TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA

TAWANAN GAIRAH CINTA SANG DUDA
Part 27. Berat Meninggalkan 1


__ADS_3

Semua upacara pemakaman selesai jam 10. Papa dan Tante Yun ikut sampai akhir.  Semua orang sudah pulang, Ko Derrick membawa mobil sendiri, mengantar kami ke apartement kami. Aku duduk diam bersama  Tante Yun Lan, dia dan Tante empat hari terakhir ini berlaku sebagai penganti Mama, menghiburku sebisa mereka, tapi kehilangan seseorang tidaklah semudah itu rasanya.


“Tata, Tante dan Papa nginep sama Tata ya?” Tiba-tiba Tante Yun bicara padaku.


“Apartment saya kecil Tante, lebih baik Tante dan Papa   di hotel.”


“Ga pa-pa, kami bisa. Papa dan Tante ingin menemani kamu saja. Sekalian kami sudah disini. Kami tidak akan menyusahkan. Tante tidak anti bersih-bersih... ” Aku tersenyum padanya.


“Tante baik sekali, terima kasih. Tapi apartmentku memang cuma dua kamar, kamar Mama belum dibersihkan.Kamarku ranjangnya hanya single. Gimana Papa dan  Tante bisa tidur disana. Aku baik-baik saja.”


“Kalau begitu Tante bantu kamu berberes oke, nanti malam baru pulang ke hotel. Tante tidak punya anak perempuan. Cuma dua orang anak laki-laki yang sudah lepas kuliah, mereka punya dunia  mereka sendiri, sebenarnya Tante kesepian, jika di rumah hanya  beberapa orang dirumah.” Dia bicara pelan padaku. Aku tersenyum padanya. “Jangan menganggap Tante orang lain mulai sekarang. Okey...”


“Terima kasih.”


“Jangan  berterima kasih  kita keluarga.”


“Derrick, kau sudah mengurus semuanya. Terima kasih.” Papa menepuk bahu Ko Derrick.


“Sudah harusnya Ko.” Walaupun Ko Derrick tidak bisa datang di jam kerja, malam dia selalu datang. Dan hari ini dia bahkan ikut penguburan sejak pagi. Tadinya kami mau diajak makan malam sama Ko Derrick, Mama udah seneng tapi ternyata gak pernah terjadi.

__ADS_1


Kami sampai ke apartment, makanan yang dipesan untuk tamu masih sisa banyak, kami membawanya ke atas, merapikannya. Aku melihat rumah yang sekarang kosong ini, rasanya masih ingin melihat Mama duduk di meja makan ruang tengah kami  dengan gelas tehnya.  Aku duduk disana sesaat, mataku memanas lagi.


“Jangan melamun,...” Tante Yun Lan melihatku duduk begitu saja dan terdiam menepuk bahuku lembut. “Kamu mau istirahat aja? Gimana kalau  kamu istirahat dulu, kita sore jam empat balik ke sini ya.”


“Iya Tante,...” Aku mengangguk.


“Kamu ada perlu sesuatu? Ditinggal gak apa.”


“Gak Ko, cuma perlu tidur siang aja. Cape sampai sini.” Dia melihatku. Mungkin kasihan meninggalkanku sendiri disini. Tapi aku tetap harus melewatinya juga sendiri.


“Ya sudah. Telepon aja kalau ada perlu.” Dengan pesan itu semua orang meninggalkanku sendiri.


Semua orang pergi, aku mencoba tidak memikirkannya. Membersihkan rumah hingga cape, mandi, mencoba untuk tidur sambil tetap menangis mengingat Mama. Tapi akhirnya aku bisa beristirahat dengan  walaupun mata bengkak.


“Ta, kamu pengen ikut Papa ke HK?” Aku langsung melihatnya dengan heran.


“Akhir bulan depan kan Pa.”


“Maksud Papa, kamu ikut kita ke HK, kerja disana.” Tante sekarang menjelaskan padaku.

__ADS_1


“Engga, Mama disini, Tata tidak mau ke HK.” Aku langsung menjawab mereka. Papa dan Tante Yun Lan berpandangan.


“Kamu sendiri disini, lebih baik kamu ikut Papa ke HK.”


“Dari dulu  juga kita sendiri Pa...” Aku terdiam sebentar,  aku terlalu keras bicara sekarang. Papa dan Tante Yun Lan terdiam. “Tata disini saja, Tata punya karier disini. Tata bukan anak kecil, bisa mengurus diri sendiri...”


“Begini saja, memang tak bisa diputuskan langsung begini. Kamu masih sedih, masih ingin mengingat Mama. Papa dan Tante khawatir sama kamu, kan nanti kamu bakal kesana dua minggu bulan depan, coba nanti kamu lihat dulu ya... Di Hongkong itu banyak orang Indonesia kok, pegawai  di rumah saja ada yang dari Indonesia. Kamu juga bisa sering balik sini, Papa punya bisnis di sini, bisa kamu yang belajar ikut mengawasi, bisa sering pulang kesini.”


Aku diam, aku tahu maksudnya. Tapi rasanya seperti meninggalkan Mama begitu saja. Aku tak ingin pergi dari sini.


“Tata baik-baik saja. Papa dan Tante sudah menemani Tata berkabung sudah cukup. Nanti Tata bulan depan sudah janji ke Mama bakal ke HK, Tata pasti datang, sama Ko Derrick juga perginya. Papa dan Tante gak usah terlalu kuatir. Masih ada Tante Yuni di sini.”


“Ta,...” Papa terlihat masih ingin bicara lagi. Tapi Tante Yun memotongnya.


“Ya udah kita omongin pas kamu sudah liat HK nanti, tapi kamu harus janji dua minggu seperti yang kemarin oke. Kalau kamu bohong Tante sendiri yang kesini jemput kamu.” Nampaknya mereka benar-benar ingin aku pindah ke HK. Tapi tante Yun Lan ini memang  bersikap sangat baik padaku.


“Aku sudah janji sama Mama Tante, Papa dan Tante harus balik. Tata juga akan kerja lusa.”


“Tante Yuni kamu itu di Tangerang, 3 jam kalo macet belum sampai  tengah kota,kamu sendiri, gini aja kamu harus ada satu orang pembantu dirumah, Papa kasih kamu bulanan lebih ...” Papa masih merepet. Dia mungkin  khawatir aku sakit karena sedih atau semacamnya.  Papa baik, tapi dia tidak tahu menemukan pembantu juga kadang sulit yang cocok.

__ADS_1


“Iya-iya Pa,...” Kuiyakan saja dia. Semua orang tua  menganggap anak mereka anak kecil nampaknya. Bahkan Tante Yun Lan menganggapku begitu. Apa semua budaya Asia sama, selama aku belum punya anak sendiri aku akan tetap dianggap tidak tahu apa-apa, persamaan pangkat kehidupan hanya berlaku dengan cara aku harus memiliki anak sendiri di depan para orang tua ini? Ini tidak adil.


“Rumah Derrick 15 menit dari sini.” Tiba-tiba Tante Yun bicara. Papa melihat istrinya.


__ADS_2