menyapaku.


“Pak Boss, pagi pak.” Aku tersenyum padanya.


“Seneng kayanya pagi ini senyum-senyum aja?” Aku tertawa menjawabnya.


“Baru dapet lotere semalem pak.” Dia ikut senyum-senyum saja sekarang.

__ADS_1


“Bisa bicara sebentar. Kerjaan kamu udah hampir semuanya selesai  bukan, tinggal penawaran baru?”


“Iya Pak, tinggal finalisasi semua dan penawaran baru.” Aku mengikutinya ke kantornya. Tumben sekali dia mengajakku bicara entah ada apa sekarang. Kita dengarkan saja.


“Saya sebenarnya ingin membuka rumah produksi baru, kita sudah punya landasan kesana yang kuat kesana. Saat di rumah duka saya kenalan dengan Ayah kamu dan kemudian ngobrol, saya kemarin sempat ke HK untuk bicara lebih  lanjut, sambil membawa proposal saya. Hasilnya mungkin Papa kamu akan mengirim tim penilai kesini untuk menilai kondisi perusahaan.” Ternyata begitu.


“Ohh begitu. ” Jadi apa yang diduga Ko Derrick benar. “Sebenarnya Papa kemarin memang  sedikit bertanya kepada saya tentang perusahaan ini. Saya menganggap selama delapan tahun saya bekerja disini, saya yakin dengan perusahaan ini. Pun dengan kepemimpinan dan visi Bapak bagus, semoga Bapak bisa melewati tim analis Papa saya.” Aku memang mengatakan  hal bagus soal perusahaan ini, dimasa depan perusahaan ini akan semangkin berkembang.


“Kalau Bapak gak dapet investasinya, apa saya masih boleh bekerja disini.” Dia langsung tertawa.

__ADS_1


“Astaga, bagaimana  saya melepaskan kamu, kamu asset  dikantor ini.”


“Saya sangat senang bekerja di bidang kreatif Pak. Ini sudah jadi pilihan karier saya. Semoga saya bisa membantu perusahaan ini tetap  berkembang. Saya tidak bisa mengintervensi keputusan Papa saya sendiri sayangnya, tapi saya berharap Bapak berhasil.”


“Tentu saja, kita akan berkembang dan menjadi salah satu top-nya. Bantuan kamu sudah cukup, syukurlah saya dapat penilaian plus dari kamu, jika kamu menilai saya jelek sudah selesai kesempatan saya...” Kami tertawa bersama. Aku senang, Papa memikirkan banyak hal. Dia membiarkan aku di Jakarta tapi mengusahakan meninggalkanku dengan posisi solid di bidang di mana aku membangun karierku.


Menjelang siang tiba-tiba Yenni mengetuk pintuku.


“Tata sayang, lihat nih ...” Dia berdiri dengan dua pot bunga rose pink dan satu lagi campuran pink dan orange yang belum pernah kulihat.

__ADS_1


“Astaga cantik sekali. Buatku?” Aku menghampiri dua bouquet mawar besar itu.


“Ehm..ehm, ini datang atas namamu tentu saja. Bagaimana aku bisa mendapatkan ini jika tidak atas namamu. Ada kartunya, coba buka siapa...” Yenni menaruh itu di mejaku sementara aku membuka kartunya, aku punya tebakan siapa yang mengirim ini tentu saja. Begitu aku membukanya aku bisa pastikan tebakanku, Andrew dan Benny. Yang berwarna pink ini pasti dari Andrew, dan yang suka merah menyala ini pasti Benny. Besok akhir pekan, mereka pasti punya maksud mengajakku hangout dengan memberiku bunga ini, anak-anak orang kaya ini, mereka punya banyak uang untuk  menghadiahi wanita buket bunga mahal.


__ADS_2