
POV OLIVER
"Senang bertemu denganmu lagi Tuan Oliver." Dengan kata-kata itu dia berbalik meninggalkan ruanganku.
Di pikirannya dia memikirkan hal yang terburuk tentangku. Tak ada sedikitpun dia punya prasangka baik sekarang. Dia bahkan membacakan pasal kontrak soal s*exu*al hara*ssme*nt dan esc*co*rt g*irl didepanku panj*ang lebar, nampaknya dia menghafal isi kontraknya dan terang-terangan menuduhku akan memanfaatkannya. Baru datang dia sudah menudingku! Dia tak segan-segan menu*ntutku dengan pinalti nampaknya.
Tak bisakah dia berpikir, jika aku mau melakukan seperti yang dia katakan banyak cara yang bisa kulakukan, kenapa harus dia, kenapa aku mencari masalah membawanya jauh-jauh dari Jakarta dengan kontrak pengawalan prib*adi. Apa tidak sedikitpun dia punya prasangka baik padaku?
Dan bodohnya aku, aku merasa tak keberatan. Dia menghilang dari depanku, tapi aku sudah ingin melihatnya lagi. Kutukan ini, kali ini aku malah ingin mengejar ke gadis yang memb*enciku setelah bertahun-tahun tak merasa bisa menerima seseorang pun. Bagaimana ini bisa berhasil?
Aku turun saat jam 10, dia sudah menungguku di lobby kantor.
"Selamat malam Sir Oliver. Kita pulang ke rumah?" Dia mem*aka*i sikap formal menghadapiku, bahkan dia memakai kem*eja kerja formal untuk menjemputku.
"Aturan nomor satu, kau memanggilku dengan nama Oliver. Apa memanggilku dengan Oliver melanggar isi kont*rak, jika itu melanggar kita panggil pengacara besok untuk berdebat di depannya?" Dia meringis melihatku. Aku tak masalah bertengkar dengannya asal dia tidak pergi dari sampingku dalam 30 hari ini.
"Oke Oliver. Kau p*ua*s."
"Kita pulang." Dia menjalankan mobil dengan tenang. "Kau sudah makan."
"Sudah."
"Apa yang kau makan tadi."
"Kenapa kau mau tahu?" Lima menit belum lewat dia sudah mengajakku bertengkar. Demi Tuhan itu hanya pertanyaaan normal! Kau makan apa tadi?! Astaga! Kenapa Tuhan menghu*kumku tert*arik pada gadis sesulit ini.
"Apa menanyakan kau makan apa termasuk pelanggaran perjanjian lagi?" Dia menghela napas. Nampaknya dia sangat mudah terpancing marah hanya dengan aku bertanya padanya. Apa dia begitu membenciku. Lalu kemarin kenapa dia men*ci*u*m pip*iku.
"Sorry, aku salah. Cuma nasi karinya di restoran Su*n King Yuen, di Spring Garden Lane, itu enak. Kau tahu restoran itu?" Akhirnya dia bicara dengan normal.
"Ohh aku pernah makan itu, memang enak. Kau suka, nanti kapan-kapan kita kesana."
"Iya, boleh." Dia melihatku. "Kenapa aku merasa pekerjaan pengawalan ini jadi mungkin setengahnya akan menjadi menemanimu mengobrol dan makan? Bukankah kau harusnya mengatur bagaimana aku harus bekerja."
"Apa mengobrol dan makan menurutmu termasuk melanggar kontrak?"
"Tidak."
__ADS_1
"Ya sudah." Nampaknya tindakan apapun aku harus berpegang pada apa ini akan melanggar kontrak. "Sudah berapa lama kau tak kembali ke Hongkong."
"Lima tahun kurasa..." Aku mendengar ada nada sedih ter*seli*p di ceritanya. Kenapa sampai lima tahun dia tak sekalipun kembali, kurasa itu terlalu lama. Bagaimanapun dia lahir disini.
"Itu lama..."
"Iya lama." Dia memergokiku sedang memandanginya.
"Kenapa kau kelihatannya begitu menghindari kembali ke sini? 35 tahun kau hidup disini, tapi setelahnya kau tak ingin kembali sekalipun. Kau ada masalah yang kau hindari?" Dia diam.
"Tidak.... hanya tak ingin kembali." Dia punya masalah disini, itu terlihat jelas, tapi untuk bercerita dia punya nol persen level kepercayaan padaku.
"Kenapa kita tak membahas pekerjaanku sekarang, apa jadwalku besok. Jadi apa yang kau ingin kulakukan besok?"
"Apa jadi supir sementaraku melanggar kontrak." Dia tertawa kecil. Aku memang tidak punya pekerjaan tetap untuknya sebenarnya. Tidak mungkin aku menyuruhnya menungguiku di kantor.
"Tidak."
"Apa menemaniku makan dan ngobrol termasuk pelanggaran kontrak?"
"Tidak, kecuali kau melakukan se*ntu*han fi(sik. Dan mengatakan hal yang tidak menyenangkan, mer*em*ehkan, mere*nda*hkanku. Sebenarnya apa yang ingin aku lakukan Oliver?"
"Baiklah, kau membaca pasalmu rupanya, bagaimana kau akan menggunakan pasal itu?" Dia mengemudi tapi sekaligus mendengarkan aku dengan jelas.
"Mudah, untuk beberapa minggu ini, kau menjadi partnerku dalam acara yang kuberikan padamu nanti. Minggu depan aku akan ke Vietnam selama kurang lebih satu minggu dengan tim. Dan aku sudah bicara pada bossmu, Philip sendiri, dia memang bilang tak ada masalah untuk menjadi part*ner seperti itu selama tidak ada pema*ksaan se*xu*al co*nsent. Untuk di Hongkong aku perlu banyak part*ner di acara-acara. Plu*s sopir pribadi prib*adi sesekali. Nanti sekert*arisku akan memberikan rincian acaranya, dan jika kau tak punya b*aju, beli saja dengan kartu yang kuberikan padamu." Dia diam mendengarkan tugasnya.
"Apa kau tak setuju, karena jika tidak kita bisa menelepon bossmu dan bertanya padanya." Kujamin dia tidak berani langsung membantah Boss besa*rnya.
"Kau sudah merencanakan ini dengan baik bukan." Aku meringis, tersenyum melihatnya dengan berbagai pikiran rumit di kepalanya. Mendapatkan kepercayaannya tak akan mudah. Entah kenapa aku mau menjalani ini, tapi rasanya ini jauh lebih baik daripada mendapatkan wanita yang tersenyum padamu tapi memperhitungkan segala sesuatunya.
"Kau tak punya pacar tetap Oliver, kenapa kau perlu aku sebagai partn*ermu. Wanita yang meneman*imu di Bali itu, blon*de itu sangat can*tik, jika kau membawanya sebagai p*artnermu orang-orang akan iri padamu. Kenapa kau mempersulit dirimu sendiri." Kenapa aku mempersulit diriku sendiri.
"Aku sendiri tak tahu. Mungkin aku hanya ingin mencari teman melihat bintang jatuh."
Dia diam dengan jawabanku.
"Apa kau semacam pera*yu ulun*g..." Aku terkekeh. Apapun jawabanku dia selalu bisa mencari mo*tif terburuk.
__ADS_1
"Teman-temanku bilang aku berbakat merayu." Gantian dia yang terkekeh. Nampaknya mendapatkan bagian terburukku adalah kese*na*ngan baginya.
"Kenapa kau berce*rai?" Tiba-tiba dia bertanya pertanyaan serius.
"Istriku seling**kuh dengan temanku. Pernik*ahan lima tahun, kami sepakat kami child free, tapi kemudian dia ternyata ham*il anak temanku. Ya, apalagi yang harus dilakukan..."
Dia diam saat aku mengutarakan masa laluku.
"Kau pindah ke Hongkong karena itu?"
"Ya karena istri dan temanku itu sekantor denganku. Aku tak bisa melihat setiap sudut kantor uang beri*si kebohongan mereka."
Kami diam, mo(odku juga jatuh ke dasar karena dia mengajukan pertanyaan itu.
Sesaat dalam bagian hidupku itu aku juga jatuh dalam ketidakpercayaan kepada wani*ta sepenuhnya, mungkin efeknya masih terasa sampai sekarang. Aku tak pernah percaya pada wanita yang bersikap manis lagi, ot*akku langsung berpikir apa yang ada di balik kata manis dan senyum itu, aku membandingkan semuanya dengan sikap teman dan istriku.
Dan karena itu, sekarang aku baru sadar kenapa aku percaya dan bisa menyukai Sandra, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku benar-benar melihat seorang wanita mengutarakan semuanya terang-terangan, dia satu-satunya yang terang-terangan menganggapku buruk dan memben*ciku sejak awal, dia tak punya terselub*ung mendekatiku.
Aku terta*rik padanya, karena pertahanan pikiranku tak bekerja di depannya. Dia apa adanya, mengatakan padaku semua pikirannya padaku, kadang tak bisa menah*an diri mengajakku bertengkar seketika.
Aku percaya padanya, walaupun dia menggangapku orang terburuk di dunia. Sementara wanita lain mendekatiku dengan sikap man*is. Aku secara alami sudah memasang pertahanan dan membalas memanfaatkan mereka.
"Sorry, aku tak bermaksud mengingatkanmu..." Dia tahu minta maaf juga ternyata.
"Aku juga hanya kembali ke Dallas setahun sekali mungkin, kadang malah mengajak Ibu dan Ayah menghabiskan Natal di kota lain. Sama sepertimu."
Sampai kapan aku seperti ini? Mungkin sampai aku mampu melepaskan sakit hatinya dan menganggapnya tak lebih dari chapter hidup. Keben*cian dalam hatiku yang tak sembuh, melahap hidupku terlalu jauh bertahun-tahun belakangan.
Entah kapan aku bisa memaafkan mereka. Aku juga tak tahu.
\=\=\=\=\=\=\=
Maaf tulisa*nnnya kebanyakan dibinta*ngin
Filte*r N*T ini sekarang entah nambahin kata apa yang bikin gak lolos filter, sering banget gak lol*os filt*er kata sekarang
Pend*ing nyang*kut bs ampe sen*en ini, mesti nunggu ed*itor appr*ove
__ADS_1
Penge*n menc*ak2 tiap kali liat filter nyari kata apa yg gak lolos tiap kali.
Nanya kata umum apa yang kena filter gak dikasih tahu jadinya bintangin aja semua. Isshhhh kesel